Feeds:
Tulisan
Komentar

ay1

Gerimis berlapis-lapis tak kunjung berhenti mengiris sore ini.Udara kian lembab,Matahari senja sedang melukis pelangi di ufuk barat sana hingga spektrumnya terpendar dalam kamarku membentuk sejuta warna hati yg gelisah,dirundung cemas dipagut rindu yg kian menderu.

Ya Rab,izinkan aku bersama malaikat penurun hujan Mu,menabut benih hujan dari langit agar aku dapat menyirami separoh bumi yg tandus hingga aku dapat melihat senyum orang2 tercinta karena karunia Mu.Hingga aku dapat memandang anisa tersenyum dibalik kerudung hijaunya hingga aku dapat selalu memuji Mu atau izinkan aku menjelma bersama buih gerimis diluar jendela kamarnya agar aku dapat memandang lekat wajahnya sebagaimana Ia sedang melihatku.

Ya Rabb,aku sungguh jatuh cinta.
“Fajar…”
“Astaghfirullahal’adzim! Apa yg sedang kupikirkan? Ah,suara Ayah memanggilku aku menutup jendela kamar lalu segera menghampiri Ayah yg berada diruang tamu.
“Apa kitab Bulughul maram sudah kamu kembalikan ke kyai Faqih?”
“Sudah,Ayah.”
“Ada apa denganmu,Jar? Kelihatan aneh!” Ibu coba cermati sikapku.
“Ah,nggak apa2,Bu.Fajar hanya sedang senang saja karena nilai rapot anak2 lebih baik dari semester lalu.”
“O,begitu ya.” respon Ibu yg ragu dg jawabanku.
“Kamu sudah bertemu Anisa?”

“Subhanallah! Aku terperajat mendengar Ayah menanyakan tentang Anisa belum sempat aku menjawabnya Ibu sudang memberondong dg pertanyaan lain.
“Anisa cantik,kan? Kamu suka,kan? Kamu pasti menyesal telah menolak.Iya,kan? Jangan bohong! Ayo,mengaku sajalah?”

Wajahku memerah seketika seperti makaroni pedas dalam toples diatas meja aku malu sekali.Bagaimana mungkin aku berani mengatakan bahwa Anisa telah mencuri hatiku? Padahal kemarin aku telah bersikeras menolak perjodohan kami.Betapa bodohnya aku yg begitu gegabah mengambil keputusan andai bku menuruti permintaan Ayah,andai aku menikah dg Anisa.Ah,Anisa.

“Kemarin saja kamu ngeyel nggak mau sama Anisa sekarang coba lihat! Kamu seperti mabuk cinta,” lagi2 Ibu menggodaku sementara Ayah tertawa terbahak

“Apa sekarang kamu masih ngeyel nggak mau menikah dg Anisa?”
“Tidak Ayah.Saya ingin menikah dg Anisa” responku cepat agar mereka tidak menerorku terus tapi mereka malah terbahak mendengar ketegasanku untuk meminang Anisa menjadi Istriku sungguh aku tak sanggup menyimpan gejolak hati ini karena Anisa telah membolak-balik hatiku.Ya Rabb izinkan aku mencintainya karena Mu.

Mungkin rencana Ayah juga yg memintaku untuk mengembalikan kitab yg Ia pinjam kepada Kyai Faqih agar aku bisa bertemu langsung dg Anisa.

Sekitar jam 9 tadi pagi sebelum mengajar di MA Tebuireng aku menyempatkan untuk mengembalikan kitab tersebut selama perjalanan menuju rumah beliau aku terus menyusun alasan tentang penolakan atas perjodohanku dg putrinya.Aku tak mau Kyai Faqih tersinggung atau mungkin aku berharap Kyai Faqih sedang tidak berada dirumah hingga aku bisa menitipkan kitab Bulughul maram tersebut pada santrinya.

Ternyata aku salah sesampai didepan gerbang rumah Kyai Faqih aku melihat beliau sedang membersihkan halaman rumah bersama beberapa santrinya,aku menghampiri beliau lalu kami duduk diserambi mushala kecil didepan rumah ternyata beliau tidak menyinggung sama sekali tentang perjodohan itu.Beliau hanya menanyakan kabar Ayah dan Ibu serta mengingatkan untuk mengikuti pengajian Jama’ah Qur’aniyyah minggu depan.Aku tak ingin berlama-lama karena aku ada jam mengajar aku segera menyampaikan amanah Ayah pada beliau setelah menghabiskan secangkir kopi,aku mohon diri.

Saat itulah aku melihat Anisa keluar rumah.Ia mengenakan baju Muslimah putih yg bermotif sedikit bunga berwarna hijau dan kerudung hijau pupus.Subhanallah! Aku teringat akan kerudung hijau Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu’anha istri tercinta Rasulullah.2 tahun setelah wafatnya Khadijah datang wahyu kepada Rasulullah untuk menikah dg Aisyah radhiyallahu’anha sebagaimana diterangkan hadis riwayat Tirmidzi dari Aisyah “Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Rasulullah lalu berkata “Ini adalah Istrimu didunia dan diakherat

Begitu juga aku,aku berharap Anisa dapat menjadi Istriku didunia dan akherat kelak saling mencintai karena Allah semata.

Anisa berjalan menunduk begitu tahu aku sedang memandangnya.Sinar mentari pagi itu tak sehangat wajahnya,wajahnya yg bercahaya yg tiba2 menerobos pintu hatiku dan seakan-akan menghentikan detak jantungku.Aku coba menetralisir keadaan ini,aku segera pamit undur diri pada Kyai Faqih lalu aku menuntun motorku keluar rumah aku hanya bisa memandang Anisa dari kaca spion motorku.Kuperlambat langkahku agar kebahagiaan ini sedikit bertahan lama.Ah,Anisa.

Anisa menghampiri Ayahnya,lamat2 aku mendengar Anisa meminta izin untuk berangkat kuliah Anisa mencium tangan Ayahnya sementara aku menyalakan motorku dan meninggalkan Anisa bersama hatiku yg telah ia curi.

“Hai,Jar! Kok malam melamun!”
Astaghfirullah! Suara Ibu mengagetkanku.
“Kamu serius ingin menikah dg Anisa?” selidik Ayah.
“Ya,Fajar ingin menikah dg Anisa.”
“Baiklah.Besok Ayah sendiri yg akan menemui Kyai Faqih semoga saja Kyai Faqih masih mau mempertimbangkannya makanya,nurut sama orangtua! Ojo sak karepe dewe kemarin saja kamu ngeyel nggak mau menikah alasan sibuk mengajar lah,ingin konsentrasi belajarlah!”
Ayah mencercaku habis-habisan sebelum akhirnya mereka berdua menertawakanku sementara aku hanya bisa nyengir melihat mereka terus menggodaku.

Kemarin aku memang membuat banyak alasan ketika Ayah menjodohkanku dg Anisa tapi memang benar aku tak ingin menikah dulu masih banyak yg harus kukerjakan.Jika aku tiba2 menikah maka konsentrasi ku semakin terpecah akhirnya studi S1 ku di STKIP mungkin terbengkalai juga atau jika aku lebih memilih studi S1 ku,giliran istriku yg terlantarkan sungguh berdosanya aku bila demikian belum lagi jadwal mengajarkan di MA Tebuireng lumayan padat.

Namun,setelah bertemu Anisa tadi pagi rasanya semua aktivitas mengajar dan studi S1 ku terasa menjadi nomor kesekian.Aku ingin menikah dg Anisa menyempurmakan separuh ibadahku agar aku lebih tenang menjalani hidup berdamping dg istri yg shalehah.Insya Allah

Ya,Rabb.Aku sungguh jatuh cinta.

“Kamu juga harus shalat istikharah semoga Allah memberi petunjuk yg terbaik bagimu,” kata Ayah mengakhiri pembicaraan kami sore ini,kumandang adzan Magrib sudah terdengar.

***
Malam ini kami berkumpul bersama dimeja makan.Selesai makan Ayah memulai pembicaraan.
“Tadi sore Ayah bertemu Kyai Faqih ternyata Kyai Faqih ingin bertemu dan berbicara langsung denganmu mungkin beliau ingin mengetahui keseriusanmu untuk menikahi Anisa.Kyai Faqih sedikit kecewa karena sebelumnya kamu telah menolak perjodohan itu tapi semoga saja Kyai Faqih bisa mempertimbangkannya lagi.Besok sore Kyai Faqih menunggumu dirumahnya,Jar”
Aku mengangangguk sekali.

“Jangan lupa minta maaf atas penolakanmu kemarin.Perlihatkan keseriusanmu ingin membina keluarga dg Anisa,Cintailah Anisa karena Allah” kata ibu menambah kuatnya niatan suciku untuk meminang Anisa.

Seusai makan bersama,aku langsung kembali mengisi nilai rapot tengah semester anak2 kelas X1 IPA 1 yg kebetulan aku wali kelasnya aku membuka jendela kamar lebar2,hujan tak turun malam ini tapi mendung menyelimuti separuh langit hanya beberapa bintang yg berkelip diujung sana sementara bulan juga tersaput awan.Malam ini terasa membosankan bagiku.

Wahai malam mengapa engkau tak lekas pergi agar fajar cepat hadir dan sore lekas menjelang agar aku dapat segera bertemu kekasihku.Ah,Anisa izinkan aku tidur nyenyak malam ini aku tak ingin bertemu engkau lagi dalam mimpiku,aku tak ingin semakin jatuh cinta kepadamu.Wahai malaikat penjaga malam tolong sampaikan salam rinduku pada Anisa.

***
Hujan deras mengguyur sore ini dalam jas hujanku,aku memacu motorku ke dusun Tebuireng rumah Kyai Faqih yg hanya berjarak 5 km dari rumah kami yg berada didesa Cukir.Saat sampai rumahnya hujan mulai reda aku berteduh diserambi mushala sambil melipat jas hujanku dan merapikan diri.

Kyai Faqih menyambutku langsung dan mempersilahkan ku duduk.Terlihat bibir beliau masih bergemuruh tasbih.
“Bagaimana,Jar? Kemarin Ayahmu bilang jika kamu meralat keputusanmu.Benarkah?”

“Ya,Kyai.Saya minta maaf atas kekhilafan saya,saya terlalu gegabah mengambil keputusan tapi sejujurnya,Kyai.Saya mengambil keputusan itu karena saya masih takut menikah saya takut tidak bisa membagi waktu saya dengan istri yg berujung menelantarkannya selain mencemaskan soal nafkah Kyai juga tahu saya masih butuh biaya banyak untuk menyelesaikan studi S1 saya di STKIP.Sementara saya juga mengajar di MA Tebuireng dan Anisa juga masih kuliah di IKAHA kami sama2 sibuk dg aktifitas masing2 saya takut tidak bisa membahagiakan Anisa dan banyak kecemasan yg lain,Kyai.”

“Menikahlah,maka kalian akan kaya,Allahlah yg mencukupi kebutuhan kalian asal kalian menikah karena semata-mata karena Allah.Dan kawinlah orang2 yg sendirian diantara kamu,dan orang2 yg layak (berkawin) dari hamba2 sahayamu yg lelaki dan hamba sahayamu yg perempuan.Jika mereka miskin,Allah akan memampukan mereka dg karunia Nya.Dan Allah Maha luas (pemberian Nya) lagi maha mengetahui.

Aku tersenyum mendengar penjelasan Kyai Faqih hatiku berdesir semacam ada hawa surga yg tiba2 menyelinap ke dalam relung hati.

“Tapi mengapa kamu tiba2 berubah pikiran ingin menikah dg Anisa?”

Pertanyaan Kyai Faqih membuatku salah tingkah tiba2 sesosok tubuh muncul dari dalam rumah.Anisa membawa teh hangat untuk kami,rasanya jantungku berhenti sesaat melihat Anisa tersenyum dibalik kerudung putihnya lalu kami sama2 menunduk.Anisa meletakkan 2 cangkir diatas meja beruntung sekali aku yg masih bisa mencuri pandang lewat meja kaca yg membentuk bayangan wajah Ayu Anisa.

“Anisa,ini adalah Fajar putra Pak Yazid yg abi ceritakan kemarin”
Subhanallah! Untuk pertama kalinya Anisa menyapaku dg senyum cepat2 aku mengendalikan perasaan dan mencoba tersenyum sesederhana mungkin meski aku malu sekali lalu kami saling menunduk sebelumnya akhirnya Anisa kembali masuk kedalam rumah.

“Anisa,cantik kan?” kata Kyai Faqih sebelum terkekeh “Tapi aku tak ingin kamu menikahi Anisa karena kecantikannya aku ingin kamu menikahi Anisa dg tulus karena Allah.Anisa ingin melihat keseriusanmu,Ia sempat kecewa karena penolakanmu kemarin untuk itu Anisa meminta jika kamu serius ingin menikah dg Anisa maka kamu harus melakukan satu hal sebelum Anisa menerimamu menjadi suaminya.Apa kamu mau melakukannya?”

“Saya harus melakukan apa,Kyai?
Kyai Faqih menghela nafasnya lalu terdiam beberapa saat.
“Anisa ingin agar kamu melakukan mabit di Masjid Jami Cukir.I’tikaf lah didalam masjid selama 3 malam berturut-turut mulai ba’da Magrib hingga Subuh dan jangan keluar masjid selama i’tikaf tentu saja siang hari kamu boleh melakukan aktifitas seperti biasanya.Allah maha mengetahui apa kita kerjakan.Apa kamu bersedia,Jar?”

Aku menyetujui Permintaan Anisa meskipun terdengar aneh sekali bukan tentang mahar nikah atau semacamnya tapi ia memintaku untuk mabit di Masjid Jami Cukir.Ah,apapun itu aku akan memenuhi permintaannya.Insya Allah tak sulit i’tikaf selama 3 malam berturut dimasjid tanpa keluar masjid sekalipun.

“Baiklah,Kyai.Saya akan memenuhi permintaan Anisa”
“Kemarilah setelah kamu mabit selama 3 malam tata niatmu sebelum melakukan mabit.Jangan mabit karena Anisa tapi mabitlah karena Allah”

Masjid Jami Cukir letaknya sekitar 120 meter dari rumah kami dan 100 meter dari jalan raya.Sedikit masuk kedalam gang aku dan Ayah sering shalat Jum’at di masjid tersebut selain dimushala seberang jalan kami hanya cukup berjalan kaki saja untuk sampai kesana.

Masjid tersebut berhimpitan dg pesantren Darul Falah tak heran jika masjid tersebut selalu semarak oleh santri2 yg tholabul ilmi dipesantren besar itu.Masjid Jami Cukir lumayan luas dan sebagian telah bertingkat banyak sekali kegiatan yg rutin diadakan di masjid diantaranya kegiatan Remaja Masjid,pembacaan Maulid Diba’ hingga kegiatan mingguan ibu2 muslimah.Terlebih bulan Ramadhan.kegiatan dimasjid tersebut semakin semarak.Ada pengajian kitab salaf di setiap ba’da shalat subuh,dzuhur dan ashar yg dikaji oleh KH.Ishomuddin Hadzik dari Tebuireng dan 2 ustadz dari pesantren Darul Falah.

Namun ada satu kegiatan rutin yg melibatkan jama’ah yg cukup besar bahkan bisa mencapai ratusan bahkan ribuan jama’ah.Kegiatan jama’ah Thariqat Naq-Sabandiyah tersebut rutin diadakan setiap hari senin oleh karena itu kegiatan tersebut lebih populer dg nama senenan begitu banyaknya jama’ah biasanya hingga meluber mendekati jalan raya.

Aku mengenal beberapa takmir masjid tersebut ada Pak Hamid yg rumahnya tepat didepan masjid,Pak Zuhdi yg tinggal tepat diselatan seberang masjid dan beberapa teman remaja masjid lainnya.

Menjelang Magrib aku dan Ayah berangkat kemasjid.Aku telah membicarakan tentang rencana mabit malam ini pada Ayah aku hanya membawa mushaf Al Qur’an,sehelai jaket,sepotong roti,sebotol air mineral dan sedikit uang untuk jaga2 jika diperlukan.

Seusai shalat Magrib aku minta izin pada Pak Hamid untuk mabit malam ini dan insya allah 2 malam berikutnya.Pak Hamid pun mengizinkannya meskipun ia sedikit heran karena sebelumnya aku tidak pernah mabit dimasjid kecuali bulan ramadhan.Kalaupun diluar bulan ramadhan aku bermalan dimasjhd jika ada kegiatan remaja masjid yg berlangsung hingga larut malam dan aku malas untuk pulang.

Aku membaca Al Qur’an hingga menjelang shalat isya.Aku menata kembali niatku,aku ingin mabitku malam ini karena Allah bukan karena meminang Anisa atau tujuan yg lain.Hanya karena Allah semata.

Nawaitu i’tikafa lillahi ta’ala
Ba’da shalat isya dan shalat sunnah ba’diyah aku melanjutkan tiwalah Al Qur’an,aku tak sendiri malam itu ada beberapa santri yg menghabiskan malam dg membaca Al Qur’an tapi sayang satu persatu dari mereka meninggalkan masjid seiring merayapnya malam.

Menjelang pukul 10 malam,aku mulai letih karena terlalu lama duduk aku memperbarui wudhuku kemudian shalat tasbih 4 rakaat dg 2 salam berbeda dg shalat tasbih yg biasa dikerjakan pada siang hari,4 rakaat dg 1 salam.

Kubaca tasbih sebanyak 15 kali setelah membaca surah Al Fatihah dan surah Al Qur’an lainnya sedangkan setelah tasbih ruku’ aku bertasbih 10 kali begitu juga setelah membaca tahmid saat i’tidal setelah tasbih sujud,setelah duduk diantara 2 sujud dan setelah tasbih sujud kedua masing2 bertasbih 10 kali kemudian bertasbih 10 kali juga saat duduk istikharah menjelang rakaat pertama begitu juga pada rakaat kedua,ketiga dan keempat sehingga jumlah total semuanya ada 300 tasbih dalam 4 rakaat shalat tasbih.

Biasanya aku shalat tasbih sekali dalam sebulan Insya Allah aku akan mengerjakannya disetiap malam selama mabit di Masjid Jami Cukir ini menyenangkan sekali bisa mengerjakan shalat tasbih yg merupakan tuntunan Rasulullah ada semacam kekuatan dan energi positif yg kuhirup dari setiap tasbih yg kubaca hingga aku merasakan semakin dekat dg Allah.

“Jika engkau bisa mengerjakannya setiap hari satu kali maka kerjakan.Jika tidak bisa maka kerjakan pada setiap Jum’at satu kali,jika tidak bisa juga maka kerjakan dalam seumur hidupmu satu kali saja”

Malam semakin larut kini tinggal aku sendiri didalam masjid.Beberapa lampu diserambi masjid telah padam hanya lampu didalam masjid ini yg masih kubiarkan menyala.Aku meneruskan membaca Al Qur’an kembali.Bersembunyi dari balik jaketku dari terpaan angin yg menerobos celah pintu masjid sesekali kuteguk air mineral.

Saat mulai letih aku menyelinginya dg shalat sunnah 2 rakaat juga memperbanyak berdzikir aku tak ingin kesempatan berharga ini berlalu begitu saja.Rutinitas yg padat disetiap hari seringkali melalaikan aku untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah inilah saatnya untuk menambal celah2 amalan sunnah yaumiyah.

Tak terasa aku membaca Al Qur’an hingga pukul 1 pagi aku sangat letih hingga kubersandar didinding untuk mengurangi penatku aku terkantuk berkali-kali dalam duduk bersilaku sementara tanganku masih menggenggam mushaf kecil.

Hingga aku terjaga saat jam besar yg berada dipojok berdentang keras sekali sebanyak 2 kali aku meluruskan kedua kakiku yg terasa berat sekali karena berjam-jam duduk bersila kuteguk air mineral dan melahap sebungkus roti yg kubawa dari rumah.

Kemudian aku menggosok gigi dan berwudhu.Dalam sepertiga malam yg terakhir ini,angin malam berhembus semakin kencang langit sedikit berawan rembulan nampak temaran.

Pagi ini aku merasa tak sendiri tubuhku terasa hangat sekali meski angin sekali-kali menamparku saat mengambil air wudhu.Aku merasa ada ribuan malaikat turun ke bumi berebut wudhu denganku,sebelum menjemput ampunan doa dan asa dari hamba Allah yg sedang terjaga untuk Nya.

Aku mengerjakan shalat Tahajud sebanyak 6 rakaat kemudian kututup dg shatat witir sebanyak 3 rakaat aku berharap menemukan seperti malam terakhir milik Nya pada 2 malamku berikutnya karena aku ingin selalu menjadi hamba yg selalu disayang Allah.

Kemudian aku melanjutkan tilawah Al Qur’an hingga menjelang subuh aku berdiri lagi untuk shalat sunnah fajar 2 rakaat sebelum muazin mengumandangkan adzan subuh.

Alhamdulilah! Aku telah menyelesaikan mabit malam ini dg baik meski masih mengantuk berat aku tetap harus mengajar di MA Tebuireng dan mengerjakan tugas kuliahku.Aku beruntung sekali karena hari inh aku hanya mempunyai satu jam mengajar saja itu pun pagi hari jadi aku aisa qailulah yg cukup menjelang dzuhur untuk bekal mabit nanti malam.

Dalam mabit ke 2 malam ini aku juga membawa hasil ulangan harian yg harus kukoreksi.Bagaimanapun tugas tersebut merupakan tanggung jawabku sebagai pendidik aku berharap mabit ke 2 berjalan seperti kemarin.Aku pun melakukan amalan ibadah seperti kulakukan kemarin malam.Tilawah Al Qur’an,shalat tasbih,qiyamul lail dan memperbanyak dzikir.Alhamdulilah! Aku lebih banyak terjaga meski terkantuk menjelang shalat Tahajud.

***
Malam ke 3,berbeda dg malam pertama dan kedua mabit pada malam ketiga ini terasa lebih ringan.Aku merasa nyaman sekali bahkan aku dapat menyelesaikan tugas kuliahku dan Silabus serta rencana pelaksanaan pembelajaran hanya semalam meski belum berupa ketikan paling tidak aku akan lebih mudah mengetiknya karena aku sudah membuat drafnya.

Tugas kuliah tersebut hanya kukerjakan saat aku letih tilawah Al Qur’an namun aku lebih banyak memilih tilawah dalam setiap mabitku hingga aku sering terkantuk dalam duduk bersilaku dg mushaf Al Qur’an yg masih tergenggam ditangan.

Tiba2 aku terjaga oleh lantunan surah Al Qur’an yg sedikit keras,ada seorang yg sedang shalat tepat disampingku kupandang lekat wajahnya yg sepertinya aku mengenalnya.Subhanallah! Ia adalah Hasanuddin rumahnya tak jauh dari masjid ini,Ia juga siswa kelas X1 IPA 1 di MA Tebuireng.

Suaranya sangat merdu melantunkan surah Al Qur’an.Ia terlihat khusyuk dan thuma’ninah dalam sethap gerakan shalatnya aku tak henti2 nya bertasbih dalam hati.Hampir tak percaya ternyata masih ada remaja yg masih mau menghidupkan sepertiga malam terakhir Mu,Ya Allah.Remaja yg masih mau memakmurkan masjid.Aku harus banyak belajar padanya tentang semangat mendekatkan diri kepada Allah.Tentang hati yg selalu merindu untuk bertemu dengan Mu.

Saat aku menuju tempat wudhu untuk memperbarui wudhuku aku melihat sebuah becak yg sarat dg kubis,wortel,kentang dan sayuran lainnya aku baru tahu Hasanuddin juga membantu Ibunya mengantarkan sayuran untuk dijual dipasar padahal sekarang masih jam 3 pagi.Hasanuddin harus mengayuh becak yg sedemikian beratnya ditambah lagi dingin yg begitu sangat tapi ia masih mau menyempatkan diri untuk shalat Tahajud dimasjid sebelum mengantarkan sayurannya kepasar.Subhanallah!

Aku menghampiri Hasanuddin seusai salam kedua dari shalatnya.Ia hanya tersenyum bibirnya masih bergemuruh dzikir.
“Bapak masih disini? Ada kegiatan apa kok sampai bermalam dimasjid?” sapanya.
“Tidak ada,hanya ingin i’tikaf saja.Apa kamu qiyamul lail disini setiap hari?”
Hasanuddin hanya mengangguk sekali sembari tersenyum.
“Permisi,Pak.Saya harus mengantar sayuran kepasar.Sayurannya agak banyak khawatir belum selesai menatanya dikios saat subuh tiba.”

“Iya,silahkan.Hati2!”
Hasanuddin bergegas meninggalkan masjid.Hasanuddin yg kurus itu harus mengayuh becaknya yg sarat dg sayuran.Ya Rabb,izinkan aku memiliki putra yg saleh seperti dia suatu saat nanti anak yg tidak saja berbakti kepada orang tua tapi juga mencintai Mu.

Astaghfirullah! Kunci milik Hasanuddin tertinggal! Segera kupungut kunci yg tergeletak diatas karpet aku setengah berlari mengejar Hasanuddin dari becaknya aku teriak lirih saja,aku tak ingin membuat kegaduhan dipagi buta ini ternyata Hasanuddin telah berada diujung gang hendak menyeberang kejalan raya.Tanpa kunci itu,Hasanuddin tidak bisa membuka kiosnya.

“Hasanuddin! Kuncimu tertinggal!”
“Astaghfirullahal’adzim! Terima kasih,Pak.”
Aku hanya tersenyum sembari mengatur nafasku yg sengal sementara Hasanuddin dan becaknya tengah menyeberang jalan kemudian aku kembali ke masjid.

Astaghfirullah! Aku telah keluar dari masjid! Apakah Kyai Faqih akan memaklumi perbuatanku? Apakah beliau akan menerima alasanku? Apakah hanya sekedar mengembalikan sebuah kunci saja aku harus keluar masjid? Padahal bisa saja,Hasanuddin mengambil sendiri kuncinya yg tertinggal.Entahlah,bagaimanapun jika aku tak mengembalikannya langsung Hasanuddin tetap mengambil sendiri kuncinya tapi sungguh malang sekali jika ia harus kembali lagi dg becaknya yg berat itu atau jika ia memilih meninggalkan becaknya dijalan sementara ia harus kembali kemasjid maka sungguh rawan sekali nasib sayuran dan becaknya.

Apapun alasannya aku hanya ingin sedikit bersedekah pada pemuda pilihan Allah tersebut pemuda yg rela menanggalkan selimut hangatnya untuk menjemput segala keberkahan yg Allah telah dihamparkan Nya dipagi buta ini.Meskipun aku tahu aku telah kehilangan kesempatan untuk meminang Anisa.Ah,Anisa.

***

Sore ini aku menemui Kyai Faqih kembali.Sesuai permintaan beliau untuk menemuinya setelah kuselesaikan mabit selama 3 malam dimasjid.
“Bagaimana,Jar?” Bagaimana mabitmu?”
“Alhamdulillah,Kyai.Saya sudah mengerjakannya.Namun,afwan Kyai.Pada mabit yg ke 3 saya terpaksa harus keluar dari masjid.”
“Apa kamu masih ingat peraturannya?”
“Masih,Kyai.”

Kyai Faqih mengangguk berkali-kali.kami terdiam beberapa saat.Entah apa yg akan Kyai Faqih akan putuskan.
“Baiklah karena kamu telah keluar dari masjid kamu telah gagal.Apapun alasannya kamu telah gagal.Sekarang,apakah kamu masih ingin menikahi Anisa?”
“Insya Allah,hati ini masih ingin selalu menyentuh hati Anisa karena Allah lah saya mencintai Anisa izinkan saya menyempurnakan separuh ibadah saya bersama Anisa.”

“Tapi kamu telah gagal!”
Aku terdiam sekarang yg kubutuhkan hanya keiklasan untuk menerima apapun keputusan Kyai Faqih.
“Baiklah.Malam jumat besok ada mabit bersama di masjid Tebuireng,aku beri kesempatan sekali lagi karena kulihat kesungguhanmu.Jar,tapi ingat! Jangan keluar dari masjid lagi selama mabit! Dengan alasan apapun! Mabit ini hanya semalam pergunakan dg sebaik-baiknya tata lagi niatmu karena Allah maha mengetahui.”

Subhanallah! Kemurahan hati Kyai Faqih sungguh luar biasa.Aku harus mempergunakan kesempatan kedua ini dg baik aku harap tak ada halangan lagi dalam mabitku nanti.

Masjid Tebuireng letaknya ditengah-tengah koplek pesantren Tebuireng salah satu pesantren tertua di Indonesia ini,telah memiliki ribuan santri yg berasal dari penjuru tanah air dan beberapa dari luar negri dg tujuan nyantri atau sekadar riset penelitian.

Sebenarnya pesantren Tebuireng telah memiliki masjid baru yg megah letaknya tepat diutara SMP A.Wahid Hasyim yg merupakan salah satu sekolah dibawah yayasan pesantren Tebuireng.Masjid yg bernama Ulil Albab tersebut juga terletak dekat dg komplek Asrama pesantren putri Tebuireng.

Namun mabit bersama yg rutin tiap bulan sekali tersebut bertempat di masjid lama Tebuireng meski telah terjadi renovani disana sini karena sebagian kayu telah lapuk tapi sebagian besar bagian masjid ini masih menompangnya.Mihrab,jendela lantai dan bagian dalam masjid yg lainnya masih selalu dipertahankan dan dijaga keasliannya.

Nuasa pesantren salaf yg begitu kental dalam masjid ini.Ada kedamaian hati yg selalu kutemukan saat berada didalamnya karena selalu ada santri yg bersimpuh dan membaca Al Qur’an disini.Hingga nuansanya terasa begitu sejuk beradu dg lantunan lirih Al Qur’an dari bibir santri hingga aku slalu memilih shalat dibagian dalam masjid ini.Seakan kubisa merasakan kehadiran Allah dihatiku seakan ada sejuta malaikat bertasbih yg berdesakan dan berebut tempat denganku didalam masjid yg tidak terlalu luas ini.

Menjelang Magrib aku sudah berada dipelataran masjid Tebuireng ada banyak sekali masyarakat yg ikut dalam mabit malam ini.Banyak wajah2 yg tak asing bagiku Pak Rahmad Budiono guru Matimatika,Pak Bek guru sosiologi,Pak Saiful,Pak Na’im dan beberapa guru dilingkungan yayasan pesantren Tebuireng.Sepertinya mereka memang sengaja ingin ikut mabit bersama.

Aku segera mengambil tempat dishaf pertama karena aku ingin selalu mendapat keberkahan dalam shalatku.Aku menyesal sekali mengapa tidak dari dulu aku ikut mabit rutin setiap bulan ini aku selalu menolak ajakan Pak Rahmad untuk mabit.Aku hanya mengikuti pengajian kitab salaf oleh KH.Ishaq Latief selepas isya dipesantren Tebuireng ini padahal aku bersama jamaah mabit yg lain dapat menyatukan hati,berdzikir,memohon ampunan bersama hingga doa kami terakumulasi dan membumbung ke angkasa hingga cahaya Allah slalu menyinari hati dan keberkahan hidup selalu mengiringi kami.

Shalat Magrib berjamaah pun berlangsung dg Imam KH.Musta’in Syafii selaku dewan pengasuh.Lantunan surah Al Quq’an beliau sungguh indah hingga membuat kami khusyuk dalam setiap rakaat dan thuma’ninah dalam setiap rukun nya.

Seperti biasa jamaah shalat Magrib ini selalu membludak terlebit mabit bersama ini bahkan,hingga tersambung masuk kedalam komplek santri yg berhimpitan dg masjid.

Gemuruh dzikir bersama-sama seusai shalat begitu membahana hingga melambung tinggi dan nyaris menyentuh langit kemudian dilanjutkan shalat sunnah awwabin.Beberapa santri masih berada dalam masjid sekadar berdzikir atau membasahi bibir mereka dg hafalan dan tilawah Al Qur’an.

Setelah shalat isya berjamaah dilanjutkan dg pembacaan istighosah bersama kemudian dilanjutkan ceramah KH.Musta’in Syafii.Ceramah yg begitu memesona dan lincah disertai guyonan sederhana membuat para santri tergelak dan bersorak hingga kami tak terkantuk meski ceramah baru berakhir menjelang pukul 11 malam.

Beberapa santri terlihat meninggalkan masjid.Beberapa dari mereka melanjutkan dg membaca Al Qur’an bercengkrama bahkan telah terlelap diatas sajadah mereka.Aku memperbarui wudhuku kemudian shalat 2 rakaat dan melanjutkan tilawah Al Qur’an.Malam semakin beranjak tua berteman sunyi angin seakan tak berhembus dalam masjid ini hanya lantunan Al Qur’an yg saling beradu dan mengambang dilangit2 masjid hingga berjejal dan menerobos keluar jendela.Masjid ini seakan terangkat hingga kurang sekilan menyentuh langit.

Terkadang rasa kantuk menggelayut manja.Aku sering terkantuk dalam dudukku hingga aku beristighfar berkali-kali dan memperbarui wudhuku.Aku mendengar gemericik air dari kran yg tak tertutup rapat juga pada genangan air yg terus mengalir untuk mensucikan kaki sebelum ke masjid.Ah,terasa segar sekali menikmati setiap basuhan anggota wudhuku.

Saat hendak kembali kemasjid,aku melihat Pak Rahmad sedang menuntun Pak Na’im yg sedang menggigil kedinginan.
“Ada apa,Pak?”
“Pak Na’im masuk angin saya akan mengantarkannya pulang,” jawab Pak Rahmad sebelum batuk berkali-kali.Kulihat wajah Pak Rahmad juga pucat.
“Biar saya saja yg mengantarkan Pak Na’im pulang.Pak Rahmad sebaiknya pulang juga.”

kami membantu Pak Na’im dan menuntunnya ketempat pakir.

Saat aku mengantarkan pak Na’im aku menitikan air mata ,aku telah keluar masjid,aku telah menyia-nyiakan kesempatan kedua.Apakah ini pertanda aku dan Anisa tak berjodoh? Bagaimanapun,aku tidak mungkin membiarkan Pak Na’im dan Pak Rahmad sakit.
Ya Rabb,mudahkan segala urusanku

Selepas ashar aku menemui Kyai Faqih kembali,aku nyaris tanpa semangat menghadapi ini namun aku harus tetap menemui Kyai

Faqih dg membawa kegagalan ini meskipun aku sudah tahu keputusan apa yg akan Kyai Faqih ambil untukku.

“Mengapa kamu terlihat lesu,Jar?”
Aku hanya diam & tertunduk.
“Kamu gagal lagi?”
“Afwan,Kyai”

Tak terasa air mataku menitik.
“Astaghfirullahal’adzim! Aku tlah memberimu kesempatan ke 2 kamu tetap saja melewatkannya

Sudalah! pulanglah! kalian tak berjodoah!

Kyai Faqih beranjak dari kursinya dan meninggalkanku yg sedang tersedu.

Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya beranjak pergi,aku tidak mungkin menjelaskan apa yg terjadi.

Aku tak pernah melihat Kyai Faqih marah seperti ini.Aku menuntun motorku hingga sampai ke pagar rumah.Meninggalkan rumah Kyai Faqih bersama gerimis & air mata yg berjatuhan dipipikiu sore ini.

“Fajar!”
Tiba2 Kyai Faqih memanggilku berada Didepan pintu rumah.
“Kemarilah!”
Apa yg terjadi? Mengapa Kyai Faqih memanggilku?
“Kemarin ada 3 lelaki yg juga ingin Meminang Anisa mereka juga harus mabit selama 3 malam seperti mabitmu yg pertama tidak dimasjid Cukir tapi dimasjid Nurul Anwar Blimbing mereka akan mulai mabit malam Jumat lusa,aku beri kesempatan lagi kesempatan ygh terakhir bagimu.

Bergabunglah dg mereka bertiga!”
“Baiklah,Kyai”
Kemudian aku meninggalkan rumah Kyai Faqih saat itulah aku bertemu dg Anisa yg sedang berpayung.
Subhanallah! Kami saling berpandangan sekilas kemudian kami menunduk.Ia mengenakan baju Kurung putih berwarna putih sedikit kebiruan dibeberapa bagian ia terlihat anggun sekali.Ah,Anisa akankah kumiliki Hatimu?
Ya Rabb,jagalah hati ini dan pertemukan hati kami dg cinta Mu.

Ba’da Magrib aku baru sampai di Masjid Nurul Anwar ini,sedikit telat karena aku harus mengantar Ibu ke RSU Jombang ada tetangga Ibu yg melahirkan.

Masjid Nurul Anwar ini sangat sederhana bentuknya sebagian terlihat terbuka dan minim tembok hanya kaca bening dan beberapa ukiran kayu sederhana sehingga masjid ini nampak luas.

Aku bertemu 3 laki2,aku bisa menebaknya mereka adalah ke 3 saudaraku yg mabit dimasjid ini,ada tas rangsel disamping mereka.Mereka terlihat begitu siap untuk mabit malam ini.

Lelaki pertama bernama Pak Agus meski ia hanya lulusan SMA saja tapi ia telah tercatat sebagai PNS dikantor dinas pendidikan Kabupaten Jombang.Pak Baihaqi adalah lelaki kedua peserta mabit,ia lulusan Universitas Islam Malang sekarang mengajar di SMA N 3 Jombang.Lelaki ketiga bernama Pak Hasan,ia guru di MTS N Plandi Jombang kami berempat langsung akrab tanpa terlihat ada semacam persaingan atau permusuhan.Malah,mereka berniat mengundurkan diri jika mereka tahu bahwa yg melamar Anisa tidak seorang saja .Namun,akhirnya kami memutuskan untuk tetap menyelesaikan mabit ini apapun hasil dari keputusan Kyai Faqih nanti.

Seusai shalat isya dikejutkan oleh kedatangan seorang Pak Tua Yg hanya berkaos singlet dan bersarung tapi kami tahu ia bukan orang gila hanya lelaki tua yg miskin dan pikun entah dari mana asalnya tiba2 sudah berada diserambi masjid.

Kami mencoba bertanya tentang tempat tinggalnya hanya terjawab dg gelengan dan anggukan kepala kemudian Pak Baihaqi memberikan sebungkus nasi untuk Pak Tua tersebut.Pak Tua itu langsung melahapnya seketika,kami coba bertanya tentang nama dan alamatnya ia hanya mengangguk berkali-kali bahkan bicaranya ngelantur.

Tiba2 Pak Tua tersebut menggigil serta merta Pak Baihaqi melepas jaket yg ia kenakan dan langsung diberikan kepada Pak Tua.

“Rumah saya di Pulerejo,saya mau kesurabaya tapi uang hilang dibus.Saya mau ke Surabaya”

Rupanya Pak Tua itu telah kehilangan uang dibus atau mungkin lupa tidak membawa uang untuk ke Surabaya

Hingga kondektur bus menurunkannya di depan masjid.
“Mengapa ke Surabaya” tanyaku.
“Cucu!” jawabnya singkat.
“Apakah keluarga dirumah tahu,jika Bapak pergi ke Surabaya?”

Pak Tua itu hanya menggeleng,sementara Pak Baihaqi mengancingkan jaket yg Pak Tua kenakan kemudian Pak Baihaqi memberi sejumlah uang untuk Pak Tua kedermawanan Pak Baihaqi memang luar biasa.

“Ini sekadarnya,Pak.Pulanglah! Keluarga Bapak dirumah pasti sangat mencemaskan lain kali saja ke Surabaya.Bersama keluarga saja,jangan sendiri ya,Pak” pinta Pak Baihaqi.

“Tidak! Saya tidak mau uang,saya mau ke Surabaya bertemu cucu!”
“Ke Surabaya lain kali saja,ini sudah larut malam sebaiknya bapak segera pulang keluarga dirumah pasti sedang kebingungan mencari Bapak” pinta Pak Baihaqi kembali.

Akhirnya ia mau menerima uang pemberian Pak Baihaqi kemudian kami mengantarkan ke bibir serambi masjid sementara Pak Tua itu berjalan sendiri kearah jalan raya untuk menunggu bus ke Pulorejo.

Tapi aku tidak tega,bagaimana mungkin membiarkan Pak Tua yg pikun itu pulang sendiri? Akankah ia benar2 pulang? Atau malah nekat ke Surabaya lagi? Tidak,aku tidak mungkin membiarkan Pak Tua pikun itu pulang sendiri.Aku segera menyusul dan mengantarnya pulang dg motorku.

***

Ada sebuah kereta kelinci yg diparkir didepan masjid Nurul Anwar sore ini.Puluhan santri TPQ sedang belajar Qira’ati diserambi masjid sebagian tertib mengaji tapi ada yg berlarian hingga membuat sibuk ustadz dan ustadazahnya mereka terlihat lucu dg kerudung penceng diwajahnya sementara itu ketiga saudaraku juga terlihat sibuk mengajar Qira’ati.

Pak Hasan menghampiriku,kuucap salam padanya.
“Mereka ini adalah santri TPQ dari Nurul Iman kami sengaja mengajak mereka kesini dalam rangka memakmurkan masjid.Pembelajaran Qira’ati dimasjid ini kurang berkembang dg adanya kegiatan seperti ini diharapkan masyarakat disini kebih antusias pada pendidikan Al Qur’an putra putrinya sekaligus juga bisa menjadi rekreasi bagi santri TPQ Nurul Iman yg lebih penting Kyai Faqih akan terkesan dg mabit kita!”

Subhanallah! Aku mengiyakan niatan mereka yg ingin memakmurkan masjid ini dg cara mendatangkan santri TPQ Nurul Iman yg Pak Hasan sendiri yg menjadi pendidik di TPQ tersebut.

Menjelang Magrib semua aktifitas TPQ sudah selesai mereka sudah kembali pulang dg kereta kelinci.Masjid mulai lenggang kembali,tenang.

Selepas isya kami berempat mengadakan diskusi sederhana dg menelaah dan mengambil hikmaq surah dari Al Qur’an kemudian kami lanjutkan pada shalat tasbih berjamaah lalu istirahat karena nanti malam kami Qiyamul lail bersama.

Malam ini terasa dingin sekali tak seperti mabit malam pertama kemarin hingga aku mengenakan 2 jaket sekaligus untung saja karpet dimasjid ini lumayan tebal,aku melanjutkan tilawah Al Qur’an hingga separuh malam.

***
Aku datang menjelang Magrib pada mabit ke 3 malam ini meski aku telah gagal dalam mabitku yg pertama tapi aku ingin tetap mabit dan beri’tikaf malam ini,aku juga bisa shalat tasbih berjamaah dg ke 3 saudaraku.

Terkadang ingin menangis jika teringat akan Anisa.Kenapa Allah tak mengizinkan hati kami bertemu? Adakah hati ini telah kotor? Ya Rabb,Zat yg maha mengetahui segala isi hati jika hati ini tak mencintai Anisa karena Mu maka hapuslah hasratku untuk memilikinya namun jika hati ini mencintai Anisa karena Mu maka pertemukan hati kami dalam naungan cinta Mu ikatlah hati kami dg temali cinta Mu agar keberkahan Mu selalu menyertai kami.

Saat aku datang sebagian pagar masjid telah bercat baru padahal sebelumnya warna putihnya telah pudar ternyata ke 3 saudaraku tersebut baru saja mengecat pagar masjid.

“Tadi kami bertiga mengecat pagar tapi belum selesai,habis isya nanti kami akan melanjutkan lagi jika mau Pak Fajar juga bisa ikut.Ya itung-itung untuk memakmurkan masjid kalau masjid lebih indah banyak pula jamaah yg datang ini dalam rangka memberi kesan baik akam kehadiran kita bahwa kita tidak saja mabit tapi juga memperindah masjid,apalagi besok kita sudah tidak disini lagi.

Astaghfirullah! Aku beristighfar lirih mendengar penjelasan Pak Agus.
“Afwan,Pak malam ini saya tidak mabit disini saya minta izin karena malam ini saya harus ikut membantu mempersiapkan untuk acara akhir sanah madrasah sekolah besok.

Pak Agus terlihat kecewa dg penolakanku,aku lebih memilih mementingkan acara akhir sanah besok karena aku yg bertanggung jawab untuk acara besok.
“Jika meninggalkan masjid ini berarti Pak Fajar gagal”
“Saya tahu,Pak.Biarlah mungkin bukan rezeki saya mungkin Anisa bukan jodoh saya tapi besok sore saya tetap akan menemui Kyai Faqih.”

***
Angin sore masih bergetar didedaunan pohon anggur daunnya lebat menutupi sebagian halamah rumah Kyai Faqih.Sinar matahari sore ini terasa hangat anak2 kecil berlarian mereka hendak mengaji di TPQ milik Kyai Faqih sementara kulihat Anisa duduk disamping abi nya kemudian ia beranjak masuk kedalam rumah setelah mengetahui kedatanganku.Kyai Faqih langsung menyambutku dg hangat dan wajah yg berseri-seri.

“Kalian akan menikah tahun ini atau tahun depan? Secepatnya saja!”
“Subhanallah! Apa maksud Kyai? Siapa yg akan menikah?”

Kyai Faqih malah tertawa keras sekali hingga kursinya bergetar.
“Ya,kamu dg Anisa,Jar! Siapa lagi?”
“Subhanallah! Mengapa?”
Lagi2 Kyai Faqih tertawa terbahak,aku semakin tidak mengerti.
“Apa kamu sudah berubah pikiran lagi?”
“Tapi,Kyai.Afwan saya tidak mengerti bukankah saya telah gagal memenuhi syarat? Bahkan mabit di masjid Nurul Anwar pun saya gagal”

“Justru karena gagal itulah kamu akan menikah dg Anisa.Sekarang ceritakan alasan mengapa kamu mengantarkan kunci milik Hasanuddin yg tertinggal?”
“Bagaimana Kyai tahu?”
“Sudahlah! Ceritakan saja!”
“Saya simpati sekali pada pemuda seperti Hasanuddin tidak saja berbakti pada orang tua,dg mengayuh becak yg sarat sayuran dan menyiapkannya untuk dijual dipasar tapi ia juga mencintai Allah,ia menyempatkan untuk Qiyamul lail dimasjid sebelum ia berangkat kepasar dipagi buta.Subhanallah! Jika saya tidak mengantar kuncinya maka ia akan kembali dg mengayuh becak yg penuh dg sayuran ituatau jika becaknya telah sampai dipasar,dan ia kembali kemasjid tanpa becak maka akan butuh banyak waktu padahal saat itu telah menjelang subuh,saya hanya ingin sedikit bersedekah pada pemuda pilihan tersebut meskipun saya tahu perbuatan saya tersebut dapat menggagal pernikahan saya.”

“Lalu mengapa kamu mengantar Pak Na’im pulang?”
“Kyai juga tahu tentang itu?”
“Sudahlah! Ceritakan saja!”
“Saat mabit dimasjid Tebuireng tersebut,Pak Na’im terlihat sakit awalnya Pak Rahmad yg ingin mengantarkannya pulang tapi Pak Rahmad juga terlihat sakit kemudian sayalah yg ganti mengantar Pak Na’im pulang karena esoknya Pak Na’im ada jam mengajar kewajiban manusia tidak saja beribadah kepada Allah melainkan juga menolong sesama manusia.Saya hanya ingin sedikit bersedekah,biarlah saya kehilangan kesempatan ke 2 saya.”

“Berarti kamu sudah tidak ingin menikah dg Anisa?”
“Justru saya semakin mantap ingin menikah dg Anisa,menyempurnakan separuh ibadah bersama Anisa.Saya berusaha menjaga kemurnian niat,saya tak ingin menikah dg Anisa hanya karena berhasil menyempurnakan mabit.Apakah mabit saya akan barakah jika saya melalaikan orang lain yg membutuhkan pertolongan saya?”

“Lalu mengapa kamu juga mengantar Mbah Pur pulang ke Pulorejo?”
“Maksud Kyai,lelaki tua yg dimasjid Nurul Anwar?”
Kyai Faqih hanya mengangguk.Aku hampir tidak percaya ternyata Kyai Faqih juga mengenal Pak Tua yg pikun itu.
“Saya juga tidak mungkin membiarkan Pak Tua itu pulang sendiri,Kyai.Ia sudah tua dan pikun saya khawatir keluarganya pasti sangat cemas karena Mbah Pur pergi tanpa pamit.Anehnya,saat sampai dirumah Mbah Pur keluarganya terlihat tenang sekali.”

Kyai Faqih malah tertawa mendengar penjelasanku sementara aku semakin tidak mengerti.
“Mengapa kamu menolak ajakan mengecat masjid?”
“Menurut saya cara mereka memakmurkan masjid adalah kurang tepat tidak dg menghias masjid tapi dg mendekatkan diri pada Allah serta amar ma’ruf nahi munkar bahkan Rasulullah pernah merobohkan masjid yg dibangun oleh orang2 munafik.Begitu juga ketika membawa santri TPQ Nurul Iman ke masjid Nurul Anwar bukan cara mereka yg keliru tapi niat mereka kurang tepat.

Hanyalah yg memakmurkan masjid2 Allah ialah orang yg beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan shalat,menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah maka merekalah orang2 yg diharapkan termasuk golongan orang2 yg mendapat petunjuk.

Maaf kelancangan saya,Kyai.Tujuan yg baik berawal dari niat yg baik pula kita sering kali terjebak pada hal2 yg sebenarnya bertujuan baik namun penyakit hati seringkali mengancam niatan suci untuk itu menjaga kemurniatan niat karena Allah semangat sangat penting itulah yg berusaha saya lakukan.”
“Barakallahulaka! Menikahlah dg Anisa,putraku!”
“Apa maksud,Kyai?”

“Sebenarnya semua penghalang dalam mabitmu,kamilah yg mengaturnya kami minta bantuan Hasanuddin,Pak Na’im,Pak Rahmad,Mbah Pur,Pak Agus,Pak Baihaqi dan Pak Hasan untuk menggagalkan mabitmu semua hanya sandiwara!”

“Astaghfirullahal’adzim! Apa maksud,Kyai?”
“Dari semula kami telah merestui pernikahan kalian.Ini hanya permainan,Anisa yg merencanakannya.”
“Mengapa,Kyai?” Apakah ini balasan dari Anisa karena saya sempat menolak perjodohan kemarin?”

“Tidak,putraku.Kami hanya ingin mengetahui kejernihan hatimu menyikapi hal yg kuhadapi.Anisa yg lebih tahu alasan tepatnya,lebih jelasnya kamu bisa menanyakannya setelah kalian menikah nanti itupun jika kamu tidak berubah pikiran lagi.”
“Saya tetap ingin menikah dg Anisa apapun alasan Anisa,izinkan saya untuk mencintai Anisa karena Allah.”

Hari pernikahan pun tiba,resepsi yg sederhana digelar dihalaman rumah Kyai Faqih sementara ijab qabul berlangsung semalam.Kyai Faqih sendiri yg menikahkan kami sebuah mushaf Al Qur’an yg cantik dan seperangkat alat shalat lengkap telah kuberikan sebagai mahar namun mahar sebenarnya adalah mahar cinta yg tulus karena Allah yg telah kupersembahkan kepada Anisa.

Gerimis malam ini seakan tanpa henti tapi aku suka,aku teringat pada aku yg dulu yg slalu menitipkan doa diantara rintik gerimis agar dapat menikmati gerimis tak seorang diri ada belahan hati yg menemani indahnya gerimis yg bertasbih disetiap rintiknya.

Permintaan hati tersebut terwujud malam ini aku dapat mendekap Anisa belahan hati yg aku cintai setelah kami shalat sunnah 2 rakaat bersama kami menikmati gerimis yg berjatuhan diluar jendela kini Anisa telah berada dalam dekapanku.

“Maafkan aku,suamiku.Mabit itu sekadar sandiwara untuk menguji kesungguhan dan keimanan calon suamiku.Apakah ia mencintaiku karena kecantikanku ataukah mencintaiku karena Allah.”

“Mengapa kamu melakukan itu?”
“Sssttt… Jangan terburu-buru,”jemari lembut tangannya menyentuh bibirku.”Aku akan menjawabnya setelah kamu melakukan tugasmu.”
Anisa menutup jendela kamar lalu menguncinya.
“Tugas apa?”

Anisa malah tertawa kecil sembari memutar tubuhnya hingga kerudungnya terjatuh dan tergerai rambut indahnya hingga ia jatuh dalam pelukanku.
“Tugasmu adalah mabit malam ini,suamiku.Tidak diluar melainkan didalam kamar ini!”

Kulihat surga saat kutatap matanya kubaca isyarat cinta pada setiap gerak bibirnnya hingga kubertasbih memuji Nya berulangkali hingga ia berbisik ditelingaku,”Karena… Karena aku ingin meyakinkan diriku bahwa engkau mencintaiku karena Allah.”

Angin dan gerimis masih bercumbu sembari bertasbih diluar sana,penuh cinta,penuh berkah sesekali menyapa kami dg lembut lewat celah jendela hingga kami selalu berselimut kebahagiaan dan keberkahan.

Tamat.

Sumber : (‘•.Jangan Jadi Muslimah Nyebelin.•’)
Sumber : (‘•.Jangan Jadi Muslimah Nyebelin.•’)

Karya:MUHAMMAD TAUFIQ


Kulajukan motorku agar segera sampai di kampus. Ya, jarak tempuh dari rumahku ke kampus menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Sesampainya dipelataran parkiran kampus, aku sengaja menaruh motorku didekat gedung E, karena kelas pagiku saat ini ada disana. Segera kupercepat langkahku menuju koridor kelas yang berada di lantai 2 itu.
Sesampainya didepan pintu, kreeekk… kulihat, pak Lukman sedang memberikan pengarahan.
“Assalamu’alaikum, Pak. Maafkan saya telat datang pagi ini.” Kuatur nafasku sejenak sambil menunduk.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah. Habis malam mingguan ya kamu. Yasudah kamu cari kursimu, Nisa”. Aku kesal karena teman-temanku mentertawakanku, tapi yasudahlah yang penting Pak Lukman membolehkanku ikut mata kuliahnya, Testing dan Implementasi Sistem Informasi.
Aku mencari kursi, aku pilih untuk duduk dipojok belakang. Aku sebenarnya masih mengantuk, akibat chatting di Facebook dan nonton film korea semalaman suntuk hingga pukul 2 dini hari. Maklum, aku pecinta berat film Korea.

Yups, Namaku Layla Althafunnisa, teman-temanku biasa memanggilku Nisa. Dibilang tomboy tidak juga, terkadang aku memakai rok ke kampus.
Seusai mata kuliah Pak Lukman, aku dan Tari menuju kantin kampus. Tari adalah sahabatku. Dia shalehah, dan juga santun. Kami berteman sudah 6 tahun yang lalu, dari masa-masa bangku Tsanawiyah. Segera kubuka jaketku, terik matahari membuatku rasanya gerah sekali hari ini.
“Astaghfirullah, Nisa. Kamu pakai lagi jaketnya. Malu dilihat mahasiswa lainnya. Apa-apaan kamu pakai baju you can see gitu, itu auratmu !”. Bentak Tari melarangku, dan menyuruhku segera mengenakan jaketku lagi.
“Tar, gerah ini geraah.. kamu ini kayak ibuku tau nggak tadi pagi yang bawel menyuruhku melapisi dengan jaket, lagipula ini lagi trend style yang kayak gini”. Gerutuku sambil melihat Tari yang memandangku sinis.
“Aku ini sayang sama kamu, Nisa. Sebagai sahabat aku wajib mengingatkanmu. Sayang lho tubuh kamu yang mulus dan indah seperti ini kamu umbar di tempat umum, disini banyak mata para lelaki. Kamu harus mampu membedakan mana yang pantas dan tidak pantas. Kamu harus menghargai dan menjaga apa yang kamu miliki, Nisa”. Aku serasa ikut ceramah, dan posisiku sedang dinasehati sama sahabatku. Disaksikan sama mahasiswa lainnya pula lagi di kantin.
“Hehehe.. sudah ceramahnya, Tar? Iya..iya ini aku pakai lagi jaketku. Udah dehPlease jangan ceramah disini. Aku lapar,aku mau pesan makanan dulu, kamu mau pesan sekalian nggak?”. Tanya ku balik ke Tari.
Setelah tau pesanan Tari, kulangkahkan kakiku dan aku memesan makanan menuju stand ibu Melda, ibu kantin yang gaul dan sangat exist di kampusku.
***
Selepas maghrib, aku masih duduk di kantin kampus. Aku mulai suntuk. Selesai kuliah, aku seorang diri. Tari ada acara hari ini. Katanya sih tadi, ada pengajian di Masjid dekat rumahnya. Aku teringat sesuatu, 2 minggu yang lalu aku meminjam buku di perpustakaan, dan aku harus mengembalikannya hari ini. Aku sudah telat mengembalikannya.
Dan, sesampainya di Tower lantai 7. Aku bertemu Irham, teman sekelasku. Dia juga bekerja di kampus, sebagai Assistan Laboratorium.
“Nisa, kamu ngapain disini?” Tanya Irham padaku dan member senyuman khasnya.
“Aku mau dugem. Hehehe.. ya mau balikin buku lah, Irham. Gimana sih..” Candaku padanya.
“Dasar kamu..Hehehe sama, aku juga balikin buku, sudah selesai sih. Oke, aku duluan ya, Nisa”. Dan aku mengiyakannya.
Seusai aku mengembalikan buku. Aku menuju lift untuk turun menuju lantai dasar. Dan di lift, ada seorang mahasiswa laki-laki yang sudah ada didalam, aku tak mengenalnya. Posisiku didepannya dan yang membuatku risih karena mata lelaki itu terus memperhatikan tubuhku. Tapi selang Kemudian ada perkataan usil yang keluar dari mulutnya.
“Cantik, mau ya besok malam temenin gue. Eh, Jangan besok malam, kalo bisa sekarang aja gimana?”. Ucap seorang mahasiswa berbadan tegak dan tinggi sekitar 175 cm itu.
Dan aku sadar, leherku sudah dipegang olehnya. Aku memberi perlawanan dengan memberikan tamparan dan menghindarnya. Aku berteriak, tapi tak satupun yang bisa mendengar teriakanku. Aku masih terus memberikan perlawanan. Dan, Alhamdulillah.. Di lantai 2, lift terbuka. Ada Irham dihadapanku. Irham segera memberikan perlawanan pada mahasiswa yang telah melecehkanku.
Selang beberapa menit kemudian, Irham telah selesai memberi pelajaran pada mahasiswa itu. Ternyata, pria itu habis mengkonsumsi miras, tercium dari aroma yang keluar dari mulutnya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi teryata, dan Irham mengenalnya. Segera mahasiswa itu dilaporkan ke pihak keamanan kampus dan segera ditindak lanjuti.
Aku menangis, atas apa yang barusan menimpa diriku. Peristiwa itu cepat sekali. Aku duduk lemas di bangku taman kampus. Dan beberapa menit kemudian.
“Ambil, ini minuman buat kamu, Nis”. Segelas teh manis hangat yang ditawarkan Irham padaku.
Irham duduk disampingku. Meneguk teh manis hangatnya.
“Terima kasih ya, Irham. Aku nggak tau apa jadinya tadi kalo kamu nggak segera nolongin.” Ucapku menyesal dengan apa yang terjadi padaku hari ini.
“Iya. Lain kali kamu jangan sendirian aja kalo ditempat umum, dan juga kalo boleh saran, pakaian yang kamu pakai itu agak sopan ya, biar ndak keulang lagi kejadian seperti tadi. Bagus kamu ndak apa-apa. Sayangi diri kamu, Nis. Kamu itu berharga.” Ucap Irham menasehatiku.
“iya, terima kasih sarannya. Aku menyesal. Lain kali aku lebih sopan dalam berpakaian” Ucapku dan menyeruput teh manis hangatku.
Aku diantar pulang mas irham, aku dengan motorku, dan ia dengan motornya. Padahal rumah mas irham sangat jauh denganku. Sesampainya irumah, mas irham juga pamitan dengan keua orang tuaku.
Keesokan harinya, aku berniat keluar rumah dan juga ke kampus untuk mengenakan hijab. Ku baca dan kupelajari model hijab yang sedang trend saat ini. Kuarahkan wajahku ke cermin, kupakai hijab pashmina dengan model yang kubisa. Alhasil, ternyata aku cantik juga ya dengan mengenakan hijab.
Sesampainya dikampus, aku bertemu Tari. Tari terkejut dengan perubahanku, ada perasaan senang yang ia lontarkan padaku melihat sekarang aku mengenakan hijab ke kampus. Tapi Tari juga mengkritik cara dan mode hijabku, katanya hijabku masih transparent dan juga aku masih berpakaian ketat. Well,lagi-lagi aku salah dimata Tari.
***
Selang beberapa hari kemudian, aku terketuk dengan ucapan seorang anak kecil yang juga berprofesi sebagai pengamen jalanan cilik, ia terlihat lusuh, dan juga kotor namun ia mengenakan jilbab. Aku bertemu dengannya di Terminal bus Metromini jurusan Ciledug-Blok M. Lagi-lagi aku kena pelecehan, seorang pemuda tepat disampingku berdiri memandangku dari atas hingga bawah dan seraya mengutarakan maksudnya.
“Nona lebih cantik dengan tak mengenakan hijab, beramal jangan tanggung-tanggung”.
Mendengar ucapan itu, aku segera pindah tempat dan menjauh dari pemuda itu. Aku kesal dengan ucapannya yang memojokkanku. Aku berada di tempat yang agak jauh dari hiruk pikuknya keramaian, namun tiba-tiba muncul didepanku anak kecil yang tadi ku pikir jilbabnya lusuh dan juga kotor bahkan juga kebesaran. Perlahan ia menghampiriku lebih dekat.
“Kak, nunduk deh sebentar, terus pejamkan mata kakak yah..”. Pintanya padaku, dan aku segera cari tempat duduk terdekat dan menuruti permintaanya untuk duduk menunduk sambil memejamkan mataku dihadapan gadis kecil yang kupikir usianya sekitar 9 tahun. Entah apa yang diperbuatnya padaku. Aku hanya merasakan kepalaku sedang di make over olehnya.
Sekitar 3 menit kemudian…
“Seperti ini cara pakai jilbab yang benar, kakak tambah cantik tauu… “ucapnya sambil menyuruhku membuka mataku.
Dan “nyeeessss” saat hatiku berbicara dan bergejolak terkejut bukan main, melihat hijab yang kukenakan ada pada gadis kecil itu, dan jilbab yang kebesaran milik gadis kecil tiu ada diatas kepalaku.
“Kakak.. jilbab kakak buat Nayla aja yaa, ukurannya pas dikepala Nayla. Dan juga biar kakak nggak diejek lagi sama pemuda tadi karena jilbab Nayla lebih besar dari punya kakak” Ya, gadis kecil itu bernama Nayla. Ucapan singkatnya membuka mata hatiku. Aku malu pada seorang gadis cilik yang begitu prihatin padaku. Aku mengiyakan pintanya untuk bertukar hijab.
Kejadian itu membuka hati dan pikiranku. Begitu aku selalu mengandalkan logikaku, hingga mirisnya aku mengabaikan suara hatiku, suara hati Tari yang menyuruhku lebih mengulurkan jilbabku ke dada. Aku begitu mengejar trend yang justru menggadaikan ajaran syari’at agamu dalam mengenakan jilbab dengan benar.
Dari kejadian itu, aku menggali ilmu agamaku dengan bantuan Tari. Aku diajaknya mengikuti Lembaga Dakwah Kampus Al-Khawarizmi Fakultas Fasilkom dibawah naungan LDK Al-Faruq, aku belajar tajwid serta pengajian rutin kemuslimahan yang diadakan setiap sabtu pagi pukul 8. Tari sangat senang melihat perkembanganku menuju jalan yang diridhoi-Nya.
Sampai suatu ketika, saat aku baru sampai dari kampus sore hari, mobil Avanza berwarna Hijau lumut terparkir dihalaman rumahku. Aku bingung siapa yang bertamu. Kuayunkan langkahku memasuki rumahku.
“Assalamu’alaikum ayah.. bunda” Ucapku memberi salam seperti biasa saat aku masuk kerumahku. Sebelum sampai diruang tamu, ayah menghampiriku.
“Wa’alaikumussalam warohmatulah, ayo masuk Nisa. Ada tamu dari Yogyakarta nih, katanya teman kuliah kamu”. Hatiku bertanya-tanya, teman kampusku yang mana. Biasanya ada kabar kalau ada yang mau datang kerumah.
***
Aku terkejut dan juga senang, ternyata Irham beserta ayah dan ibunya yang berkunjung kerumahku. Irham berniat melamarku malam ini. Ternyata diam-diam Irham memperhatikan kegiatanku di kampus selama ini. Irham menyukai perubahan yang terjadi padaku. Aku juga sebenarnya telah lama mengagumi pribadinya. Semenjak kejadian malam tempo lalu di lift Tower kampus. Ternyata saat “hati” berbicara, kemampuan logika melumpuhkan segalanya. Aku menerima lamarannya, sungguh bagai mimpi bahwa saat ini dia ada dihadapanku. Orang tua kami pun senang, aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaan dibalik senyumanku ini.

Tak mampu kuuraikan semuanya dengan hamparan kata
Tak jua mampu kutuangkan semua dalam lautan tinta
Aku hanya manusia biasa..
Memiliki banyak asa dalam setiap doá
Tak takut aku kehilangan akan anugerah cinta manusia
Biar “hati” ini yang berbicara…
Yakin, kelak bertaburnya cinta dalam sebuah nama
Bersamanya..
Menggapai ridho bersamanya kelak hingga di syurga


*** the end ***

Medio Sapa April 2014
created by

“Neng Tari Khairunnisa”


Kulajukan motorku agar segera sampai di kampus. Ya, jarak tempuh dari rumahku ke kampus menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Sesampainya dipelataran parkiran kampus, aku sengaja menaruh motorku didekat gedung E, karena kelas pagiku saat ini ada disana. Segera kupercepat langkahku menuju koridor kelas yang berada di lantai 2 itu.
Sesampainya didepan pintu, kreeekk… kulihat, pak Lukman sedang memberikan pengarahan.
“Assalamu’alaikum, Pak. Maafkan saya telat datang pagi ini.” Kuatur nafasku sejenak sambil menunduk.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah. Habis malam mingguan ya kamu. Yasudah kamu cari kursimu, Nisa”. Aku kesal karena teman-temanku mentertawakanku, tapi yasudahlah yang penting Pak Lukman membolehkanku ikut mata kuliahnya, Testing dan Implementasi Sistem Informasi.
Aku mencari kursi, aku pilih untuk duduk dipojok belakang. Aku sebenarnya masih mengantuk, akibat chatting di Facebook dan nonton film korea semalaman suntuk hingga pukul 2 dini hari. Maklum, aku pecinta berat film Korea.

Yups, Namaku Layla Althafunnisa, teman-temanku biasa memanggilku Nisa. Dibilang tomboy tidak juga, terkadang aku memakai rok ke kampus.
Seusai mata kuliah Pak Lukman, aku dan Tari menuju kantin kampus. Tari adalah sahabatku. Dia shalehah, dan juga santun. Kami berteman sudah 6 tahun yang lalu, dari masa-masa bangku Tsanawiyah. Segera kubuka jaketku, terik matahari membuatku rasanya gerah sekali hari ini.
“Astaghfirullah, Nisa. Kamu pakai lagi jaketnya. Malu dilihat mahasiswa lainnya. Apa-apaan kamu pakai baju you can see gitu, itu auratmu !”. Bentak Tari melarangku, dan menyuruhku segera mengenakan jaketku lagi.
“Tar, gerah ini geraah.. kamu ini kayak ibuku tau nggak tadi pagi yang bawel menyuruhku melapisi dengan jaket, lagipula ini lagi trend style yang kayak gini”. Gerutuku sambil melihat Tari yang memandangku sinis.
“Aku ini sayang sama kamu, Nisa. Sebagai sahabat aku wajib mengingatkanmu. Sayang lho tubuh kamu yang mulus dan indah seperti ini kamu umbar di tempat umum, disini banyak mata para lelaki. Kamu harus mampu membedakan mana yang pantas dan tidak pantas. Kamu harus menghargai dan menjaga apa yang kamu miliki, Nisa”. Aku serasa ikut ceramah, dan posisiku sedang dinasehati sama sahabatku. Disaksikan sama mahasiswa lainnya pula lagi di kantin.
“Hehehe.. sudah ceramahnya, Tar? Iya..iya ini aku pakai lagi jaketku. Udah dehPlease jangan ceramah disini. Aku lapar,aku mau pesan makanan dulu, kamu mau pesan sekalian nggak?”. Tanya ku balik ke Tari.
Setelah tau pesanan Tari, kulangkahkan kakiku dan aku memesan makanan menuju stand ibu Melda, ibu kantin yang gaul dan sangat exist di kampusku.
***
Selepas maghrib, aku masih duduk di kantin kampus. Aku mulai suntuk. Selesai kuliah, aku seorang diri. Tari ada acara hari ini. Katanya sih tadi, ada pengajian di Masjid dekat rumahnya. Aku teringat sesuatu, 2 minggu yang lalu aku meminjam buku di perpustakaan, dan aku harus mengembalikannya hari ini. Aku sudah telat mengembalikannya.
Dan, sesampainya di Tower lantai 7. Aku bertemu Irham, teman sekelasku. Dia juga bekerja di kampus, sebagai Assistan Laboratorium.
“Nisa, kamu ngapain disini?” Tanya Irham padaku dan member senyuman khasnya.
“Aku mau dugem. Hehehe.. ya mau balikin buku lah, Irham. Gimana sih..” Candaku padanya.
“Dasar kamu..Hehehe sama, aku juga balikin buku, sudah selesai sih. Oke, aku duluan ya, Nisa”. Dan aku mengiyakannya.
Seusai aku mengembalikan buku. Aku menuju lift untuk turun menuju lantai dasar. Dan di lift, ada seorang mahasiswa laki-laki yang sudah ada didalam, aku tak mengenalnya. Posisiku didepannya dan yang membuatku risih karena mata lelaki itu terus memperhatikan tubuhku. Tapi selang Kemudian ada perkataan usil yang keluar dari mulutnya.
“Cantik, mau ya besok malam temenin gue. Eh, Jangan besok malam, kalo bisa sekarang aja gimana?”. Ucap seorang mahasiswa berbadan tegak dan tinggi sekitar 175 cm itu.
Dan aku sadar, leherku sudah dipegang olehnya. Aku memberi perlawanan dengan memberikan tamparan dan menghindarnya. Aku berteriak, tapi tak satupun yang bisa mendengar teriakanku. Aku masih terus memberikan perlawanan. Dan, Alhamdulillah.. Di lantai 2, lift terbuka. Ada Irham dihadapanku. Irham segera memberikan perlawanan pada mahasiswa yang telah melecehkanku.
Selang beberapa menit kemudian, Irham telah selesai memberi pelajaran pada mahasiswa itu. Ternyata, pria itu habis mengkonsumsi miras, tercium dari aroma yang keluar dari mulutnya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi teryata, dan Irham mengenalnya. Segera mahasiswa itu dilaporkan ke pihak keamanan kampus dan segera ditindak lanjuti.
Aku menangis, atas apa yang barusan menimpa diriku. Peristiwa itu cepat sekali. Aku duduk lemas di bangku taman kampus. Dan beberapa menit kemudian.
“Ambil, ini minuman buat kamu, Nis”. Segelas teh manis hangat yang ditawarkan Irham padaku.
Irham duduk disampingku. Meneguk teh manis hangatnya.
“Terima kasih ya, Irham. Aku nggak tau apa jadinya tadi kalo kamu nggak segera nolongin.” Ucapku menyesal dengan apa yang terjadi padaku hari ini.
“Iya. Lain kali kamu jangan sendirian aja kalo ditempat umum, dan juga kalo boleh saran, pakaian yang kamu pakai itu agak sopan ya, biar ndak keulang lagi kejadian seperti tadi. Bagus kamu ndak apa-apa. Sayangi diri kamu, Nis. Kamu itu berharga.” Ucap Irham menasehatiku.
“iya, terima kasih sarannya. Aku menyesal. Lain kali aku lebih sopan dalam berpakaian” Ucapku dan menyeruput teh manis hangatku.
Aku diantar pulang mas irham, aku dengan motorku, dan ia dengan motornya. Padahal rumah mas irham sangat jauh denganku. Sesampainya irumah, mas irham juga pamitan dengan keua orang tuaku.
Keesokan harinya, aku berniat keluar rumah dan juga ke kampus untuk mengenakan hijab. Ku baca dan kupelajari model hijab yang sedang trend saat ini. Kuarahkan wajahku ke cermin, kupakai hijab pashmina dengan model yang kubisa. Alhasil, ternyata aku cantik juga ya dengan mengenakan hijab.
Sesampainya dikampus, aku bertemu Tari. Tari terkejut dengan perubahanku, ada perasaan senang yang ia lontarkan padaku melihat sekarang aku mengenakan hijab ke kampus. Tapi Tari juga mengkritik cara dan mode hijabku, katanya hijabku masih transparent dan juga aku masih berpakaian ketat. Well,lagi-lagi aku salah dimata Tari.
***
Selang beberapa hari kemudian, aku terketuk dengan ucapan seorang anak kecil yang juga berprofesi sebagai pengamen jalanan cilik, ia terlihat lusuh, dan juga kotor namun ia mengenakan jilbab. Aku bertemu dengannya di Terminal bus Metromini jurusan Ciledug-Blok M. Lagi-lagi aku kena pelecehan, seorang pemuda tepat disampingku berdiri memandangku dari atas hingga bawah dan seraya mengutarakan maksudnya.
“Nona lebih cantik dengan tak mengenakan hijab, beramal jangan tanggung-tanggung”.
Mendengar ucapan itu, aku segera pindah tempat dan menjauh dari pemuda itu. Aku kesal dengan ucapannya yang memojokkanku. Aku berada di tempat yang agak jauh dari hiruk pikuknya keramaian, namun tiba-tiba muncul didepanku anak kecil yang tadi ku pikir jilbabnya lusuh dan juga kotor bahkan juga kebesaran. Perlahan ia menghampiriku lebih dekat.
“Kak, nunduk deh sebentar, terus pejamkan mata kakak yah..”. Pintanya padaku, dan aku segera cari tempat duduk terdekat dan menuruti permintaanya untuk duduk menunduk sambil memejamkan mataku dihadapan gadis kecil yang kupikir usianya sekitar 9 tahun. Entah apa yang diperbuatnya padaku. Aku hanya merasakan kepalaku sedang di make over olehnya.
Sekitar 3 menit kemudian…
“Seperti ini cara pakai jilbab yang benar, kakak tambah cantik tauu… “ucapnya sambil menyuruhku membuka mataku.
Dan “nyeeessss” saat hatiku berbicara dan bergejolak terkejut bukan main, melihat hijab yang kukenakan ada pada gadis kecil itu, dan jilbab yang kebesaran milik gadis kecil tiu ada diatas kepalaku.
“Kakak.. jilbab kakak buat Nayla aja yaa, ukurannya pas dikepala Nayla. Dan juga biar kakak nggak diejek lagi sama pemuda tadi karena jilbab Nayla lebih besar dari punya kakak” Ya, gadis kecil itu bernama Nayla. Ucapan singkatnya membuka mata hatiku. Aku malu pada seorang gadis cilik yang begitu prihatin padaku. Aku mengiyakan pintanya untuk bertukar hijab.
Kejadian itu membuka hati dan pikiranku. Begitu aku selalu mengandalkan logikaku, hingga mirisnya aku mengabaikan suara hatiku, suara hati Tari yang menyuruhku lebih mengulurkan jilbabku ke dada. Aku begitu mengejar trend yang justru menggadaikan ajaran syari’at agamu dalam mengenakan jilbab dengan benar.
Dari kejadian itu, aku menggali ilmu agamaku dengan bantuan Tari. Aku diajaknya mengikuti Lembaga Dakwah Kampus Al-Khawarizmi Fakultas Fasilkom dibawah naungan LDK Al-Faruq, aku belajar tajwid serta pengajian rutin kemuslimahan yang diadakan setiap sabtu pagi pukul 8. Tari sangat senang melihat perkembanganku menuju jalan yang diridhoi-Nya.
Sampai suatu ketika, saat aku baru sampai dari kampus sore hari, mobil Avanza berwarna Hijau lumut terparkir dihalaman rumahku. Aku bingung siapa yang bertamu. Kuayunkan langkahku memasuki rumahku.
“Assalamu’alaikum ayah.. bunda” Ucapku memberi salam seperti biasa saat aku masuk kerumahku. Sebelum sampai diruang tamu, ayah menghampiriku.
“Wa’alaikumussalam warohmatulah, ayo masuk Nisa. Ada tamu dari Yogyakarta nih, katanya teman kuliah kamu”. Hatiku bertanya-tanya, teman kampusku yang mana. Biasanya ada kabar kalau ada yang mau datang kerumah.
***
Aku terkejut dan juga senang, ternyata Irham beserta ayah dan ibunya yang berkunjung kerumahku. Irham berniat melamarku malam ini. Ternyata diam-diam Irham memperhatikan kegiatanku di kampus selama ini. Irham menyukai perubahan yang terjadi padaku. Aku juga sebenarnya telah lama mengagumi pribadinya. Semenjak kejadian malam tempo lalu di lift Tower kampus. Ternyata saat “hati” berbicara, kemampuan logika melumpuhkan segalanya. Aku menerima lamarannya, sungguh bagai mimpi bahwa saat ini dia ada dihadapanku. Orang tua kami pun senang, aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaan dibalik senyumanku ini.

Tak mampu kuuraikan semuanya dengan hamparan kata
Tak jua mampu kutuangkan semua dalam lautan tinta
Aku hanya manusia biasa..
Memiliki banyak asa dalam setiap doá
Tak takut aku kehilangan akan anugerah cinta manusia
Biar “hati” ini yang berbicara…
Yakin, kelak bertaburnya cinta dalam sebuah nama
Bersamanya..
Menggapai ridho bersamanya kelak hingga di syurga

*** the end ***

Medio Sapa April 2014
created by

“Neng Tari Khairunnisa”


 

 

Yups… ini adalah bagian dari kenangan atas kebersamaan yang telah terjalin dari Team UMB Shared…^_^ 

Gambar

Jika ada tangis didunia ini,aku ingin kita menangis bersama disaat kelulusan kita nanti, bersyukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan…. semoga kita bisa lulus bareng yah.. aamiin ya mujib ^_^

Gambar

 

dan aku ingin jadikan moment ini, jika diizinkan… ingin saya ambil karakter kalian masing-masing yang saya tuangkan dalam buku biografi saya, itu adalah impian saya…^_^

Gambar

 

Teruntuk kalian, semoga kalian senantiasa sehat selalu dan dapat bisa terus berkumpul dan silaturahmi seperti moment yang pernah kita dapatkan di Curug Cilember… ^_^

Gambar

Andai jemari ini tak mampu berjabat… semoga do’a dan keselamatan tercurah kepada kalian yang telah menjadi kado terindah saya selama di kampus Universitas Mercu Buana, Meruya Jakarta Barat

 

 

Medio sapa Penghujung Februari 2014

 

salam cinta di Bulan Februari

 

:: Neng Tari Khairunnisa ::

Kebersamaan Tim UMB Shared


Kebersamaan Tim UMB Shared

Hmm… kalo inget moment ini.Inget kebersamaan bareng kalian ^_^

Terima kasih atas semua kerjasama kalian yang udah support dan meluangkan waktunya buat kita kumpul bareng-bareng. Jujur….. ini adalah pengalaman pertama saya diantara kalian, saya saya disini sungguh seneng banget karena bisa melepaskan kepenatan dari pekerjaan yang suntuk dan butuh relaksasi yang tinggi.

Saya juga bisa menceritakan disini ke anak cucu nanti, dan bilang dengan bangga,
“Bunda pernah ke Curug Cilember lho nak, hehehe masa muda bunda dulu yang bangga punya sahabat seperti Tri, Nova, Nurul (Nyunyu), Rani, Mia, Dina, Ika, teruss ada lagi Tantrii, Ritha yang manis, hehehe dan anak-anak cowoknya yang bener-bener kocak,hehehhe”

Hmm, nanti di to be continue lagi yaah….
good luck buat temen-temen seperjuangan UMB Shared, kita harus bisa hadapin Skripsi dan Kita harus bisa lulus bareng-bareng yaah ^_^

Muslim Prayer Time


Please check your timezone option!


Aku ingin Bertemu dengannya, bukan hanya dalam Mimpi saja... Oki Setiana Dewi (OSD)

Ya.. siapa sih yang ndak kenal sosok ini, dimataku wanita ini begitu sholehah..
Aku jatuh cinta pada kepribadiannya ketika aku menyaksikan Film Ketika Cinta Bertasbih kala sore itu.

Sore yang ketika aku hendak menuju bioskop, hujan deras tiba-tiba datang tanpa diundang.
Hehehe ya walaupun begitu, aku tak tinggal diam, ku kendarai motor Vario merah kesayanganku menuju Mall CBD Ciledug, dan ndak lupa kukenakan jas hujan yang sudah agak robek waktu itu agar aku ndak kehujanan basah kuyuk.

sesampainya disana.. aku ketinggalan sesi sekitar 20 menit, hmm.. aku kurang pandai dalam me manage waktu hari itu.

Aku terkesima ketika ka Oki membacakan puisi bersama Mba Meyda (Ayatul Husna), bagaimana ndak terkesima, begitu sahajanya beliau, anggun, dan penuh kharismatik, itu yang aku dambakan dan aku ingin mencontohnya dari dia.

Di Film itu, ndak habis-habisnya aku mengucap syukur berada dikerumunan orang-orang yang sarat akan agama Islam. Ya, aku berharap aku termasuk orang-orang yang beruntung. Semoga apa yang aku tulis ndak sia-sia, aku juga ingin mengamalkannya.

Ada banyak cinta, kasih sayang, nasihat, juga kritikan yang membangun ku tuk lebih baik lagi. Aku ingin berubah ke arah yang lebih baik lagi.

Impianku ingin kuliah hingga S2 seperti ka Oki, tapi itu setelah nikah aja, hehehe S1 cukup untukku saat ini, aku ingin jadi staff Pengajar di Kampus, syukur-syukur kampus berbau pesantren, hehehe aamiin ya mujib. Semoga terkabul yah.

Oiya, aku lanjutin tulisan ini ka Oki sudah menikah alhamdulillah bersama ka Ovy, dan ini dokumentasi yang aku rangkum, seneng deh lihatnya, jadi pengen buru-buru nyusul juga, hehehhe

1520650_10151945521418717_693905844_n

1554619_10151945400233717_491421948_n

1484309_10151949837593717_1118492971_n

1560589_10151949836588717_1486115906_n

1476427_10151945521588717_254979965_n

1545552_10151945521148717_1818295184_n

cantik dan ganteng yah, hmm semoga ka oki dan ka Ovy senantiasa dilindungi oleh Allah SWT dan juga jadi keluarga SAMAWA :)

udah ya, itu dulu,,, hehhehee

Wassalamu’alaikum warohmatullah… ^_^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.