Feeds:
Pos
Komentar

Oleh: Mohammad Roby Ulfi Zt

KETIKA Baginda Muhammad Saw bersabda, “Puasa itu setengahnya sabar,” (HR. Imam At-Tirmidzy) dilanjutkan dengan sabda lainnya yang menegaskan, “Sabar itu setengahnya iman,” (HR. Imam Al-Khathib dan Imam Abi Nu’aim); Berarti sesungguhnya hasil gabungan dua hadits di atas adalah “Puasa itu seperempatnya iman.”

Selain sabagai mozaik iman yang berbobot, pahala puasa itu langsung dibalas oleh Allah, sehingga balasan rukun Islam yang satu ini tidak ada yang tahu selain-Nya, disaat setiap ibadah kebajikan biasa bisa Allah lipat gandakan pahalanya mulai dari 10 hingga 700 kali lipat.

Bagaimana dengan pahala puasa? Sekali lagi, pahala puasa benar-benar melintas di luar batas prediksi hitungan hisab ibadah biasa, sebab, “puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang kelak membalasnya,” ujar hadits Qudsi muttafaq ‘alaih riwayat Sahabat Abu Hurairah (w. 59 H/602-679 M).

Dan karena puasa mampu melejetikan setengah potensi rasa kesabaran dalam diri kita, Allah pun telah berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Az-Zumar: 10)

إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah senantiasa bersama mereka yang selalu besabar.”(QS: Al-Baqarah ayat 153 dan Al-Anfal ayat 47).

Tanda Puasa

Cukuplah untuk mengetahui keutamaan puasa ketika Nabi sampai sudi bersumpah bahwa aroma mulut seorang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ketimbang harumnya misik, dan bahkan Allah telah memberikan fasilitas khusus bagi mereka yang rajin berpuasa; kelak mereka masuk surga dan bersua dengan-Nya via pintu yang tak bisa dilintasi oleh selain mereka, pintu spesial ini bernama “Ar-Rayyan.”

Tidak heran, Rasul pun pernah mewartakan kepada para Sahabatnya bahwa hanya bagi orang berpuasalah diperoleh dua kebahagiaan; kebahagiaan saat berbuka puasanya, dan kebahagiaan disaat bertemu Tuhannya.

Ketiga hadits tentang aroma mulut berpuasa, pintu spesial “Ar-Rayyan”, dan dua kebahagiaan orang berpuasa ini semuanya hadits-hadist shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka amalkan.” (QS. As- Sajdah [32]: 17).

Ada yang manafsiri bahwa yang mereka amalkan adalah puasa. Dan memang layak pahala puasa sedemikian benafitnya, sebab puasa -sebagaimana yang telah disinggung diatas- langsung disalurkan ke haribaan Allah Subhanahu Wata’ala, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya.

Di sini layak juga dipertanyakan, apa yang membedakan ibadah puasa dengan yang lainnya, padahal semua ibadah lainnya pun akan dikembalikan ke Allah Subhanahu Wata’ala?

Pertama, Al-Ghazali menjawab puasa itu sama halnya dengan masjidil Haram yang secara langsung diberi gelar “Rumah -milik- Allah” (Baitullah), padahal toh semua permukaan bumi ini sebenarnya milik-Nya pula.

Kedua, ada dua faktor nalar bermakna yang hanya dimiliki ibadah puasa;

a. Bahwa puasa itu sebuah sikap ketahanan diri dan pengabaian, di dalamnya ada rahasia (sirr) yang tak terdapat di ibadah lainnya yang bisa terlihat. Seluruh amal ketaatan (lainnya) bisa tersaksikan makhluk hidup ciptaan-Nya dan terlihat, tidak dengan puasa. Hanya Allah semata yang bisa melihatnya. Itu karena, sekali lagi, puasa merupakan amal ibadah batin dengan memfungsikan kesabaran yang menjernihkan.

b. Bahwa puasa itu pengekang musuh Allah, sebab jalur Setan (menggoda manusia) hanya melalui syahwat. Sedang syahwat hanya bisa diperkuat dengan makan-minum. Oleh karena itu, Baginda Muhammad Saw pernah mengingatkan kita, “Sesungguhnya Setan berjalan melalui aliran darah Ibn Adam, maka persempitlah kalian jalur-jalurnya dengan lapar!” (HR. Muttafaq ‘alaih) Masih mengenai puasa yang melemahkan syahwat dengan rasa lapar, suatu hari Rasulullah Saw berpetuah kepada Siti ‘Aisyah (w. 58 H/613-678 M), “Kebiasaanku telah mengetuk pintu surga.” Istri tercinta pun bertanya, “Dengan apa, wahai Baginda Rasul?” “Dengan lapar,” jawab sang rasul.

Jadi, ketika puasa khususnya mampu mengekang Setan, menyumbat jalur-jalurnya, dan mempersempit lintasan-lintasannya, maka sunggah pantaslah ibadah ini Allah spesialkan dengan menasbihkan puasa hanya untuk dan milik-Nya. Sebab hanya dengan mengekang musuh-Nya, pembelaan terhadap (agama) Allah terwujud, dan hamba yang membela (agama) Allah pasti akan ditolong-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Q.S Muhammad: 7).

Jadi, permulaan itu dengan kesungguhan perjuangan dari diri seorang hamba, dan pasti akan dibalas dengan sebuah petunjuk (hidayah) dari Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, Allah berjanji, “Dan orang-orang yang berjuang demi (mencari keridhaan) Kami, niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S. Al-Ankabut : 69).
Allah Subhanahu Wata’ala  juga pernah menegaskan;

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d:11)

Sedangkan perubahan (ke arah lebih buruk) hanya bisa terjadi dengan memperbanyak syahwat, di sinilah ladang ketenteraman para setan dan tempat mereka berjaga. Selagi ladang syahwat ini makin subur, maka godaan mereka takkan pernah terhenti. Dan selagi mereka selalu menggoda, maka keagungan Allah Subhanahu Wata’ala takkan pernah tersibak di pelupuk mata hati seorang hamba, ia terhijab dari menemui-Nya.

Rasulullah Subhanahu Wata’ala pernah menyayangkan hal ini dengan bersabda, “Andai saja para setan itu tak mampu mengitari hati manusia, niscaya manusia pasti bisa mengamati kerajaan langit.” (HR. Imam Ahmad bin Hanbal)

Maka dari semua uraian diatas, tampaklah dengan jelas bahwa puasa merupakan pintunya ibadah menuju taman keimanan yang hakiki, sekaligus merupakan perisai seorang beriman agar senantiasa bertakwa kepada Tuhannya dan mampu mengekang kekuatan syahwat hingga Setan pun tak lagi mampu mengitari hati kita yang berpuasa. Dan diatas semuanya, hanya Allah semata yang tahu seberapa besar agungnya pahala berpuasa.

Semoga kita bisa memuasakan batin kita, selain juga jasmaninya! Wallahu a’lam.*

Penulis tengah studi di Islamic International University of Malaysia, aktif di ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia). Tulisan disadur secara bebas dari Prolog Kitab Asrarush Shaum, Ihya` ‘Ulumiddin karya Hujjatil Islam wal Muslimin, Al Imam Muhammad bin Muhammad, Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H)     

Mengenal Taubat


Banyak orang beranggapan bahwa taubat adalah ibadah yang khusus untuk orang-orang yang berbuat banyak dosa. Sedangkan orang-orang yang menjalankan kewajiban dan meninggalkan semua larangan tidak harus dan tidak butuh bertaubat.
Ini adalah anggapan yang keliru. Setiap mukmin dituntut untuk memperbanyak taubat dan istighfar kepada Allah Ta’ala. Bahkan semakin seseorang mengenal Rabb nya, maka semakin banyak pula taubat dan istighfarnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bertakwa, paling zuhud dan wara’, paling mulia akhlaknya. Ditambah lagi beliau adalah seorang yang ma’shum. Namun walaupun demikian, beliau merupakan orang yang paling banyak bertaubat dan beristighfar.
Beliau bersabda:
والله إنى لأستغفر الله وأتوب إليه فى اليوم أكثر من سبعين مرة
“Demi Allah sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam satu hari lebih dari 70 kali.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah, No. 6307)
Lalu mengapa kita harus bertaubat?
Seorang ulama berkata, “Aku berdo’a kepada Allah selama 30 tahun agar Dia menganugerahiku taubat yang benar. Lalu aku terheran-heran dalam hatiku sambil berkata, “Sesuatu yang telah kupinta selama 30 tahun, namun belum kunjung datang jua.” Kemudian aku bermimpi bertemu dengan seseorang, lalu dia berkata, “Kenapa engkau terheran-heran karenanya? Tahukah engkau apa yang sedang engkau minta kepada Allah? Sesungguhnya engkau sedang meminta agar Allah mencintaimu! Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah Ta’ala:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang suka bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
(Lihat Ghidzaa’ -l Albaab, Al-Imam As-Saffaariini, 2/590)
Penyesalan adalah taubat
Taubat bukan hanya menyesal terhadap perbuatan maksiat yang telah ia lakukan. Akan tetapi lebih luas dari itu, menyesal terhadap perbuatan taat yang luput darinya, menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan berbuat kebajikan pun termasuk kategori taubat. Seseorang yang tidak pernah shalat sunnah dan puasa sunnah -misalnya-, lalu dia menyesal betapa banyak pahala yang ia sia-siakan dan berjanji akan melaksanakannya, ini juga disebut dengan taubat.
Uhud, saksi penyesalan Anas
Dia adalah Anas bin An-Nadhr radhiyallaahu ‘anhu. Paman Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Beliau termasuk salah seorang sahabat yang tidak ikut serta dalam perang Badr. Sepengetahuan mereka -para sahabat yang berada di Madinah- bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar Madinah bukan untuk berperang pada waktu itu. Tapi untuk mencegat kafilah dagang kaum Quraisy yang datang dari Syam di bawah pimpinan Abu Sufyan. Maka tidak semua sahabat ikut serta. Dan kebanyakan mereka tidak mengetahui kalau di Badr itu akan terjadi peperangan yang dahsyat. Yang jelas, Anas bin An-Nadhr radhiyallaahu ‘anhu sangat menyesal dan terpukul sekali tidak ikut serta dalam perang bersejarah itu. Kemudian Anas bin An-Nadhr radhiyallaahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullaah, aku tidak hadir dalam peperangan pertama melawan kaum musyrikin. Demi Allah, jika Allah memperkenankanku untuk ikut dalam peperangan melawan mereka, niscaya aku akan memperlihatkan pada-Nya apa yang akan ku perbuat.”
Ketika perang Uhud, pada saat kaum muslimin diserang balik oleh kaum musyrikin, Anas bin An-Nadhr radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ya Allah, aku mohon ampun atas apa yang dilakukan sahabat-sahabatku (karena sebagian kaum muslimin ada yang mundur ke belakang kala itu -pen), dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan orang-orang musyrik.” Lalu ia pun maju dengan gagah berani berpapasan dengan Sa’ad bin Mu’adz radhiyallaahu ‘anhu, sambil berkata kepadanya, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz! Surga… Demi Rabb Ka’bah, sungguh aku mencium bau surga di balik gunung Uhud.” Sa’ad berkata menceritakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Aku tidak mampu melakukan apa yang ia lakukan, wahai Rasulullah!”
Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu -perawi yang menceritakan kisah ini- berkata, “Kami menemukan jenazahnya (Anas bin An-Nadhr -pen) penuh dengan luka lebih dari 80 bekas baik itu sayatan pedang, tusukan tombak, dan lemparan panah. Kaum musyrikin telah mencabik-cabik tubuhnya. Tidak ada yang mengenali tubuhnya kecuali saudarinya yang mengenalinya lewat jari-jemarinya.” (Lihat Shahih Al-Bukhari hadits no. 4048 dan Shahih Muslim hadits no. 1903)
Allah Ta’ala berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Dan di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab: 23).
Inilah bukti kesungguhan penyesalannya. Cukuplah gunung Uhud menjadi saksi atas hal itu.
Tanyakan pada dirimu
Sudahkah engkau bertaubat? Berapa kalikah hari ini engkau bertaubat? Menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan meraup pahala dengan melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan? Lebih-lebih di bulan Ramadhan mendatang. Sudah berapa kali Ramadhan menemuimu, adakah di sana peningkatan iman, ilmu dan amal? Ramadhan tahun ini akan kah sama seperti tahun-tahun yang lalu?
Menyesallah… sebelum penyesalan itu tak berguna.
Bertaubatlah… selama pintu taubat masih terbuka.
Bangkitlah… untuk menyusul saudaramu di surga.
Duhai hati yang lalai… lisan yang kering… dari memohon ampun dan bertaubat kepada Allah Jalla wa ‘Alaa… belum kah tiba waktunya melakukan pembenahan?! Kalau bukan sekarang kapan lagi? Apakah engkau menjamin kalau esok hari dirimu masih melihat sinar matahari pagi? Bukankah Ramadhan yang lalu engkau masih melihat temanmu si Fulan shalat tarawih di masjid bersamamu, lalu keesokan harinya engkau mengusungnya ke kuburan? Siapa sangka kalau Ramadhan kali ini giliranmu? Allaahul Musta’aan.

Penulis: Ustadz Abu Yazid Nurdin
Artikel Muslim.Or.Id


Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma pada orang lain di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut.
Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathoiful Ma’arif, hal. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- rajin memberi sedekah pada orang lain ketika bulan Ramadhan.
Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang punya sifat paling rajin berderma daripada yang lainnya. Begitu pula beliau punya sifat kemuliaan, lebih berilmu, lebih pemberani, dan lebih sempurna dalam sifat-sifat mulia. Sedangkan kedermawanan beliau mencakup seluruh kedermawanan baik dalam ilmu maupun harta.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 293).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersemangat lagi dalam memberi di bulan Ramadhan daripada bulan-bulan lainya, sebagaimana kata Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif, hal. 295.
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari berlipat gandanya semangat Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di bulan Ramadhan daripada bulan lainnya:
Hal itu menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut.
Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa,
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar.
Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,
عَنْ عَلِىٍّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »
Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terdapat pada orang yang berpuasa. Karena orang yang berpuasa mengerjakan puasa itu sendiri, melakukan shalat malam, dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 298.
Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dari dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam. Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka,
الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ
“Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits,
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ
“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang di pertengahan malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fithri. Tujuannya adalah mensucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian salaf ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Karenanya jangan sampai melupakan menolong mereka yang sedang kelaparan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 300).
Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan banyak berderma.
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mengedepankan orang lain dari diri sendiri), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathoiful Ma’arif, hal. 300).
Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat suka jika ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena mencontohi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan kala itu di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 301).
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.

Referensi:
Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.

Di waktu Dhuha, 9 Ramadhan 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D. I. Yogyakarta
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

akhirat


Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah ta’ala pernah ditanyakan:
Sebagian orang yang berpuasa yang gemar merokok meyakini bahwa mengisap rokok di bulan Ramadhan bukanlah pembatal puasa karena rokok bukan termasuk makan dan minum. Bagaimana pendapat Syaikh yang mulia tentang masalah ini?

Beliau rahimahullah menjawab:
Menurutku, ini adalah pernyataan yang tidak ada usulnya sama sekali. Bahkan sebenarnya rokok termasuk minum (syariba). (Dalam bahasa Arab) mengisap rokok disebut syariba ad dukhon. Jadi mengisap rokok disebut dengan minum (syariba).

Kemudian juga, asap rokok -tanpa diragukan lagi- masuk hingga dalam perut atau dalam tubuh. Dan segala sesuatu yang masuk dalam perut dan dalam tubuh termasuk pembatal puasa, baik yang masuk adalah sesuatu yang bermanfaat atau yang mendatangkan bahaya. Misalnya seseorang menelan manik-manik, besi atau selainnya (dengan sengaja), maka puasanya batal. Oleh karena itu, tidak disyaratkan sebagai pembatal puasa adalah memakan atau meminum sesuatu yang bermanfaat. Segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dianggap sebagai makanan dan minuman.
Mereka meyakini bahkan mengenal bahwa mengisap rokok itu disebut (dalam bahasa Arab) syariba (yang artinya = minum), namun mereka tidak menyatakan bahwa rokok adalah pembatal puasa. Sama saja kita katakan bahwa ini jumlahnya satu, namun dia menganggap mustahil ini jumlahnya satu. Jadi, orang ini ada kesombongan dalam dirinya.
Kemudian berkaitan dengan bulan Ramadhan, ini adalah waktu yang tepat bagi orang yang memiliki tekad yang kuat untuk meninggalkan rokok yang jelek dan bisa mendatangkan bahaya. Waktu ini adalah kesempatan yang baik untuk meninggalkan rokok karena sepanjang siang seseorang harus menahan diri dari hal tersebut. Sedangkan di malam hari, dia bisa menghibur diri dengan hal-hal yang mubah seperti makan, minum, jalan-jalan ke masjid atau berkunjung ke majelis orang sholih. Untuk meninggalkan kebiasaan merokok, seseorang juga hendaknya menjauhkan diri dari para pencandu rokok yang bisa mempengaruhi dia untuk merokok lagi.
Apabila seorang pencandu rokok setelah sebulan penuh meninggalkan rokoknya (karena moment puasa yang dia lalui), ini bisa menjadi penolong terbesar baginya untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya, dia bisa meninggalkan rokok tersebut di sisa umurnya. Bulan Ramadhan inilah kesempatan yang baik. Waktu ini janganlah sampai dilewatkan oleh pecandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokoknya selamanya.
Dikutip dari Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin, Bab Ash Shiyam, 17/148 (Asy Syamilah)
-Semoga Allah memberikan taufik kepada pencandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya setelah dia berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, Amin Ya Mujibas Sa’ilin-
Diselesaikan menjelang Maghrib di salah satu rumah Allah,
Masjid Siswa Graha, 23 Sya’ban 1429 H
[bertepatan dengan 25 Agustus 2008]

Semoga Allah membalas amalan ini
***
Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.
Artikel http://www.muslim.or.id


ay1

Gerimis berlapis-lapis tak kunjung berhenti mengiris sore ini.Udara kian lembab,Matahari senja sedang melukis pelangi di ufuk barat sana hingga spektrumnya terpendar dalam kamarku membentuk sejuta warna hati yg gelisah,dirundung cemas dipagut rindu yg kian menderu.

Ya Rab,izinkan aku bersama malaikat penurun hujan Mu,menabut benih hujan dari langit agar aku dapat menyirami separoh bumi yg tandus hingga aku dapat melihat senyum orang2 tercinta karena karunia Mu.Hingga aku dapat memandang anisa tersenyum dibalik kerudung hijaunya hingga aku dapat selalu memuji Mu atau izinkan aku menjelma bersama buih gerimis diluar jendela kamarnya agar aku dapat memandang lekat wajahnya sebagaimana Ia sedang melihatku.

Ya Rabb,aku sungguh jatuh cinta.
“Fajar…”
“Astaghfirullahal’adzim! Apa yg sedang kupikirkan? Ah,suara Ayah memanggilku aku menutup jendela kamar lalu segera menghampiri Ayah yg berada diruang tamu.
“Apa kitab Bulughul maram sudah kamu kembalikan ke kyai Faqih?”
“Sudah,Ayah.”
“Ada apa denganmu,Jar? Kelihatan aneh!” Ibu coba cermati sikapku.
“Ah,nggak apa2,Bu.Fajar hanya sedang senang saja karena nilai rapot anak2 lebih baik dari semester lalu.”
“O,begitu ya.” respon Ibu yg ragu dg jawabanku.
“Kamu sudah bertemu Anisa?”

“Subhanallah! Aku terperajat mendengar Ayah menanyakan tentang Anisa belum sempat aku menjawabnya Ibu sudang memberondong dg pertanyaan lain.
“Anisa cantik,kan? Kamu suka,kan? Kamu pasti menyesal telah menolak.Iya,kan? Jangan bohong! Ayo,mengaku sajalah?”

Wajahku memerah seketika seperti makaroni pedas dalam toples diatas meja aku malu sekali.Bagaimana mungkin aku berani mengatakan bahwa Anisa telah mencuri hatiku? Padahal kemarin aku telah bersikeras menolak perjodohan kami.Betapa bodohnya aku yg begitu gegabah mengambil keputusan andai bku menuruti permintaan Ayah,andai aku menikah dg Anisa.Ah,Anisa.

“Kemarin saja kamu ngeyel nggak mau sama Anisa sekarang coba lihat! Kamu seperti mabuk cinta,” lagi2 Ibu menggodaku sementara Ayah tertawa terbahak

“Apa sekarang kamu masih ngeyel nggak mau menikah dg Anisa?”
“Tidak Ayah.Saya ingin menikah dg Anisa” responku cepat agar mereka tidak menerorku terus tapi mereka malah terbahak mendengar ketegasanku untuk meminang Anisa menjadi Istriku sungguh aku tak sanggup menyimpan gejolak hati ini karena Anisa telah membolak-balik hatiku.Ya Rabb izinkan aku mencintainya karena Mu.

Mungkin rencana Ayah juga yg memintaku untuk mengembalikan kitab yg Ia pinjam kepada Kyai Faqih agar aku bisa bertemu langsung dg Anisa.

Sekitar jam 9 tadi pagi sebelum mengajar di MA Tebuireng aku menyempatkan untuk mengembalikan kitab tersebut selama perjalanan menuju rumah beliau aku terus menyusun alasan tentang penolakan atas perjodohanku dg putrinya.Aku tak mau Kyai Faqih tersinggung atau mungkin aku berharap Kyai Faqih sedang tidak berada dirumah hingga aku bisa menitipkan kitab Bulughul maram tersebut pada santrinya.

Ternyata aku salah sesampai didepan gerbang rumah Kyai Faqih aku melihat beliau sedang membersihkan halaman rumah bersama beberapa santrinya,aku menghampiri beliau lalu kami duduk diserambi mushala kecil didepan rumah ternyata beliau tidak menyinggung sama sekali tentang perjodohan itu.Beliau hanya menanyakan kabar Ayah dan Ibu serta mengingatkan untuk mengikuti pengajian Jama’ah Qur’aniyyah minggu depan.Aku tak ingin berlama-lama karena aku ada jam mengajar aku segera menyampaikan amanah Ayah pada beliau setelah menghabiskan secangkir kopi,aku mohon diri.

Saat itulah aku melihat Anisa keluar rumah.Ia mengenakan baju Muslimah putih yg bermotif sedikit bunga berwarna hijau dan kerudung hijau pupus.Subhanallah! Aku teringat akan kerudung hijau Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu’anha istri tercinta Rasulullah.2 tahun setelah wafatnya Khadijah datang wahyu kepada Rasulullah untuk menikah dg Aisyah radhiyallahu’anha sebagaimana diterangkan hadis riwayat Tirmidzi dari Aisyah “Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Rasulullah lalu berkata “Ini adalah Istrimu didunia dan diakherat

Begitu juga aku,aku berharap Anisa dapat menjadi Istriku didunia dan akherat kelak saling mencintai karena Allah semata.

Anisa berjalan menunduk begitu tahu aku sedang memandangnya.Sinar mentari pagi itu tak sehangat wajahnya,wajahnya yg bercahaya yg tiba2 menerobos pintu hatiku dan seakan-akan menghentikan detak jantungku.Aku coba menetralisir keadaan ini,aku segera pamit undur diri pada Kyai Faqih lalu aku menuntun motorku keluar rumah aku hanya bisa memandang Anisa dari kaca spion motorku.Kuperlambat langkahku agar kebahagiaan ini sedikit bertahan lama.Ah,Anisa.

Anisa menghampiri Ayahnya,lamat2 aku mendengar Anisa meminta izin untuk berangkat kuliah Anisa mencium tangan Ayahnya sementara aku menyalakan motorku dan meninggalkan Anisa bersama hatiku yg telah ia curi.

“Hai,Jar! Kok malam melamun!”
Astaghfirullah! Suara Ibu mengagetkanku.
“Kamu serius ingin menikah dg Anisa?” selidik Ayah.
“Ya,Fajar ingin menikah dg Anisa.”
“Baiklah.Besok Ayah sendiri yg akan menemui Kyai Faqih semoga saja Kyai Faqih masih mau mempertimbangkannya makanya,nurut sama orangtua! Ojo sak karepe dewe kemarin saja kamu ngeyel nggak mau menikah alasan sibuk mengajar lah,ingin konsentrasi belajarlah!”
Ayah mencercaku habis-habisan sebelum akhirnya mereka berdua menertawakanku sementara aku hanya bisa nyengir melihat mereka terus menggodaku.

Kemarin aku memang membuat banyak alasan ketika Ayah menjodohkanku dg Anisa tapi memang benar aku tak ingin menikah dulu masih banyak yg harus kukerjakan.Jika aku tiba2 menikah maka konsentrasi ku semakin terpecah akhirnya studi S1 ku di STKIP mungkin terbengkalai juga atau jika aku lebih memilih studi S1 ku,giliran istriku yg terlantarkan sungguh berdosanya aku bila demikian belum lagi jadwal mengajarkan di MA Tebuireng lumayan padat.

Namun,setelah bertemu Anisa tadi pagi rasanya semua aktivitas mengajar dan studi S1 ku terasa menjadi nomor kesekian.Aku ingin menikah dg Anisa menyempurmakan separuh ibadahku agar aku lebih tenang menjalani hidup berdamping dg istri yg shalehah.Insya Allah

Ya,Rabb.Aku sungguh jatuh cinta.

“Kamu juga harus shalat istikharah semoga Allah memberi petunjuk yg terbaik bagimu,” kata Ayah mengakhiri pembicaraan kami sore ini,kumandang adzan Magrib sudah terdengar.

***
Malam ini kami berkumpul bersama dimeja makan.Selesai makan Ayah memulai pembicaraan.
“Tadi sore Ayah bertemu Kyai Faqih ternyata Kyai Faqih ingin bertemu dan berbicara langsung denganmu mungkin beliau ingin mengetahui keseriusanmu untuk menikahi Anisa.Kyai Faqih sedikit kecewa karena sebelumnya kamu telah menolak perjodohan itu tapi semoga saja Kyai Faqih bisa mempertimbangkannya lagi.Besok sore Kyai Faqih menunggumu dirumahnya,Jar”
Aku mengangangguk sekali.

“Jangan lupa minta maaf atas penolakanmu kemarin.Perlihatkan keseriusanmu ingin membina keluarga dg Anisa,Cintailah Anisa karena Allah” kata ibu menambah kuatnya niatan suciku untuk meminang Anisa.

Seusai makan bersama,aku langsung kembali mengisi nilai rapot tengah semester anak2 kelas X1 IPA 1 yg kebetulan aku wali kelasnya aku membuka jendela kamar lebar2,hujan tak turun malam ini tapi mendung menyelimuti separuh langit hanya beberapa bintang yg berkelip diujung sana sementara bulan juga tersaput awan.Malam ini terasa membosankan bagiku.

Wahai malam mengapa engkau tak lekas pergi agar fajar cepat hadir dan sore lekas menjelang agar aku dapat segera bertemu kekasihku.Ah,Anisa izinkan aku tidur nyenyak malam ini aku tak ingin bertemu engkau lagi dalam mimpiku,aku tak ingin semakin jatuh cinta kepadamu.Wahai malaikat penjaga malam tolong sampaikan salam rinduku pada Anisa.

***
Hujan deras mengguyur sore ini dalam jas hujanku,aku memacu motorku ke dusun Tebuireng rumah Kyai Faqih yg hanya berjarak 5 km dari rumah kami yg berada didesa Cukir.Saat sampai rumahnya hujan mulai reda aku berteduh diserambi mushala sambil melipat jas hujanku dan merapikan diri.

Kyai Faqih menyambutku langsung dan mempersilahkan ku duduk.Terlihat bibir beliau masih bergemuruh tasbih.
“Bagaimana,Jar? Kemarin Ayahmu bilang jika kamu meralat keputusanmu.Benarkah?”

“Ya,Kyai.Saya minta maaf atas kekhilafan saya,saya terlalu gegabah mengambil keputusan tapi sejujurnya,Kyai.Saya mengambil keputusan itu karena saya masih takut menikah saya takut tidak bisa membagi waktu saya dengan istri yg berujung menelantarkannya selain mencemaskan soal nafkah Kyai juga tahu saya masih butuh biaya banyak untuk menyelesaikan studi S1 saya di STKIP.Sementara saya juga mengajar di MA Tebuireng dan Anisa juga masih kuliah di IKAHA kami sama2 sibuk dg aktifitas masing2 saya takut tidak bisa membahagiakan Anisa dan banyak kecemasan yg lain,Kyai.”

“Menikahlah,maka kalian akan kaya,Allahlah yg mencukupi kebutuhan kalian asal kalian menikah karena semata-mata karena Allah.Dan kawinlah orang2 yg sendirian diantara kamu,dan orang2 yg layak (berkawin) dari hamba2 sahayamu yg lelaki dan hamba sahayamu yg perempuan.Jika mereka miskin,Allah akan memampukan mereka dg karunia Nya.Dan Allah Maha luas (pemberian Nya) lagi maha mengetahui.

Aku tersenyum mendengar penjelasan Kyai Faqih hatiku berdesir semacam ada hawa surga yg tiba2 menyelinap ke dalam relung hati.

“Tapi mengapa kamu tiba2 berubah pikiran ingin menikah dg Anisa?”

Pertanyaan Kyai Faqih membuatku salah tingkah tiba2 sesosok tubuh muncul dari dalam rumah.Anisa membawa teh hangat untuk kami,rasanya jantungku berhenti sesaat melihat Anisa tersenyum dibalik kerudung putihnya lalu kami sama2 menunduk.Anisa meletakkan 2 cangkir diatas meja beruntung sekali aku yg masih bisa mencuri pandang lewat meja kaca yg membentuk bayangan wajah Ayu Anisa.

“Anisa,ini adalah Fajar putra Pak Yazid yg abi ceritakan kemarin”
Subhanallah! Untuk pertama kalinya Anisa menyapaku dg senyum cepat2 aku mengendalikan perasaan dan mencoba tersenyum sesederhana mungkin meski aku malu sekali lalu kami saling menunduk sebelumnya akhirnya Anisa kembali masuk kedalam rumah.

“Anisa,cantik kan?” kata Kyai Faqih sebelum terkekeh “Tapi aku tak ingin kamu menikahi Anisa karena kecantikannya aku ingin kamu menikahi Anisa dg tulus karena Allah.Anisa ingin melihat keseriusanmu,Ia sempat kecewa karena penolakanmu kemarin untuk itu Anisa meminta jika kamu serius ingin menikah dg Anisa maka kamu harus melakukan satu hal sebelum Anisa menerimamu menjadi suaminya.Apa kamu mau melakukannya?”

“Saya harus melakukan apa,Kyai?
Kyai Faqih menghela nafasnya lalu terdiam beberapa saat.
“Anisa ingin agar kamu melakukan mabit di Masjid Jami Cukir.I’tikaf lah didalam masjid selama 3 malam berturut-turut mulai ba’da Magrib hingga Subuh dan jangan keluar masjid selama i’tikaf tentu saja siang hari kamu boleh melakukan aktifitas seperti biasanya.Allah maha mengetahui apa kita kerjakan.Apa kamu bersedia,Jar?”

Aku menyetujui Permintaan Anisa meskipun terdengar aneh sekali bukan tentang mahar nikah atau semacamnya tapi ia memintaku untuk mabit di Masjid Jami Cukir.Ah,apapun itu aku akan memenuhi permintaannya.Insya Allah tak sulit i’tikaf selama 3 malam berturut dimasjid tanpa keluar masjid sekalipun.

“Baiklah,Kyai.Saya akan memenuhi permintaan Anisa”
“Kemarilah setelah kamu mabit selama 3 malam tata niatmu sebelum melakukan mabit.Jangan mabit karena Anisa tapi mabitlah karena Allah”

Masjid Jami Cukir letaknya sekitar 120 meter dari rumah kami dan 100 meter dari jalan raya.Sedikit masuk kedalam gang aku dan Ayah sering shalat Jum’at di masjid tersebut selain dimushala seberang jalan kami hanya cukup berjalan kaki saja untuk sampai kesana.

Masjid tersebut berhimpitan dg pesantren Darul Falah tak heran jika masjid tersebut selalu semarak oleh santri2 yg tholabul ilmi dipesantren besar itu.Masjid Jami Cukir lumayan luas dan sebagian telah bertingkat banyak sekali kegiatan yg rutin diadakan di masjid diantaranya kegiatan Remaja Masjid,pembacaan Maulid Diba’ hingga kegiatan mingguan ibu2 muslimah.Terlebih bulan Ramadhan.kegiatan dimasjid tersebut semakin semarak.Ada pengajian kitab salaf di setiap ba’da shalat subuh,dzuhur dan ashar yg dikaji oleh KH.Ishomuddin Hadzik dari Tebuireng dan 2 ustadz dari pesantren Darul Falah.

Namun ada satu kegiatan rutin yg melibatkan jama’ah yg cukup besar bahkan bisa mencapai ratusan bahkan ribuan jama’ah.Kegiatan jama’ah Thariqat Naq-Sabandiyah tersebut rutin diadakan setiap hari senin oleh karena itu kegiatan tersebut lebih populer dg nama senenan begitu banyaknya jama’ah biasanya hingga meluber mendekati jalan raya.

Aku mengenal beberapa takmir masjid tersebut ada Pak Hamid yg rumahnya tepat didepan masjid,Pak Zuhdi yg tinggal tepat diselatan seberang masjid dan beberapa teman remaja masjid lainnya.

Menjelang Magrib aku dan Ayah berangkat kemasjid.Aku telah membicarakan tentang rencana mabit malam ini pada Ayah aku hanya membawa mushaf Al Qur’an,sehelai jaket,sepotong roti,sebotol air mineral dan sedikit uang untuk jaga2 jika diperlukan.

Seusai shalat Magrib aku minta izin pada Pak Hamid untuk mabit malam ini dan insya allah 2 malam berikutnya.Pak Hamid pun mengizinkannya meskipun ia sedikit heran karena sebelumnya aku tidak pernah mabit dimasjid kecuali bulan ramadhan.Kalaupun diluar bulan ramadhan aku bermalan dimasjhd jika ada kegiatan remaja masjid yg berlangsung hingga larut malam dan aku malas untuk pulang.

Aku membaca Al Qur’an hingga menjelang shalat isya.Aku menata kembali niatku,aku ingin mabitku malam ini karena Allah bukan karena meminang Anisa atau tujuan yg lain.Hanya karena Allah semata.

Nawaitu i’tikafa lillahi ta’ala
Ba’da shalat isya dan shalat sunnah ba’diyah aku melanjutkan tiwalah Al Qur’an,aku tak sendiri malam itu ada beberapa santri yg menghabiskan malam dg membaca Al Qur’an tapi sayang satu persatu dari mereka meninggalkan masjid seiring merayapnya malam.

Menjelang pukul 10 malam,aku mulai letih karena terlalu lama duduk aku memperbarui wudhuku kemudian shalat tasbih 4 rakaat dg 2 salam berbeda dg shalat tasbih yg biasa dikerjakan pada siang hari,4 rakaat dg 1 salam.

Kubaca tasbih sebanyak 15 kali setelah membaca surah Al Fatihah dan surah Al Qur’an lainnya sedangkan setelah tasbih ruku’ aku bertasbih 10 kali begitu juga setelah membaca tahmid saat i’tidal setelah tasbih sujud,setelah duduk diantara 2 sujud dan setelah tasbih sujud kedua masing2 bertasbih 10 kali kemudian bertasbih 10 kali juga saat duduk istikharah menjelang rakaat pertama begitu juga pada rakaat kedua,ketiga dan keempat sehingga jumlah total semuanya ada 300 tasbih dalam 4 rakaat shalat tasbih.

Biasanya aku shalat tasbih sekali dalam sebulan Insya Allah aku akan mengerjakannya disetiap malam selama mabit di Masjid Jami Cukir ini menyenangkan sekali bisa mengerjakan shalat tasbih yg merupakan tuntunan Rasulullah ada semacam kekuatan dan energi positif yg kuhirup dari setiap tasbih yg kubaca hingga aku merasakan semakin dekat dg Allah.

“Jika engkau bisa mengerjakannya setiap hari satu kali maka kerjakan.Jika tidak bisa maka kerjakan pada setiap Jum’at satu kali,jika tidak bisa juga maka kerjakan dalam seumur hidupmu satu kali saja”

Malam semakin larut kini tinggal aku sendiri didalam masjid.Beberapa lampu diserambi masjid telah padam hanya lampu didalam masjid ini yg masih kubiarkan menyala.Aku meneruskan membaca Al Qur’an kembali.Bersembunyi dari balik jaketku dari terpaan angin yg menerobos celah pintu masjid sesekali kuteguk air mineral.

Saat mulai letih aku menyelinginya dg shalat sunnah 2 rakaat juga memperbanyak berdzikir aku tak ingin kesempatan berharga ini berlalu begitu saja.Rutinitas yg padat disetiap hari seringkali melalaikan aku untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah inilah saatnya untuk menambal celah2 amalan sunnah yaumiyah.

Tak terasa aku membaca Al Qur’an hingga pukul 1 pagi aku sangat letih hingga kubersandar didinding untuk mengurangi penatku aku terkantuk berkali-kali dalam duduk bersilaku sementara tanganku masih menggenggam mushaf kecil.

Hingga aku terjaga saat jam besar yg berada dipojok berdentang keras sekali sebanyak 2 kali aku meluruskan kedua kakiku yg terasa berat sekali karena berjam-jam duduk bersila kuteguk air mineral dan melahap sebungkus roti yg kubawa dari rumah.

Kemudian aku menggosok gigi dan berwudhu.Dalam sepertiga malam yg terakhir ini,angin malam berhembus semakin kencang langit sedikit berawan rembulan nampak temaran.

Pagi ini aku merasa tak sendiri tubuhku terasa hangat sekali meski angin sekali-kali menamparku saat mengambil air wudhu.Aku merasa ada ribuan malaikat turun ke bumi berebut wudhu denganku,sebelum menjemput ampunan doa dan asa dari hamba Allah yg sedang terjaga untuk Nya.

Aku mengerjakan shalat Tahajud sebanyak 6 rakaat kemudian kututup dg shatat witir sebanyak 3 rakaat aku berharap menemukan seperti malam terakhir milik Nya pada 2 malamku berikutnya karena aku ingin selalu menjadi hamba yg selalu disayang Allah.

Kemudian aku melanjutkan tilawah Al Qur’an hingga menjelang subuh aku berdiri lagi untuk shalat sunnah fajar 2 rakaat sebelum muazin mengumandangkan adzan subuh.

Alhamdulilah! Aku telah menyelesaikan mabit malam ini dg baik meski masih mengantuk berat aku tetap harus mengajar di MA Tebuireng dan mengerjakan tugas kuliahku.Aku beruntung sekali karena hari inh aku hanya mempunyai satu jam mengajar saja itu pun pagi hari jadi aku aisa qailulah yg cukup menjelang dzuhur untuk bekal mabit nanti malam.

Dalam mabit ke 2 malam ini aku juga membawa hasil ulangan harian yg harus kukoreksi.Bagaimanapun tugas tersebut merupakan tanggung jawabku sebagai pendidik aku berharap mabit ke 2 berjalan seperti kemarin.Aku pun melakukan amalan ibadah seperti kulakukan kemarin malam.Tilawah Al Qur’an,shalat tasbih,qiyamul lail dan memperbanyak dzikir.Alhamdulilah! Aku lebih banyak terjaga meski terkantuk menjelang shalat Tahajud.

***
Malam ke 3,berbeda dg malam pertama dan kedua mabit pada malam ketiga ini terasa lebih ringan.Aku merasa nyaman sekali bahkan aku dapat menyelesaikan tugas kuliahku dan Silabus serta rencana pelaksanaan pembelajaran hanya semalam meski belum berupa ketikan paling tidak aku akan lebih mudah mengetiknya karena aku sudah membuat drafnya.

Tugas kuliah tersebut hanya kukerjakan saat aku letih tilawah Al Qur’an namun aku lebih banyak memilih tilawah dalam setiap mabitku hingga aku sering terkantuk dalam duduk bersilaku dg mushaf Al Qur’an yg masih tergenggam ditangan.

Tiba2 aku terjaga oleh lantunan surah Al Qur’an yg sedikit keras,ada seorang yg sedang shalat tepat disampingku kupandang lekat wajahnya yg sepertinya aku mengenalnya.Subhanallah! Ia adalah Hasanuddin rumahnya tak jauh dari masjid ini,Ia juga siswa kelas X1 IPA 1 di MA Tebuireng.

Suaranya sangat merdu melantunkan surah Al Qur’an.Ia terlihat khusyuk dan thuma’ninah dalam sethap gerakan shalatnya aku tak henti2 nya bertasbih dalam hati.Hampir tak percaya ternyata masih ada remaja yg masih mau menghidupkan sepertiga malam terakhir Mu,Ya Allah.Remaja yg masih mau memakmurkan masjid.Aku harus banyak belajar padanya tentang semangat mendekatkan diri kepada Allah.Tentang hati yg selalu merindu untuk bertemu dengan Mu.

Saat aku menuju tempat wudhu untuk memperbarui wudhuku aku melihat sebuah becak yg sarat dg kubis,wortel,kentang dan sayuran lainnya aku baru tahu Hasanuddin juga membantu Ibunya mengantarkan sayuran untuk dijual dipasar padahal sekarang masih jam 3 pagi.Hasanuddin harus mengayuh becak yg sedemikian beratnya ditambah lagi dingin yg begitu sangat tapi ia masih mau menyempatkan diri untuk shalat Tahajud dimasjid sebelum mengantarkan sayurannya kepasar.Subhanallah!

Aku menghampiri Hasanuddin seusai salam kedua dari shalatnya.Ia hanya tersenyum bibirnya masih bergemuruh dzikir.
“Bapak masih disini? Ada kegiatan apa kok sampai bermalam dimasjid?” sapanya.
“Tidak ada,hanya ingin i’tikaf saja.Apa kamu qiyamul lail disini setiap hari?”
Hasanuddin hanya mengangguk sekali sembari tersenyum.
“Permisi,Pak.Saya harus mengantar sayuran kepasar.Sayurannya agak banyak khawatir belum selesai menatanya dikios saat subuh tiba.”

“Iya,silahkan.Hati2!”
Hasanuddin bergegas meninggalkan masjid.Hasanuddin yg kurus itu harus mengayuh becaknya yg sarat dg sayuran.Ya Rabb,izinkan aku memiliki putra yg saleh seperti dia suatu saat nanti anak yg tidak saja berbakti kepada orang tua tapi juga mencintai Mu.

Astaghfirullah! Kunci milik Hasanuddin tertinggal! Segera kupungut kunci yg tergeletak diatas karpet aku setengah berlari mengejar Hasanuddin dari becaknya aku teriak lirih saja,aku tak ingin membuat kegaduhan dipagi buta ini ternyata Hasanuddin telah berada diujung gang hendak menyeberang kejalan raya.Tanpa kunci itu,Hasanuddin tidak bisa membuka kiosnya.

“Hasanuddin! Kuncimu tertinggal!”
“Astaghfirullahal’adzim! Terima kasih,Pak.”
Aku hanya tersenyum sembari mengatur nafasku yg sengal sementara Hasanuddin dan becaknya tengah menyeberang jalan kemudian aku kembali ke masjid.

Astaghfirullah! Aku telah keluar dari masjid! Apakah Kyai Faqih akan memaklumi perbuatanku? Apakah beliau akan menerima alasanku? Apakah hanya sekedar mengembalikan sebuah kunci saja aku harus keluar masjid? Padahal bisa saja,Hasanuddin mengambil sendiri kuncinya yg tertinggal.Entahlah,bagaimanapun jika aku tak mengembalikannya langsung Hasanuddin tetap mengambil sendiri kuncinya tapi sungguh malang sekali jika ia harus kembali lagi dg becaknya yg berat itu atau jika ia memilih meninggalkan becaknya dijalan sementara ia harus kembali kemasjid maka sungguh rawan sekali nasib sayuran dan becaknya.

Apapun alasannya aku hanya ingin sedikit bersedekah pada pemuda pilihan Allah tersebut pemuda yg rela menanggalkan selimut hangatnya untuk menjemput segala keberkahan yg Allah telah dihamparkan Nya dipagi buta ini.Meskipun aku tahu aku telah kehilangan kesempatan untuk meminang Anisa.Ah,Anisa.

***

Sore ini aku menemui Kyai Faqih kembali.Sesuai permintaan beliau untuk menemuinya setelah kuselesaikan mabit selama 3 malam dimasjid.
“Bagaimana,Jar?” Bagaimana mabitmu?”
“Alhamdulillah,Kyai.Saya sudah mengerjakannya.Namun,afwan Kyai.Pada mabit yg ke 3 saya terpaksa harus keluar dari masjid.”
“Apa kamu masih ingat peraturannya?”
“Masih,Kyai.”

Kyai Faqih mengangguk berkali-kali.kami terdiam beberapa saat.Entah apa yg akan Kyai Faqih akan putuskan.
“Baiklah karena kamu telah keluar dari masjid kamu telah gagal.Apapun alasannya kamu telah gagal.Sekarang,apakah kamu masih ingin menikahi Anisa?”
“Insya Allah,hati ini masih ingin selalu menyentuh hati Anisa karena Allah lah saya mencintai Anisa izinkan saya menyempurnakan separuh ibadah saya bersama Anisa.”

“Tapi kamu telah gagal!”
Aku terdiam sekarang yg kubutuhkan hanya keiklasan untuk menerima apapun keputusan Kyai Faqih.
“Baiklah.Malam jumat besok ada mabit bersama di masjid Tebuireng,aku beri kesempatan sekali lagi karena kulihat kesungguhanmu.Jar,tapi ingat! Jangan keluar dari masjid lagi selama mabit! Dengan alasan apapun! Mabit ini hanya semalam pergunakan dg sebaik-baiknya tata lagi niatmu karena Allah maha mengetahui.”

Subhanallah! Kemurahan hati Kyai Faqih sungguh luar biasa.Aku harus mempergunakan kesempatan kedua ini dg baik aku harap tak ada halangan lagi dalam mabitku nanti.

Masjid Tebuireng letaknya ditengah-tengah koplek pesantren Tebuireng salah satu pesantren tertua di Indonesia ini,telah memiliki ribuan santri yg berasal dari penjuru tanah air dan beberapa dari luar negri dg tujuan nyantri atau sekadar riset penelitian.

Sebenarnya pesantren Tebuireng telah memiliki masjid baru yg megah letaknya tepat diutara SMP A.Wahid Hasyim yg merupakan salah satu sekolah dibawah yayasan pesantren Tebuireng.Masjid yg bernama Ulil Albab tersebut juga terletak dekat dg komplek Asrama pesantren putri Tebuireng.

Namun mabit bersama yg rutin tiap bulan sekali tersebut bertempat di masjid lama Tebuireng meski telah terjadi renovani disana sini karena sebagian kayu telah lapuk tapi sebagian besar bagian masjid ini masih menompangnya.Mihrab,jendela lantai dan bagian dalam masjid yg lainnya masih selalu dipertahankan dan dijaga keasliannya.

Nuasa pesantren salaf yg begitu kental dalam masjid ini.Ada kedamaian hati yg selalu kutemukan saat berada didalamnya karena selalu ada santri yg bersimpuh dan membaca Al Qur’an disini.Hingga nuansanya terasa begitu sejuk beradu dg lantunan lirih Al Qur’an dari bibir santri hingga aku slalu memilih shalat dibagian dalam masjid ini.Seakan kubisa merasakan kehadiran Allah dihatiku seakan ada sejuta malaikat bertasbih yg berdesakan dan berebut tempat denganku didalam masjid yg tidak terlalu luas ini.

Menjelang Magrib aku sudah berada dipelataran masjid Tebuireng ada banyak sekali masyarakat yg ikut dalam mabit malam ini.Banyak wajah2 yg tak asing bagiku Pak Rahmad Budiono guru Matimatika,Pak Bek guru sosiologi,Pak Saiful,Pak Na’im dan beberapa guru dilingkungan yayasan pesantren Tebuireng.Sepertinya mereka memang sengaja ingin ikut mabit bersama.

Aku segera mengambil tempat dishaf pertama karena aku ingin selalu mendapat keberkahan dalam shalatku.Aku menyesal sekali mengapa tidak dari dulu aku ikut mabit rutin setiap bulan ini aku selalu menolak ajakan Pak Rahmad untuk mabit.Aku hanya mengikuti pengajian kitab salaf oleh KH.Ishaq Latief selepas isya dipesantren Tebuireng ini padahal aku bersama jamaah mabit yg lain dapat menyatukan hati,berdzikir,memohon ampunan bersama hingga doa kami terakumulasi dan membumbung ke angkasa hingga cahaya Allah slalu menyinari hati dan keberkahan hidup selalu mengiringi kami.

Shalat Magrib berjamaah pun berlangsung dg Imam KH.Musta’in Syafii selaku dewan pengasuh.Lantunan surah Al Quq’an beliau sungguh indah hingga membuat kami khusyuk dalam setiap rakaat dan thuma’ninah dalam setiap rukun nya.

Seperti biasa jamaah shalat Magrib ini selalu membludak terlebit mabit bersama ini bahkan,hingga tersambung masuk kedalam komplek santri yg berhimpitan dg masjid.

Gemuruh dzikir bersama-sama seusai shalat begitu membahana hingga melambung tinggi dan nyaris menyentuh langit kemudian dilanjutkan shalat sunnah awwabin.Beberapa santri masih berada dalam masjid sekadar berdzikir atau membasahi bibir mereka dg hafalan dan tilawah Al Qur’an.

Setelah shalat isya berjamaah dilanjutkan dg pembacaan istighosah bersama kemudian dilanjutkan ceramah KH.Musta’in Syafii.Ceramah yg begitu memesona dan lincah disertai guyonan sederhana membuat para santri tergelak dan bersorak hingga kami tak terkantuk meski ceramah baru berakhir menjelang pukul 11 malam.

Beberapa santri terlihat meninggalkan masjid.Beberapa dari mereka melanjutkan dg membaca Al Qur’an bercengkrama bahkan telah terlelap diatas sajadah mereka.Aku memperbarui wudhuku kemudian shalat 2 rakaat dan melanjutkan tilawah Al Qur’an.Malam semakin beranjak tua berteman sunyi angin seakan tak berhembus dalam masjid ini hanya lantunan Al Qur’an yg saling beradu dan mengambang dilangit2 masjid hingga berjejal dan menerobos keluar jendela.Masjid ini seakan terangkat hingga kurang sekilan menyentuh langit.

Terkadang rasa kantuk menggelayut manja.Aku sering terkantuk dalam dudukku hingga aku beristighfar berkali-kali dan memperbarui wudhuku.Aku mendengar gemericik air dari kran yg tak tertutup rapat juga pada genangan air yg terus mengalir untuk mensucikan kaki sebelum ke masjid.Ah,terasa segar sekali menikmati setiap basuhan anggota wudhuku.

Saat hendak kembali kemasjid,aku melihat Pak Rahmad sedang menuntun Pak Na’im yg sedang menggigil kedinginan.
“Ada apa,Pak?”
“Pak Na’im masuk angin saya akan mengantarkannya pulang,” jawab Pak Rahmad sebelum batuk berkali-kali.Kulihat wajah Pak Rahmad juga pucat.
“Biar saya saja yg mengantarkan Pak Na’im pulang.Pak Rahmad sebaiknya pulang juga.”

kami membantu Pak Na’im dan menuntunnya ketempat pakir.

Saat aku mengantarkan pak Na’im aku menitikan air mata ,aku telah keluar masjid,aku telah menyia-nyiakan kesempatan kedua.Apakah ini pertanda aku dan Anisa tak berjodoh? Bagaimanapun,aku tidak mungkin membiarkan Pak Na’im dan Pak Rahmad sakit.
Ya Rabb,mudahkan segala urusanku

Selepas ashar aku menemui Kyai Faqih kembali,aku nyaris tanpa semangat menghadapi ini namun aku harus tetap menemui Kyai

Faqih dg membawa kegagalan ini meskipun aku sudah tahu keputusan apa yg akan Kyai Faqih ambil untukku.

“Mengapa kamu terlihat lesu,Jar?”
Aku hanya diam & tertunduk.
“Kamu gagal lagi?”
“Afwan,Kyai”

Tak terasa air mataku menitik.
“Astaghfirullahal’adzim! Aku tlah memberimu kesempatan ke 2 kamu tetap saja melewatkannya

Sudalah! pulanglah! kalian tak berjodoah!

Kyai Faqih beranjak dari kursinya dan meninggalkanku yg sedang tersedu.

Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya beranjak pergi,aku tidak mungkin menjelaskan apa yg terjadi.

Aku tak pernah melihat Kyai Faqih marah seperti ini.Aku menuntun motorku hingga sampai ke pagar rumah.Meninggalkan rumah Kyai Faqih bersama gerimis & air mata yg berjatuhan dipipikiu sore ini.

“Fajar!”
Tiba2 Kyai Faqih memanggilku berada Didepan pintu rumah.
“Kemarilah!”
Apa yg terjadi? Mengapa Kyai Faqih memanggilku?
“Kemarin ada 3 lelaki yg juga ingin Meminang Anisa mereka juga harus mabit selama 3 malam seperti mabitmu yg pertama tidak dimasjid Cukir tapi dimasjid Nurul Anwar Blimbing mereka akan mulai mabit malam Jumat lusa,aku beri kesempatan lagi kesempatan ygh terakhir bagimu.

Bergabunglah dg mereka bertiga!”
“Baiklah,Kyai”
Kemudian aku meninggalkan rumah Kyai Faqih saat itulah aku bertemu dg Anisa yg sedang berpayung.
Subhanallah! Kami saling berpandangan sekilas kemudian kami menunduk.Ia mengenakan baju Kurung putih berwarna putih sedikit kebiruan dibeberapa bagian ia terlihat anggun sekali.Ah,Anisa akankah kumiliki Hatimu?
Ya Rabb,jagalah hati ini dan pertemukan hati kami dg cinta Mu.

Ba’da Magrib aku baru sampai di Masjid Nurul Anwar ini,sedikit telat karena aku harus mengantar Ibu ke RSU Jombang ada tetangga Ibu yg melahirkan.

Masjid Nurul Anwar ini sangat sederhana bentuknya sebagian terlihat terbuka dan minim tembok hanya kaca bening dan beberapa ukiran kayu sederhana sehingga masjid ini nampak luas.

Aku bertemu 3 laki2,aku bisa menebaknya mereka adalah ke 3 saudaraku yg mabit dimasjid ini,ada tas rangsel disamping mereka.Mereka terlihat begitu siap untuk mabit malam ini.

Lelaki pertama bernama Pak Agus meski ia hanya lulusan SMA saja tapi ia telah tercatat sebagai PNS dikantor dinas pendidikan Kabupaten Jombang.Pak Baihaqi adalah lelaki kedua peserta mabit,ia lulusan Universitas Islam Malang sekarang mengajar di SMA N 3 Jombang.Lelaki ketiga bernama Pak Hasan,ia guru di MTS N Plandi Jombang kami berempat langsung akrab tanpa terlihat ada semacam persaingan atau permusuhan.Malah,mereka berniat mengundurkan diri jika mereka tahu bahwa yg melamar Anisa tidak seorang saja .Namun,akhirnya kami memutuskan untuk tetap menyelesaikan mabit ini apapun hasil dari keputusan Kyai Faqih nanti.

Seusai shalat isya dikejutkan oleh kedatangan seorang Pak Tua Yg hanya berkaos singlet dan bersarung tapi kami tahu ia bukan orang gila hanya lelaki tua yg miskin dan pikun entah dari mana asalnya tiba2 sudah berada diserambi masjid.

Kami mencoba bertanya tentang tempat tinggalnya hanya terjawab dg gelengan dan anggukan kepala kemudian Pak Baihaqi memberikan sebungkus nasi untuk Pak Tua tersebut.Pak Tua itu langsung melahapnya seketika,kami coba bertanya tentang nama dan alamatnya ia hanya mengangguk berkali-kali bahkan bicaranya ngelantur.

Tiba2 Pak Tua tersebut menggigil serta merta Pak Baihaqi melepas jaket yg ia kenakan dan langsung diberikan kepada Pak Tua.

“Rumah saya di Pulerejo,saya mau kesurabaya tapi uang hilang dibus.Saya mau ke Surabaya”

Rupanya Pak Tua itu telah kehilangan uang dibus atau mungkin lupa tidak membawa uang untuk ke Surabaya

Hingga kondektur bus menurunkannya di depan masjid.
“Mengapa ke Surabaya” tanyaku.
“Cucu!” jawabnya singkat.
“Apakah keluarga dirumah tahu,jika Bapak pergi ke Surabaya?”

Pak Tua itu hanya menggeleng,sementara Pak Baihaqi mengancingkan jaket yg Pak Tua kenakan kemudian Pak Baihaqi memberi sejumlah uang untuk Pak Tua kedermawanan Pak Baihaqi memang luar biasa.

“Ini sekadarnya,Pak.Pulanglah! Keluarga Bapak dirumah pasti sangat mencemaskan lain kali saja ke Surabaya.Bersama keluarga saja,jangan sendiri ya,Pak” pinta Pak Baihaqi.

“Tidak! Saya tidak mau uang,saya mau ke Surabaya bertemu cucu!”
“Ke Surabaya lain kali saja,ini sudah larut malam sebaiknya bapak segera pulang keluarga dirumah pasti sedang kebingungan mencari Bapak” pinta Pak Baihaqi kembali.

Akhirnya ia mau menerima uang pemberian Pak Baihaqi kemudian kami mengantarkan ke bibir serambi masjid sementara Pak Tua itu berjalan sendiri kearah jalan raya untuk menunggu bus ke Pulorejo.

Tapi aku tidak tega,bagaimana mungkin membiarkan Pak Tua yg pikun itu pulang sendiri? Akankah ia benar2 pulang? Atau malah nekat ke Surabaya lagi? Tidak,aku tidak mungkin membiarkan Pak Tua pikun itu pulang sendiri.Aku segera menyusul dan mengantarnya pulang dg motorku.

***

Ada sebuah kereta kelinci yg diparkir didepan masjid Nurul Anwar sore ini.Puluhan santri TPQ sedang belajar Qira’ati diserambi masjid sebagian tertib mengaji tapi ada yg berlarian hingga membuat sibuk ustadz dan ustadazahnya mereka terlihat lucu dg kerudung penceng diwajahnya sementara itu ketiga saudaraku juga terlihat sibuk mengajar Qira’ati.

Pak Hasan menghampiriku,kuucap salam padanya.
“Mereka ini adalah santri TPQ dari Nurul Iman kami sengaja mengajak mereka kesini dalam rangka memakmurkan masjid.Pembelajaran Qira’ati dimasjid ini kurang berkembang dg adanya kegiatan seperti ini diharapkan masyarakat disini kebih antusias pada pendidikan Al Qur’an putra putrinya sekaligus juga bisa menjadi rekreasi bagi santri TPQ Nurul Iman yg lebih penting Kyai Faqih akan terkesan dg mabit kita!”

Subhanallah! Aku mengiyakan niatan mereka yg ingin memakmurkan masjid ini dg cara mendatangkan santri TPQ Nurul Iman yg Pak Hasan sendiri yg menjadi pendidik di TPQ tersebut.

Menjelang Magrib semua aktifitas TPQ sudah selesai mereka sudah kembali pulang dg kereta kelinci.Masjid mulai lenggang kembali,tenang.

Selepas isya kami berempat mengadakan diskusi sederhana dg menelaah dan mengambil hikmaq surah dari Al Qur’an kemudian kami lanjutkan pada shalat tasbih berjamaah lalu istirahat karena nanti malam kami Qiyamul lail bersama.

Malam ini terasa dingin sekali tak seperti mabit malam pertama kemarin hingga aku mengenakan 2 jaket sekaligus untung saja karpet dimasjid ini lumayan tebal,aku melanjutkan tilawah Al Qur’an hingga separuh malam.

***
Aku datang menjelang Magrib pada mabit ke 3 malam ini meski aku telah gagal dalam mabitku yg pertama tapi aku ingin tetap mabit dan beri’tikaf malam ini,aku juga bisa shalat tasbih berjamaah dg ke 3 saudaraku.

Terkadang ingin menangis jika teringat akan Anisa.Kenapa Allah tak mengizinkan hati kami bertemu? Adakah hati ini telah kotor? Ya Rabb,Zat yg maha mengetahui segala isi hati jika hati ini tak mencintai Anisa karena Mu maka hapuslah hasratku untuk memilikinya namun jika hati ini mencintai Anisa karena Mu maka pertemukan hati kami dalam naungan cinta Mu ikatlah hati kami dg temali cinta Mu agar keberkahan Mu selalu menyertai kami.

Saat aku datang sebagian pagar masjid telah bercat baru padahal sebelumnya warna putihnya telah pudar ternyata ke 3 saudaraku tersebut baru saja mengecat pagar masjid.

“Tadi kami bertiga mengecat pagar tapi belum selesai,habis isya nanti kami akan melanjutkan lagi jika mau Pak Fajar juga bisa ikut.Ya itung-itung untuk memakmurkan masjid kalau masjid lebih indah banyak pula jamaah yg datang ini dalam rangka memberi kesan baik akam kehadiran kita bahwa kita tidak saja mabit tapi juga memperindah masjid,apalagi besok kita sudah tidak disini lagi.

Astaghfirullah! Aku beristighfar lirih mendengar penjelasan Pak Agus.
“Afwan,Pak malam ini saya tidak mabit disini saya minta izin karena malam ini saya harus ikut membantu mempersiapkan untuk acara akhir sanah madrasah sekolah besok.

Pak Agus terlihat kecewa dg penolakanku,aku lebih memilih mementingkan acara akhir sanah besok karena aku yg bertanggung jawab untuk acara besok.
“Jika meninggalkan masjid ini berarti Pak Fajar gagal”
“Saya tahu,Pak.Biarlah mungkin bukan rezeki saya mungkin Anisa bukan jodoh saya tapi besok sore saya tetap akan menemui Kyai Faqih.”

***
Angin sore masih bergetar didedaunan pohon anggur daunnya lebat menutupi sebagian halamah rumah Kyai Faqih.Sinar matahari sore ini terasa hangat anak2 kecil berlarian mereka hendak mengaji di TPQ milik Kyai Faqih sementara kulihat Anisa duduk disamping abi nya kemudian ia beranjak masuk kedalam rumah setelah mengetahui kedatanganku.Kyai Faqih langsung menyambutku dg hangat dan wajah yg berseri-seri.

“Kalian akan menikah tahun ini atau tahun depan? Secepatnya saja!”
“Subhanallah! Apa maksud Kyai? Siapa yg akan menikah?”

Kyai Faqih malah tertawa keras sekali hingga kursinya bergetar.
“Ya,kamu dg Anisa,Jar! Siapa lagi?”
“Subhanallah! Mengapa?”
Lagi2 Kyai Faqih tertawa terbahak,aku semakin tidak mengerti.
“Apa kamu sudah berubah pikiran lagi?”
“Tapi,Kyai.Afwan saya tidak mengerti bukankah saya telah gagal memenuhi syarat? Bahkan mabit di masjid Nurul Anwar pun saya gagal”

“Justru karena gagal itulah kamu akan menikah dg Anisa.Sekarang ceritakan alasan mengapa kamu mengantarkan kunci milik Hasanuddin yg tertinggal?”
“Bagaimana Kyai tahu?”
“Sudahlah! Ceritakan saja!”
“Saya simpati sekali pada pemuda seperti Hasanuddin tidak saja berbakti pada orang tua,dg mengayuh becak yg sarat sayuran dan menyiapkannya untuk dijual dipasar tapi ia juga mencintai Allah,ia menyempatkan untuk Qiyamul lail dimasjid sebelum ia berangkat kepasar dipagi buta.Subhanallah! Jika saya tidak mengantar kuncinya maka ia akan kembali dg mengayuh becak yg penuh dg sayuran ituatau jika becaknya telah sampai dipasar,dan ia kembali kemasjid tanpa becak maka akan butuh banyak waktu padahal saat itu telah menjelang subuh,saya hanya ingin sedikit bersedekah pada pemuda pilihan tersebut meskipun saya tahu perbuatan saya tersebut dapat menggagal pernikahan saya.”

“Lalu mengapa kamu mengantar Pak Na’im pulang?”
“Kyai juga tahu tentang itu?”
“Sudahlah! Ceritakan saja!”
“Saat mabit dimasjid Tebuireng tersebut,Pak Na’im terlihat sakit awalnya Pak Rahmad yg ingin mengantarkannya pulang tapi Pak Rahmad juga terlihat sakit kemudian sayalah yg ganti mengantar Pak Na’im pulang karena esoknya Pak Na’im ada jam mengajar kewajiban manusia tidak saja beribadah kepada Allah melainkan juga menolong sesama manusia.Saya hanya ingin sedikit bersedekah,biarlah saya kehilangan kesempatan ke 2 saya.”

“Berarti kamu sudah tidak ingin menikah dg Anisa?”
“Justru saya semakin mantap ingin menikah dg Anisa,menyempurnakan separuh ibadah bersama Anisa.Saya berusaha menjaga kemurnian niat,saya tak ingin menikah dg Anisa hanya karena berhasil menyempurnakan mabit.Apakah mabit saya akan barakah jika saya melalaikan orang lain yg membutuhkan pertolongan saya?”

“Lalu mengapa kamu juga mengantar Mbah Pur pulang ke Pulorejo?”
“Maksud Kyai,lelaki tua yg dimasjid Nurul Anwar?”
Kyai Faqih hanya mengangguk.Aku hampir tidak percaya ternyata Kyai Faqih juga mengenal Pak Tua yg pikun itu.
“Saya juga tidak mungkin membiarkan Pak Tua itu pulang sendiri,Kyai.Ia sudah tua dan pikun saya khawatir keluarganya pasti sangat cemas karena Mbah Pur pergi tanpa pamit.Anehnya,saat sampai dirumah Mbah Pur keluarganya terlihat tenang sekali.”

Kyai Faqih malah tertawa mendengar penjelasanku sementara aku semakin tidak mengerti.
“Mengapa kamu menolak ajakan mengecat masjid?”
“Menurut saya cara mereka memakmurkan masjid adalah kurang tepat tidak dg menghias masjid tapi dg mendekatkan diri pada Allah serta amar ma’ruf nahi munkar bahkan Rasulullah pernah merobohkan masjid yg dibangun oleh orang2 munafik.Begitu juga ketika membawa santri TPQ Nurul Iman ke masjid Nurul Anwar bukan cara mereka yg keliru tapi niat mereka kurang tepat.

Hanyalah yg memakmurkan masjid2 Allah ialah orang yg beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan shalat,menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah maka merekalah orang2 yg diharapkan termasuk golongan orang2 yg mendapat petunjuk.

Maaf kelancangan saya,Kyai.Tujuan yg baik berawal dari niat yg baik pula kita sering kali terjebak pada hal2 yg sebenarnya bertujuan baik namun penyakit hati seringkali mengancam niatan suci untuk itu menjaga kemurniatan niat karena Allah semangat sangat penting itulah yg berusaha saya lakukan.”
“Barakallahulaka! Menikahlah dg Anisa,putraku!”
“Apa maksud,Kyai?”

“Sebenarnya semua penghalang dalam mabitmu,kamilah yg mengaturnya kami minta bantuan Hasanuddin,Pak Na’im,Pak Rahmad,Mbah Pur,Pak Agus,Pak Baihaqi dan Pak Hasan untuk menggagalkan mabitmu semua hanya sandiwara!”

“Astaghfirullahal’adzim! Apa maksud,Kyai?”
“Dari semula kami telah merestui pernikahan kalian.Ini hanya permainan,Anisa yg merencanakannya.”
“Mengapa,Kyai?” Apakah ini balasan dari Anisa karena saya sempat menolak perjodohan kemarin?”

“Tidak,putraku.Kami hanya ingin mengetahui kejernihan hatimu menyikapi hal yg kuhadapi.Anisa yg lebih tahu alasan tepatnya,lebih jelasnya kamu bisa menanyakannya setelah kalian menikah nanti itupun jika kamu tidak berubah pikiran lagi.”
“Saya tetap ingin menikah dg Anisa apapun alasan Anisa,izinkan saya untuk mencintai Anisa karena Allah.”

Hari pernikahan pun tiba,resepsi yg sederhana digelar dihalaman rumah Kyai Faqih sementara ijab qabul berlangsung semalam.Kyai Faqih sendiri yg menikahkan kami sebuah mushaf Al Qur’an yg cantik dan seperangkat alat shalat lengkap telah kuberikan sebagai mahar namun mahar sebenarnya adalah mahar cinta yg tulus karena Allah yg telah kupersembahkan kepada Anisa.

Gerimis malam ini seakan tanpa henti tapi aku suka,aku teringat pada aku yg dulu yg slalu menitipkan doa diantara rintik gerimis agar dapat menikmati gerimis tak seorang diri ada belahan hati yg menemani indahnya gerimis yg bertasbih disetiap rintiknya.

Permintaan hati tersebut terwujud malam ini aku dapat mendekap Anisa belahan hati yg aku cintai setelah kami shalat sunnah 2 rakaat bersama kami menikmati gerimis yg berjatuhan diluar jendela kini Anisa telah berada dalam dekapanku.

“Maafkan aku,suamiku.Mabit itu sekadar sandiwara untuk menguji kesungguhan dan keimanan calon suamiku.Apakah ia mencintaiku karena kecantikanku ataukah mencintaiku karena Allah.”

“Mengapa kamu melakukan itu?”
“Sssttt… Jangan terburu-buru,”jemari lembut tangannya menyentuh bibirku.”Aku akan menjawabnya setelah kamu melakukan tugasmu.”
Anisa menutup jendela kamar lalu menguncinya.
“Tugas apa?”

Anisa malah tertawa kecil sembari memutar tubuhnya hingga kerudungnya terjatuh dan tergerai rambut indahnya hingga ia jatuh dalam pelukanku.
“Tugasmu adalah mabit malam ini,suamiku.Tidak diluar melainkan didalam kamar ini!”

Kulihat surga saat kutatap matanya kubaca isyarat cinta pada setiap gerak bibirnnya hingga kubertasbih memuji Nya berulangkali hingga ia berbisik ditelingaku,”Karena… Karena aku ingin meyakinkan diriku bahwa engkau mencintaiku karena Allah.”

Angin dan gerimis masih bercumbu sembari bertasbih diluar sana,penuh cinta,penuh berkah sesekali menyapa kami dg lembut lewat celah jendela hingga kami selalu berselimut kebahagiaan dan keberkahan.

Tamat.

Sumber : (‘•.Jangan Jadi Muslimah Nyebelin.•’)
Sumber : (‘•.Jangan Jadi Muslimah Nyebelin.•’)

Karya:MUHAMMAD TAUFIQ


Kulajukan motorku agar segera sampai di kampus. Ya, jarak tempuh dari rumahku ke kampus menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Sesampainya dipelataran parkiran kampus, aku sengaja menaruh motorku didekat gedung E, karena kelas pagiku saat ini ada disana. Segera kupercepat langkahku menuju koridor kelas yang berada di lantai 2 itu.
Sesampainya didepan pintu, kreeekk… kulihat, pak Lukman sedang memberikan pengarahan.
“Assalamu’alaikum, Pak. Maafkan saya telat datang pagi ini.” Kuatur nafasku sejenak sambil menunduk.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah. Habis malam mingguan ya kamu. Yasudah kamu cari kursimu, Nisa”. Aku kesal karena teman-temanku mentertawakanku, tapi yasudahlah yang penting Pak Lukman membolehkanku ikut mata kuliahnya, Testing dan Implementasi Sistem Informasi.
Aku mencari kursi, aku pilih untuk duduk dipojok belakang. Aku sebenarnya masih mengantuk, akibat chatting di Facebook dan nonton film korea semalaman suntuk hingga pukul 2 dini hari. Maklum, aku pecinta berat film Korea.

Yups, Namaku Layla Althafunnisa, teman-temanku biasa memanggilku Nisa. Dibilang tomboy tidak juga, terkadang aku memakai rok ke kampus.
Seusai mata kuliah Pak Lukman, aku dan Tari menuju kantin kampus. Tari adalah sahabatku. Dia shalehah, dan juga santun. Kami berteman sudah 6 tahun yang lalu, dari masa-masa bangku Tsanawiyah. Segera kubuka jaketku, terik matahari membuatku rasanya gerah sekali hari ini.
“Astaghfirullah, Nisa. Kamu pakai lagi jaketnya. Malu dilihat mahasiswa lainnya. Apa-apaan kamu pakai baju you can see gitu, itu auratmu !”. Bentak Tari melarangku, dan menyuruhku segera mengenakan jaketku lagi.
“Tar, gerah ini geraah.. kamu ini kayak ibuku tau nggak tadi pagi yang bawel menyuruhku melapisi dengan jaket, lagipula ini lagi trend style yang kayak gini”. Gerutuku sambil melihat Tari yang memandangku sinis.
“Aku ini sayang sama kamu, Nisa. Sebagai sahabat aku wajib mengingatkanmu. Sayang lho tubuh kamu yang mulus dan indah seperti ini kamu umbar di tempat umum, disini banyak mata para lelaki. Kamu harus mampu membedakan mana yang pantas dan tidak pantas. Kamu harus menghargai dan menjaga apa yang kamu miliki, Nisa”. Aku serasa ikut ceramah, dan posisiku sedang dinasehati sama sahabatku. Disaksikan sama mahasiswa lainnya pula lagi di kantin.
“Hehehe.. sudah ceramahnya, Tar? Iya..iya ini aku pakai lagi jaketku. Udah dehPlease jangan ceramah disini. Aku lapar,aku mau pesan makanan dulu, kamu mau pesan sekalian nggak?”. Tanya ku balik ke Tari.
Setelah tau pesanan Tari, kulangkahkan kakiku dan aku memesan makanan menuju stand ibu Melda, ibu kantin yang gaul dan sangat exist di kampusku.
***
Selepas maghrib, aku masih duduk di kantin kampus. Aku mulai suntuk. Selesai kuliah, aku seorang diri. Tari ada acara hari ini. Katanya sih tadi, ada pengajian di Masjid dekat rumahnya. Aku teringat sesuatu, 2 minggu yang lalu aku meminjam buku di perpustakaan, dan aku harus mengembalikannya hari ini. Aku sudah telat mengembalikannya.
Dan, sesampainya di Tower lantai 7. Aku bertemu Irham, teman sekelasku. Dia juga bekerja di kampus, sebagai Assistan Laboratorium.
“Nisa, kamu ngapain disini?” Tanya Irham padaku dan member senyuman khasnya.
“Aku mau dugem. Hehehe.. ya mau balikin buku lah, Irham. Gimana sih..” Candaku padanya.
“Dasar kamu..Hehehe sama, aku juga balikin buku, sudah selesai sih. Oke, aku duluan ya, Nisa”. Dan aku mengiyakannya.
Seusai aku mengembalikan buku. Aku menuju lift untuk turun menuju lantai dasar. Dan di lift, ada seorang mahasiswa laki-laki yang sudah ada didalam, aku tak mengenalnya. Posisiku didepannya dan yang membuatku risih karena mata lelaki itu terus memperhatikan tubuhku. Tapi selang Kemudian ada perkataan usil yang keluar dari mulutnya.
“Cantik, mau ya besok malam temenin gue. Eh, Jangan besok malam, kalo bisa sekarang aja gimana?”. Ucap seorang mahasiswa berbadan tegak dan tinggi sekitar 175 cm itu.
Dan aku sadar, leherku sudah dipegang olehnya. Aku memberi perlawanan dengan memberikan tamparan dan menghindarnya. Aku berteriak, tapi tak satupun yang bisa mendengar teriakanku. Aku masih terus memberikan perlawanan. Dan, Alhamdulillah.. Di lantai 2, lift terbuka. Ada Irham dihadapanku. Irham segera memberikan perlawanan pada mahasiswa yang telah melecehkanku.
Selang beberapa menit kemudian, Irham telah selesai memberi pelajaran pada mahasiswa itu. Ternyata, pria itu habis mengkonsumsi miras, tercium dari aroma yang keluar dari mulutnya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi teryata, dan Irham mengenalnya. Segera mahasiswa itu dilaporkan ke pihak keamanan kampus dan segera ditindak lanjuti.
Aku menangis, atas apa yang barusan menimpa diriku. Peristiwa itu cepat sekali. Aku duduk lemas di bangku taman kampus. Dan beberapa menit kemudian.
“Ambil, ini minuman buat kamu, Nis”. Segelas teh manis hangat yang ditawarkan Irham padaku.
Irham duduk disampingku. Meneguk teh manis hangatnya.
“Terima kasih ya, Irham. Aku nggak tau apa jadinya tadi kalo kamu nggak segera nolongin.” Ucapku menyesal dengan apa yang terjadi padaku hari ini.
“Iya. Lain kali kamu jangan sendirian aja kalo ditempat umum, dan juga kalo boleh saran, pakaian yang kamu pakai itu agak sopan ya, biar ndak keulang lagi kejadian seperti tadi. Bagus kamu ndak apa-apa. Sayangi diri kamu, Nis. Kamu itu berharga.” Ucap Irham menasehatiku.
“iya, terima kasih sarannya. Aku menyesal. Lain kali aku lebih sopan dalam berpakaian” Ucapku dan menyeruput teh manis hangatku.
Aku diantar pulang mas irham, aku dengan motorku, dan ia dengan motornya. Padahal rumah mas irham sangat jauh denganku. Sesampainya irumah, mas irham juga pamitan dengan keua orang tuaku.
Keesokan harinya, aku berniat keluar rumah dan juga ke kampus untuk mengenakan hijab. Ku baca dan kupelajari model hijab yang sedang trend saat ini. Kuarahkan wajahku ke cermin, kupakai hijab pashmina dengan model yang kubisa. Alhasil, ternyata aku cantik juga ya dengan mengenakan hijab.
Sesampainya dikampus, aku bertemu Tari. Tari terkejut dengan perubahanku, ada perasaan senang yang ia lontarkan padaku melihat sekarang aku mengenakan hijab ke kampus. Tapi Tari juga mengkritik cara dan mode hijabku, katanya hijabku masih transparent dan juga aku masih berpakaian ketat. Well,lagi-lagi aku salah dimata Tari.
***
Selang beberapa hari kemudian, aku terketuk dengan ucapan seorang anak kecil yang juga berprofesi sebagai pengamen jalanan cilik, ia terlihat lusuh, dan juga kotor namun ia mengenakan jilbab. Aku bertemu dengannya di Terminal bus Metromini jurusan Ciledug-Blok M. Lagi-lagi aku kena pelecehan, seorang pemuda tepat disampingku berdiri memandangku dari atas hingga bawah dan seraya mengutarakan maksudnya.
“Nona lebih cantik dengan tak mengenakan hijab, beramal jangan tanggung-tanggung”.
Mendengar ucapan itu, aku segera pindah tempat dan menjauh dari pemuda itu. Aku kesal dengan ucapannya yang memojokkanku. Aku berada di tempat yang agak jauh dari hiruk pikuknya keramaian, namun tiba-tiba muncul didepanku anak kecil yang tadi ku pikir jilbabnya lusuh dan juga kotor bahkan juga kebesaran. Perlahan ia menghampiriku lebih dekat.
“Kak, nunduk deh sebentar, terus pejamkan mata kakak yah..”. Pintanya padaku, dan aku segera cari tempat duduk terdekat dan menuruti permintaanya untuk duduk menunduk sambil memejamkan mataku dihadapan gadis kecil yang kupikir usianya sekitar 9 tahun. Entah apa yang diperbuatnya padaku. Aku hanya merasakan kepalaku sedang di make over olehnya.
Sekitar 3 menit kemudian…
“Seperti ini cara pakai jilbab yang benar, kakak tambah cantik tauu… “ucapnya sambil menyuruhku membuka mataku.
Dan “nyeeessss” saat hatiku berbicara dan bergejolak terkejut bukan main, melihat hijab yang kukenakan ada pada gadis kecil itu, dan jilbab yang kebesaran milik gadis kecil tiu ada diatas kepalaku.
“Kakak.. jilbab kakak buat Nayla aja yaa, ukurannya pas dikepala Nayla. Dan juga biar kakak nggak diejek lagi sama pemuda tadi karena jilbab Nayla lebih besar dari punya kakak” Ya, gadis kecil itu bernama Nayla. Ucapan singkatnya membuka mata hatiku. Aku malu pada seorang gadis cilik yang begitu prihatin padaku. Aku mengiyakan pintanya untuk bertukar hijab.
Kejadian itu membuka hati dan pikiranku. Begitu aku selalu mengandalkan logikaku, hingga mirisnya aku mengabaikan suara hatiku, suara hati Tari yang menyuruhku lebih mengulurkan jilbabku ke dada. Aku begitu mengejar trend yang justru menggadaikan ajaran syari’at agamu dalam mengenakan jilbab dengan benar.
Dari kejadian itu, aku menggali ilmu agamaku dengan bantuan Tari. Aku diajaknya mengikuti Lembaga Dakwah Kampus Al-Khawarizmi Fakultas Fasilkom dibawah naungan LDK Al-Faruq, aku belajar tajwid serta pengajian rutin kemuslimahan yang diadakan setiap sabtu pagi pukul 8. Tari sangat senang melihat perkembanganku menuju jalan yang diridhoi-Nya.
Sampai suatu ketika, saat aku baru sampai dari kampus sore hari, mobil Avanza berwarna Hijau lumut terparkir dihalaman rumahku. Aku bingung siapa yang bertamu. Kuayunkan langkahku memasuki rumahku.
“Assalamu’alaikum ayah.. bunda” Ucapku memberi salam seperti biasa saat aku masuk kerumahku. Sebelum sampai diruang tamu, ayah menghampiriku.
“Wa’alaikumussalam warohmatulah, ayo masuk Nisa. Ada tamu dari Yogyakarta nih, katanya teman kuliah kamu”. Hatiku bertanya-tanya, teman kampusku yang mana. Biasanya ada kabar kalau ada yang mau datang kerumah.
***
Aku terkejut dan juga senang, ternyata Irham beserta ayah dan ibunya yang berkunjung kerumahku. Irham berniat melamarku malam ini. Ternyata diam-diam Irham memperhatikan kegiatanku di kampus selama ini. Irham menyukai perubahan yang terjadi padaku. Aku juga sebenarnya telah lama mengagumi pribadinya. Semenjak kejadian malam tempo lalu di lift Tower kampus. Ternyata saat “hati” berbicara, kemampuan logika melumpuhkan segalanya. Aku menerima lamarannya, sungguh bagai mimpi bahwa saat ini dia ada dihadapanku. Orang tua kami pun senang, aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaan dibalik senyumanku ini.

Tak mampu kuuraikan semuanya dengan hamparan kata
Tak jua mampu kutuangkan semua dalam lautan tinta
Aku hanya manusia biasa..
Memiliki banyak asa dalam setiap doá
Tak takut aku kehilangan akan anugerah cinta manusia
Biar “hati” ini yang berbicara…
Yakin, kelak bertaburnya cinta dalam sebuah nama
Bersamanya..
Menggapai ridho bersamanya kelak hingga di syurga


*** the end ***

Medio Sapa April 2014
created by

“Neng Tari Khairunnisa”


Kulajukan motorku agar segera sampai di kampus. Ya, jarak tempuh dari rumahku ke kampus menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Sesampainya dipelataran parkiran kampus, aku sengaja menaruh motorku didekat gedung E, karena kelas pagiku saat ini ada disana. Segera kupercepat langkahku menuju koridor kelas yang berada di lantai 2 itu.
Sesampainya didepan pintu, kreeekk… kulihat, pak Lukman sedang memberikan pengarahan.
“Assalamu’alaikum, Pak. Maafkan saya telat datang pagi ini.” Kuatur nafasku sejenak sambil menunduk.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah. Habis malam mingguan ya kamu. Yasudah kamu cari kursimu, Nisa”. Aku kesal karena teman-temanku mentertawakanku, tapi yasudahlah yang penting Pak Lukman membolehkanku ikut mata kuliahnya, Testing dan Implementasi Sistem Informasi.
Aku mencari kursi, aku pilih untuk duduk dipojok belakang. Aku sebenarnya masih mengantuk, akibat chatting di Facebook dan nonton film korea semalaman suntuk hingga pukul 2 dini hari. Maklum, aku pecinta berat film Korea.

Yups, Namaku Layla Althafunnisa, teman-temanku biasa memanggilku Nisa. Dibilang tomboy tidak juga, terkadang aku memakai rok ke kampus.
Seusai mata kuliah Pak Lukman, aku dan Tari menuju kantin kampus. Tari adalah sahabatku. Dia shalehah, dan juga santun. Kami berteman sudah 6 tahun yang lalu, dari masa-masa bangku Tsanawiyah. Segera kubuka jaketku, terik matahari membuatku rasanya gerah sekali hari ini.
“Astaghfirullah, Nisa. Kamu pakai lagi jaketnya. Malu dilihat mahasiswa lainnya. Apa-apaan kamu pakai baju you can see gitu, itu auratmu !”. Bentak Tari melarangku, dan menyuruhku segera mengenakan jaketku lagi.
“Tar, gerah ini geraah.. kamu ini kayak ibuku tau nggak tadi pagi yang bawel menyuruhku melapisi dengan jaket, lagipula ini lagi trend style yang kayak gini”. Gerutuku sambil melihat Tari yang memandangku sinis.
“Aku ini sayang sama kamu, Nisa. Sebagai sahabat aku wajib mengingatkanmu. Sayang lho tubuh kamu yang mulus dan indah seperti ini kamu umbar di tempat umum, disini banyak mata para lelaki. Kamu harus mampu membedakan mana yang pantas dan tidak pantas. Kamu harus menghargai dan menjaga apa yang kamu miliki, Nisa”. Aku serasa ikut ceramah, dan posisiku sedang dinasehati sama sahabatku. Disaksikan sama mahasiswa lainnya pula lagi di kantin.
“Hehehe.. sudah ceramahnya, Tar? Iya..iya ini aku pakai lagi jaketku. Udah dehPlease jangan ceramah disini. Aku lapar,aku mau pesan makanan dulu, kamu mau pesan sekalian nggak?”. Tanya ku balik ke Tari.
Setelah tau pesanan Tari, kulangkahkan kakiku dan aku memesan makanan menuju stand ibu Melda, ibu kantin yang gaul dan sangat exist di kampusku.
***
Selepas maghrib, aku masih duduk di kantin kampus. Aku mulai suntuk. Selesai kuliah, aku seorang diri. Tari ada acara hari ini. Katanya sih tadi, ada pengajian di Masjid dekat rumahnya. Aku teringat sesuatu, 2 minggu yang lalu aku meminjam buku di perpustakaan, dan aku harus mengembalikannya hari ini. Aku sudah telat mengembalikannya.
Dan, sesampainya di Tower lantai 7. Aku bertemu Irham, teman sekelasku. Dia juga bekerja di kampus, sebagai Assistan Laboratorium.
“Nisa, kamu ngapain disini?” Tanya Irham padaku dan member senyuman khasnya.
“Aku mau dugem. Hehehe.. ya mau balikin buku lah, Irham. Gimana sih..” Candaku padanya.
“Dasar kamu..Hehehe sama, aku juga balikin buku, sudah selesai sih. Oke, aku duluan ya, Nisa”. Dan aku mengiyakannya.
Seusai aku mengembalikan buku. Aku menuju lift untuk turun menuju lantai dasar. Dan di lift, ada seorang mahasiswa laki-laki yang sudah ada didalam, aku tak mengenalnya. Posisiku didepannya dan yang membuatku risih karena mata lelaki itu terus memperhatikan tubuhku. Tapi selang Kemudian ada perkataan usil yang keluar dari mulutnya.
“Cantik, mau ya besok malam temenin gue. Eh, Jangan besok malam, kalo bisa sekarang aja gimana?”. Ucap seorang mahasiswa berbadan tegak dan tinggi sekitar 175 cm itu.
Dan aku sadar, leherku sudah dipegang olehnya. Aku memberi perlawanan dengan memberikan tamparan dan menghindarnya. Aku berteriak, tapi tak satupun yang bisa mendengar teriakanku. Aku masih terus memberikan perlawanan. Dan, Alhamdulillah.. Di lantai 2, lift terbuka. Ada Irham dihadapanku. Irham segera memberikan perlawanan pada mahasiswa yang telah melecehkanku.
Selang beberapa menit kemudian, Irham telah selesai memberi pelajaran pada mahasiswa itu. Ternyata, pria itu habis mengkonsumsi miras, tercium dari aroma yang keluar dari mulutnya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi teryata, dan Irham mengenalnya. Segera mahasiswa itu dilaporkan ke pihak keamanan kampus dan segera ditindak lanjuti.
Aku menangis, atas apa yang barusan menimpa diriku. Peristiwa itu cepat sekali. Aku duduk lemas di bangku taman kampus. Dan beberapa menit kemudian.
“Ambil, ini minuman buat kamu, Nis”. Segelas teh manis hangat yang ditawarkan Irham padaku.
Irham duduk disampingku. Meneguk teh manis hangatnya.
“Terima kasih ya, Irham. Aku nggak tau apa jadinya tadi kalo kamu nggak segera nolongin.” Ucapku menyesal dengan apa yang terjadi padaku hari ini.
“Iya. Lain kali kamu jangan sendirian aja kalo ditempat umum, dan juga kalo boleh saran, pakaian yang kamu pakai itu agak sopan ya, biar ndak keulang lagi kejadian seperti tadi. Bagus kamu ndak apa-apa. Sayangi diri kamu, Nis. Kamu itu berharga.” Ucap Irham menasehatiku.
“iya, terima kasih sarannya. Aku menyesal. Lain kali aku lebih sopan dalam berpakaian” Ucapku dan menyeruput teh manis hangatku.
Aku diantar pulang mas irham, aku dengan motorku, dan ia dengan motornya. Padahal rumah mas irham sangat jauh denganku. Sesampainya irumah, mas irham juga pamitan dengan keua orang tuaku.
Keesokan harinya, aku berniat keluar rumah dan juga ke kampus untuk mengenakan hijab. Ku baca dan kupelajari model hijab yang sedang trend saat ini. Kuarahkan wajahku ke cermin, kupakai hijab pashmina dengan model yang kubisa. Alhasil, ternyata aku cantik juga ya dengan mengenakan hijab.
Sesampainya dikampus, aku bertemu Tari. Tari terkejut dengan perubahanku, ada perasaan senang yang ia lontarkan padaku melihat sekarang aku mengenakan hijab ke kampus. Tapi Tari juga mengkritik cara dan mode hijabku, katanya hijabku masih transparent dan juga aku masih berpakaian ketat. Well,lagi-lagi aku salah dimata Tari.
***
Selang beberapa hari kemudian, aku terketuk dengan ucapan seorang anak kecil yang juga berprofesi sebagai pengamen jalanan cilik, ia terlihat lusuh, dan juga kotor namun ia mengenakan jilbab. Aku bertemu dengannya di Terminal bus Metromini jurusan Ciledug-Blok M. Lagi-lagi aku kena pelecehan, seorang pemuda tepat disampingku berdiri memandangku dari atas hingga bawah dan seraya mengutarakan maksudnya.
“Nona lebih cantik dengan tak mengenakan hijab, beramal jangan tanggung-tanggung”.
Mendengar ucapan itu, aku segera pindah tempat dan menjauh dari pemuda itu. Aku kesal dengan ucapannya yang memojokkanku. Aku berada di tempat yang agak jauh dari hiruk pikuknya keramaian, namun tiba-tiba muncul didepanku anak kecil yang tadi ku pikir jilbabnya lusuh dan juga kotor bahkan juga kebesaran. Perlahan ia menghampiriku lebih dekat.
“Kak, nunduk deh sebentar, terus pejamkan mata kakak yah..”. Pintanya padaku, dan aku segera cari tempat duduk terdekat dan menuruti permintaanya untuk duduk menunduk sambil memejamkan mataku dihadapan gadis kecil yang kupikir usianya sekitar 9 tahun. Entah apa yang diperbuatnya padaku. Aku hanya merasakan kepalaku sedang di make over olehnya.
Sekitar 3 menit kemudian…
“Seperti ini cara pakai jilbab yang benar, kakak tambah cantik tauu… “ucapnya sambil menyuruhku membuka mataku.
Dan “nyeeessss” saat hatiku berbicara dan bergejolak terkejut bukan main, melihat hijab yang kukenakan ada pada gadis kecil itu, dan jilbab yang kebesaran milik gadis kecil tiu ada diatas kepalaku.
“Kakak.. jilbab kakak buat Nayla aja yaa, ukurannya pas dikepala Nayla. Dan juga biar kakak nggak diejek lagi sama pemuda tadi karena jilbab Nayla lebih besar dari punya kakak” Ya, gadis kecil itu bernama Nayla. Ucapan singkatnya membuka mata hatiku. Aku malu pada seorang gadis cilik yang begitu prihatin padaku. Aku mengiyakan pintanya untuk bertukar hijab.
Kejadian itu membuka hati dan pikiranku. Begitu aku selalu mengandalkan logikaku, hingga mirisnya aku mengabaikan suara hatiku, suara hati Tari yang menyuruhku lebih mengulurkan jilbabku ke dada. Aku begitu mengejar trend yang justru menggadaikan ajaran syari’at agamu dalam mengenakan jilbab dengan benar.
Dari kejadian itu, aku menggali ilmu agamaku dengan bantuan Tari. Aku diajaknya mengikuti Lembaga Dakwah Kampus Al-Khawarizmi Fakultas Fasilkom dibawah naungan LDK Al-Faruq, aku belajar tajwid serta pengajian rutin kemuslimahan yang diadakan setiap sabtu pagi pukul 8. Tari sangat senang melihat perkembanganku menuju jalan yang diridhoi-Nya.
Sampai suatu ketika, saat aku baru sampai dari kampus sore hari, mobil Avanza berwarna Hijau lumut terparkir dihalaman rumahku. Aku bingung siapa yang bertamu. Kuayunkan langkahku memasuki rumahku.
“Assalamu’alaikum ayah.. bunda” Ucapku memberi salam seperti biasa saat aku masuk kerumahku. Sebelum sampai diruang tamu, ayah menghampiriku.
“Wa’alaikumussalam warohmatulah, ayo masuk Nisa. Ada tamu dari Yogyakarta nih, katanya teman kuliah kamu”. Hatiku bertanya-tanya, teman kampusku yang mana. Biasanya ada kabar kalau ada yang mau datang kerumah.
***
Aku terkejut dan juga senang, ternyata Irham beserta ayah dan ibunya yang berkunjung kerumahku. Irham berniat melamarku malam ini. Ternyata diam-diam Irham memperhatikan kegiatanku di kampus selama ini. Irham menyukai perubahan yang terjadi padaku. Aku juga sebenarnya telah lama mengagumi pribadinya. Semenjak kejadian malam tempo lalu di lift Tower kampus. Ternyata saat “hati” berbicara, kemampuan logika melumpuhkan segalanya. Aku menerima lamarannya, sungguh bagai mimpi bahwa saat ini dia ada dihadapanku. Orang tua kami pun senang, aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaan dibalik senyumanku ini.

Tak mampu kuuraikan semuanya dengan hamparan kata
Tak jua mampu kutuangkan semua dalam lautan tinta
Aku hanya manusia biasa..
Memiliki banyak asa dalam setiap doá
Tak takut aku kehilangan akan anugerah cinta manusia
Biar “hati” ini yang berbicara…
Yakin, kelak bertaburnya cinta dalam sebuah nama
Bersamanya..
Menggapai ridho bersamanya kelak hingga di syurga

*** the end ***

Medio Sapa April 2014
created by

“Neng Tari Khairunnisa”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.