Feeds:
Pos
Komentar

Bismillah, curhatanku


Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Diketik dikala hati diselimuti rindu yang dalam, entah sedalam apa.. bilangan Cilandak Jakarta Selatan, ketika jam pulang kantor.. sudah sepi..

 

Ada rasa kangen, bahkan ndak bisa diterjemahkan kedalam bahasa manapun..

Menjalani hari ini terasa berat, entah apa yang sedang terjadi..

ketika hati ini ingin menyampaikan kebaikan, akan tetapi dilain hati terasa buruk, salah.. entahlah..

Memang manusia itu tempatnya salah dan lupa, saya harus belajar tabah melihat sekeliling yang penuh fatamorgana. Apapun itu rasanya, cukup hati dan Allah yang tau akan perasaan hati serta fikiran hambaNya.

 

Ya Allah, andai saja mulut ini pandai berbicara, apakah Engkau akan membawanya pada banyak kebaikan, atau malah dalam keburukan?

Jaga mulut, langkah, serta hati hamba ya Robb.. hamba sangat merindukan kasih sayang Mu, Engkaulah satu-satunya yang tau hati serta fikiran hamba..

 

Alhamdulillah ya Robb, atas segala nikmat iman dan sehat Mu yang diberikan pada hamba, keluarga hamba, dan saudara-saudara seumat muslim di atas muka bumi Mnu yang penuh keberkahan ini.. sembuhkanlah hati-hati yang sakit, damaikanlah ketika hati itu dipenuhi dengan dengki, khususnya hamba, dan untuk semua makhluk Mu, aamiin ya mujib…

 

 

 

Medio Sapa Akhir November 2014

Tertanda,

 

 

Neng Tari Khairunnisa

 

 

 

 

 

 


Bismillaahirrohmaanirrohiim…

 

Diketik pada jam istirahat kantor, bilangan Cilandak Jakarta Selatan, tepatnya di Gedung Talavera Office Park.

Tepatnya 3 hari yang lalu, saya berulang tahun. Ucapan pertama yang saya dapatkan dari seorang pria yang saya kagumi kepribadiannya. Dia begitu teduh, kala mata ini memandang. Dia juga pria yang baik dimata keluarga saya. Saya mengerti akan kondisinya saat ini, saya akan sabar menunggu hari indah itu tiba. Saya dan keluarga sangat senang dengan adanya silaturahmi dengannya. Dia yang mengajarkan saya untuk sabar, sholawat, mengingatkan saya sholat, mengingatkan tiap pagi untuk hati-hati berkendara di jalan, dia yang selalu beri support, dia yang sangat istimewa dihati saya.

Ya, pria yang romantis ketika dia memberi saya sebuah Al-Qur’an beserta terjemahannya, setangkai bunga mawar putih, cokelat, note doraemon ketika ulang tahun saya, kue ulang tahun yang sangat indah, terlebih penting dari itu semua, dia selalu ada disamping saya, jaga selalu ia dalam lindungan Mu ya Robb… biarkan semua indah dengan cara Mu mengijinkan kami untuk jadi pribadi yang lebih baik.

Saya sengaja tidak mempublish Tanggal Ulang Tahun saya, karena banyak moment kesedihan yang saya lewati saat itu juga, saya baru saja kehilangan sepupu yang sangat saya sayangi, almarhumah Sri Rahayu bin H. Mutta, dia sosok perempuan sekaligus ibu yang sangat baik untuk anaknya, Muhammad Yusuf. Selama saya mengenalnya, tidak ada sedikitpun kata mengeluh. Dia kerjakan dan merawat anaknya dengan cara kasih sayang dia sebagai ibu, saya saja iri. Almarhumah sangat baik, lugu, polos. Dia diberkahi dengan ilmu yang lain dari anak seusianya yang normal. Ya Allah, semoga saja almarhumah diterima disisi Mu Ya Robb.

Saya ingin jadi pribadi yang lebih baik lagi khususnya untuk saya sendiri, saya mengerti bahwa dunia yang saya singgahi tidaklah selamanya saya disini. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga saya, dan teruntuk Muhammad Zaenal Arifin, kakak akan bangga ketika kau fasih mengaji dek, seperti bang Iful kakak sepupumu. Bapak sangat senang dengan usaha barunya, semoga lancar ya beh. Sedikit demi sedikit kita perbaiki bareng-bareng, semoga babeh senang dengan kondisi ade seperti ini. ade sayang babeh, emak, Arifin :*   .

 

Sudah dulu ya, saya belum makan siang :D

 

Assalamu’alaikum warohmatullah..

 

Medio sapa penghujung Oktober 2014,  1436 H

 

 

Salam,

 

 

:: Neng Tari Khairunnisa ::

 

Romantis itu…


Romantis itu…
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.

Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”

Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai senyuman. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.

Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.

Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.

Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggungjawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.

Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah di malam hari. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah dan tarbiyah. Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya

Romantis itu…
Saat malam kian gulita, dan anak-anak mulai lelap dalam tidurnya. Bisik-bisik mesra itu datang. Saat sang suami menyentuh istrinya, membisikkan kata-kata cinta. Mengawalinya dengan doa, mendaki puncak bersama…


Kasih sayang adalah salah satu nafas Islam. Ia merupakan ajaran yang amat mulia sehingga harus dijunjung tinggi. Rasulullah Saw adalah orang yang paling besar rasa kasih dan sayangnya kepada sahabat, keluarga dan seluruh umatnya. Di sepanjang kehidupan, beliau juga banyak menasehatkan anjuran berkasih sayang sebagaimana diriwayatkan dalam banyak sabdanya.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam at-Tirmidzi, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Rasulullah Saw bersabda, “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Dzat Yang Maha Penyayang,” lanjut sabda beliau sebagaimana diriwayatkan pula oleh Imam al-Hakim, “sayangilah penduduk bumi, niscaya kau akan disayangi oleh penduduk langit.”

Masih dari sahabat yang kelak menaklukan Mesir itu, Rasulullah Saw dalam kesempatan lain berpesan, “Kasihanilah, niscaya kalian akan dikasihi,” lanjut beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam riwayat ini, “dan maafkanlah, niscaya Allah Swt akan mengampuni kalian.”

Kasih sayang hanya diberikan kepada mereka yang beruntung. Maka siapa saja yang darinya dicabut rasa kasih sayang itu, ia tergolong ke dalam kelompok orang yang celaka.

Sahabat Abu Hurairah Ra mendengar Abu al-Qasim (julukan untuk Rasulullah Saw) bersabda, “Tidaklah kasih sayang dicabut, kecuali dari orang-orang yang celaka.” Demikianlah diantara sebaik-baik perkataan Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam at-Tirmidzi, dan Imam Ibnu Hibban.

Kasih sayang Allah Swt dibagi menjadi seratus bagian. Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, “Allah Swt membagi kasih sayang menjadi seratus bagian.” Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Dia menyimpang sembilan puluh sembilan bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian ke bumi.”

Dari satu bagian yang Allah Swt turunkan di bumi itu, lanjut sabda yang juga dirawikan oleh Imam Muslim itu, “Para makhluk saling mengasihi, hingga seekor binatang akan mengangkat kakinya dari anaknya karena khawatir akan menginjaknya.”

Sahabat Umar bin Khaththab suatu kali menceritakan. Seusai perang, ada salah satu tawanan perang wanita yang mencari anaknya. Setelah berupaya sekuat tenaga, ditemukanlah sang anak. Alangkah bahagianya sang ibu itu. Kemudian, anak yang telah ditemukan itu digendong, ditempelkan ke perutnya, kemudian ia susui sepenuh cinta.

Melihat kejadian itu, Nabi Saw bertanya, “Apakah wanita itu tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”
Sahabat yang tengah berkumpul, serentak menjawab, “Tidak, demi Allah.”

Sumber : kisah hikmah.com

Nabi yang mulia kemudian memberikan sebuah pengajaran amat singkat, namun sarat maknanya, “Sungguh, “ kata beliau melanjutkan, “Allah Swt lebih mengasihi hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang wanita itu kepada anaknya.”

Demikian hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim ini mengajarkan kepada kita.

Ya Allah, ampuni kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyayang.

Lelaki Impian


Pendiam. Murah senyum. Lebih sering mendengar ketimbang berbicara. Tapi, sekali berkata, banyak orang terpengaruh. Juga terperangah. Pertama kali saya berkenalan, ia nampak biasa-biasa saja. Saya mengoceh, bahkan sok menggurui. Ia hanya diam dan menyimak.

Dalam banyak pertemuan, ternyata ia menjadi nara sumber. Jika tidak, selalu ada waktu yang disediakan untuknya. Untuk memberikan kata-katanya. Artinya, ia tergolong orang yang diminta bicara. Sambutan dan tanggapan darinya selalu dinanti. Kata-katanya menyentuh. Sarat hikmah. Penuh perhitungan. Di sela-sela kalimatnya, senantiasa mengalir satu dua ayat al Qur’an. Karena itu, teman-teman tiada pernah bosan mendengarkannya berbicara. Sekarang barulah saya sadar, ternyata dia orang hebat. lelaki impian.

Mendengar adzan, tubuhnya langsung melesat menuju sumber bunyi. Apapun kondisinya. Dengan gagah ia duduk bersimpuh di shaf terdepan. Tangannya memegang mushaf. Matanya menatap tajam ke setiap ruas-ruas ayat. Khusyu’.

Di sisi lain, berkumpul padanya sumber-sumber ancaman. Fitnah. Ia memiliki kesenangan dunia yang menggiurkan. Dan, menggoda. Betapa tidak, wajahnya tampan. Ditambah otaknya yang cerdas. Bicaranya memukau dan menyentuh. Dengan semua itu, surga dunia menghampar di hadapannya. Pintu popularitas terbuka lebar. Dalam kamus kehidupan, betapa semua nikmat ini sangat potensial menutup akselerasi hidayah. Segala kemungkinan-kemungkinan untuk terhalang dari hidayah ada pada dirinya.Tapi, ia tetap ia.

Semua gelombang fitnah itu dialihkannya ke dalam pintu-pintu hidayah. Seringkali rekan dan adik-adiknya tersadar dengan sikap dan kepribadiannya. Walau ada kekurangan, kita perlu melihat sisi positif padanya. Pada siapa saja. Agar muhasabah lebih dominan dari hujatan dan kritik.

Dalam sejarah, Mush’ab bin Umair ra. terpilih menjadi delegasi pertama Rasulullah Saw. Ia mendapat kehormatan menghandle tugas Nabi di Madinah, menjadi duta luarbiasa dan berkuasa penuh. Ternyata ia diutus bukan karena retorika ansich. Ada yang menarik dari perjalanan hidupnya. Yakni, proses berislamnya yang mengagumkan. Sahabat ini termasuk orang-orang yang berani mengambil keputusan hijrah. Berani berubah. Dan, siap sabar menjalani masa peralihan. Lalu, dengan tegap merubah haluan kehidupannya. Padahal, sebelum hijrah, segala fasilitas duniawi terbentang untuknya. KARENA HIJRAH, IA PUN TERHORMAT.

Lalu, kita mengenal sosok Uwais al-Qorniy. Lelaki yang takut terkenal. KITA DAPATI KETERBATASAN YANG DIMILIKINYA TIDAK MAMPU MEREDAM ANTUSIAS UMAR AL-FARUK YANG SELALU MENCARI-CARI KEBERADAANNYA. Umar merindukannya. Walau ia sangat sederhana dan terbatas. Sayangnya, orang seperti Uwais sulit terdeteksi. Bisa jadi hanya orang seperti Umar saja yang mampu melihat dan menghormati sosok seperti Uwais.

Semoga kita dapat mencontohnya.. aamiin ya mujib..

Cerita Tentangnya


Diketik dikala jam pulang kantor hari ini..

Aku ingin bercerita.. ketika kita melihat senyum yang indah dihadapan kita, betapa senangnya hati kita.

itu yang aku rasakan kemarin, disaat hari miladnya dia, senangnya dia mau menerima kado dariku. sebuah Al-Qur’an berserta tajwid didalamnya, dan buku Uje juga Novel Pesan Cinta dari Turki. Dia bilang, dia senang menerima kado dariku.

Semoga dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, begitupun juga aku.

Terpenting dari itu semua, aku ingin membuatnya tersenyum selalu. Dia cerita banyak tentang keluarganya.

Jaga selalu dia ya Robb.. sebaik-baiknya penjagaan adalah penjagaan dari Mu.

Semoga Engkau merahmati kami dan keluarga.

Salam,

10092014

Taat Pada Suami


Oleh: Mochammad Hisyam

Seorang lelaki datang menghampiri Rasulullah SAW. Sekonyong-konyong, Muadz, nama lelaki itu, menghampiri kaki Baginda Nabi Muhammad dan bersujud di hadapannya.

Maka, Rasulullah pun menegur Muadz. “Apa yang kau lakukan ini, wahai Muadz?” Dia lantas menjawab, “Aku mendatangi Syam, aku dapati mereka (penduduknya) sujud kepada uskup mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku untuk melakukannya kepadamu, wahai Rasulullah.”

Rasulullah SAW pun melarang Muadz. “Jangan engkau lakukan hal itu karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sampai ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (hewan tunggangan) maka ia tidak boleh menolaknya.”

Hadis yang diriwayatkan dari sahih Ibnu Majah dan sahih Ibnu Hibban dari Abdullah Ibnu Abi Auf RA tersebut menggambarkan betapa seorang istri harus taat kepada suami. Islam meninggikan kedudukan seorang suami sebagai imam sehingga istri harus patuh.

Ketaatan seorang istri kepada suami merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh seorang istri. Ketaatan kepada suami menunujukkan kesalehan seorang istri. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah SWT yang termaktub dalam Alquran surah an-Nisa (4) ayat 34.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Ketika seorang istri taat dan patuh kepada suaminya, akan menjadi sebab bagi sang istri mendapatkan surga. Sebaliknya, pembangkangan seorang istri terhadap suaminya akan berakibat mendapatkan laknat Allah dan di akhirat masuk neraka.

Dalam saahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

Dalam hadis lain, “Jika seorang suami mengajak istrinya berhubungan dan istri menolak, lalu suami marah kepadanya sepanjang malam, para malaikat melaknat istri itu sampai pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, bisa dikatakan, bila surganya anak itu terletak pada telapak kaki (keridaan) ibu, surganya istri itu terletak pada telapak kaki (keridaan) suami. Dari Ummu Salamah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridoa kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”(HR Tirmidzi)

Untuk itu, seorang istri yang ingin dimasukkan ke surga, hendaknya ia selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mencari keridaan suami dengan cara taat dan patuh kepada suaminya. Ketaatan sepanjang suaminya itu tidak memerintahkan dan mengajak kepada kemaksiatan dan kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada khalik (Allah).” Wallahu’alam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.