Do’a dikala ragu akan dirinya…:)


Bagi yang sedang bimbang oleh sang kekasih, nih ada do’a yang bagus untuk diamalkan. Selamat Mengamalkan ya….:)

Ya Allah…
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah…
Seandainya telah Engkau takdirkan…
…Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta…
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya….

Ya Allah ya Tuhanku…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah…
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini

—————————————-
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
—————————————-

Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amin… Ya Rabbal ‘Alamin

Advertisements

Manajemen Waktu 1/3 Malam


Rentang waktu antara malam dan siang terdapat 12 malam. Sesungguhnya waktu yang baik untuk beribadah adalah 1/3 malam yang akhir. Maka rinciannya adalah 1/3 malam yang pertama yakni kurang lebih antara jam 18.00 WIB – 22.00 WIB sebaiknya dipergunakan untuk belajar, 1/3 malam yang kedua yakni jam 22.00 WIB – 02.00 WIB dipergunakan untuk mengistirahatkan badan, dan 1/3 malam yang akhir dihabiskan untuk beribadah.

Adapun ibadah-ibadah sunnah yang dapat dilakukan untuk 1/3 malam yang akhir adalah dengan menegakkan :
1. Sholat sunnah wudhu
2. Sholat sunnah taubat
3. Sholat sunnah hajat
4. Sholat sunnah tahajud
5. Sholat sunnah witir

Terinspirasi dari : Ceramah Ustad Maulana di Trans TV & Seseorang yg memberi nasehat untuk me-manajemenkan waktu..

Riwayat Sayyidah Aisyah RA


Ia lahir di Mekah empat tahun sesudah kenabian Muhammad Saw. Ia adalah putri Abu Bakar Ra dan Ummi Ruman, dan isteri Rasul Saw, setelah wafatnya Khadijah Ra. Ia memeluk Islam selagi masih kecil, bersama delapan orang yang lain.
Siti Aisyah adalah gadis yang cerdas dan pandai berbahasa. Ia juga menguasai ilmu kesehatan dan ilmu nasab.
Seorang sahabat bernama Zuhri pernah berkata, ”Seandainya ilmu Siti Aisyah dibandingkan dengan semua ilmu isteri-isteri Nabi (Saw), dan semua wanita Arab, niscaya ilmu Siti Aisyah-lah yang lebih utama.”
Sahabat yang lain, Anwar, berkata, ”Saya belum pernah melihat orang yang lebih pandai dari Aisyah tentang ilmu kesehatan, syair, dan ilmu fikih.”
Rasulullah Saw begitu sayang kepada Aisyah Ra. Pada suatu kesempatan Rasul Saw berkata kepada Aisyah Ra, ”Rasa cintaku kepadamu ya Aisyah, seperti Al Urwatul Wutsqa (pegangan yang kuat).”
Di kesempatan lain, seorang sahabat bernama Amru bin Ash bertanya kepada Rasulullah Saw tentang siapa yang paling beliau cintai. Beliau menjawab, ”Yang pertama adalah Aisyah, kemudian Abu Bakar, Umar bin Khathab, dan sahabat-sahabat yang lain.”
Semasa hidupnya, Siti Aisyah telah meriwayatkan sejumlah 2.210 hadis. Keunggulan Siti Aisyah dalam meriwayatkan hadis, kadang-kadang ia bisa meng-istimbatkan (mengkonklusikan) beberapa masalah. Ia kerap berijtihad sendiri lalu diikuti oleh para sahabat yang lain.

Fatimah al-Zahra pemimpin para wanita di surga


Fatimah bint Muhammad Rasulullah, diberi nama al-Zahra karena keberadaanya bagaikan bunga bagi sang ayah dan karena Allah memberikan kebaikan dan kemuliaan. Putri bungsu yang sangat disayang oleh Rasulullah SAW. Hidupnya sangat sederhana, meski ayahnya pemuka ummat muslim. Menjadi piatu di susianya yang belum remaja.

Fatimah menjdai saksi ketika Rasulullah SAW dihina oleh Abu Jahal dan orang-orang kafir. Dibersihkannya tubuh sang ayah dari kotoran yang diletakkan oleh Uqbah di tubuh beliau ketika sedang sujud. Dihiburnya sang ayah dengan kata-kata yang lembut.

Akhir tahun ke-2 Hijriyah, saat usianya 18 tahun, Ali ibn Abu Thalib meminangnya kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menikahkan mereka dengan mahar sebuah baju besi, pemberian Rasulullah sebagai rampasan perang badar beberapa saat sebelumnya. FYI, barang seserahan yang dibawa antara lain, kain beludru, bantal dari kulit yang diisi bahan-bahan dari tumbuhan harum, 2 buah kantong, 1 gelas, gerabah, handuk, kulit kibas dan batu gilingan. Kemudian Ali menyewa sebuah rumah milik al-Haritsah ibn Nu’man untuk tempat tinggal dia dan istrinya.

Kehidupan rumah tangga mereka bahagia, karena senantiasa diterangi cahaya keimanan dan dinaungi cinta dari Rasulullah serta nasihat-nasihat beliau. Ali sering menemani Rasulullah berdakwah, sementara Fatimah menjalankan tugasnya sebagai istri dengan penuh tanggung jawab dan berharap keridhaan Allah SWT. beliau merawat anak, mengurus rumah, menggiling gandum, membuat roti dan mengambil air dari sumur yang jauh jaraknya. ^masihkah memandang sebelah mata pada wanita yang memilih karier sebagai ibu rumah tangga?^

Suatu ketika Fatimah mendatangi Rasulullah dengan perasaan sedih. Beliau mengadu pada ayahnya bahwa Ali akan menikahi Juwairiyah bint Abu Jahal. lalu Rasulullah pegi ke masjid dan naik ke atas mimbar dan berseru “Hai manusia, sesungguhnya bani Hasyim ibn al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali ibn Abu Thalib. Aku tidak mengizinkan mereka. Aku tidak mengizinkan mereka. Aku tidak mengizinkan mereka. Kecuali jika Ali menceraikan putriku terlebih dahulu, baru mereka boleh menikahkan putri mereka. Putriku adalah bagian dari diriku. apa yang membuatnya sakit juga membuatku sakit. Aku takut dia mendapat fitnah dalam agamanya. Bukan mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan yang haram, tapi putri Rasulullah jangan dicampur dengan putri musuh Allah dalam satu rumah.” (HR. Bukhari, Muslim dan al-Turmudzi). ^Subhanallah, senengnya punya bapak kaya gini^. Kemudian Ali kembali ke rumahnya, merasa berdosa dan berjanji akan setia pada Fatimah.

Kehidupan rumah tangga Fatimah bukanlah keluarga yang berlimpah harta dan selalu tercukupi kebutuhannya, namun demikian mereka tetap senantiasa bershadaqoh kepada oarang-orang yang lebih membutuhkan. Suatu ketika saat Fatimah, Ali dan sahayanya sedang menjalankan puasa tiga hari kerena nazar atas kesembuhan putra mereka, hari pertama saat akan berbuka datanglah seoran kakek yang sangat lemah karena dua hari tidak makan, kemudian Ali memberikan semua roti yang akan digunakan untuk berbuka, sehingga mereka hanya minum air. Hari kedua, saat mereka menunggu waktu berbuka, datang beberapa anak yatim yang sudah tidak makan dua hari. Ali pun memberi roti kepada mereka, sehingga, lagi-lagi, mereka hanya minum air. Hari ketiga, saat mereka akan berbuka, datang seorang tawanan musuh yang berlari ketakutan dan mengatakan bahwa sudah tiga hari belum makan, lalu Ali memberinya roti. Kini mereka sangat lapar karena sudah tiga hari belum terisi makanan apapun dan hanya minum air. Atas kehendak Allah, Rasulullah mendatangi mereka. beliau tahu bahwa mereka sudah tiga hari tidak makan karena peristiwa buka puasa. Sesaat Rasulullah berdiam di rumah mereka, Allah menurunkan wahyu kepada beliau, QS. al-Insaan (76): 7-9.

Fatimah meninggal setelah 6 bulan wafatnya Rasulullah SAW.

Demikianlah Fatimah, hidup yang dilaluinya tidak mudah, penuh perjuangan dan keprihatinan, tetapi beliau adalah wanita yang dimulikan Allah SWT di dunia maupun di akherat.

Bayangkan betapa beruntungnya Fatimah ini. Menjadi putri bungsu yang sangat disayangi Rasulullah. Menikah dengan pemuda sholeh yang terjaga kesuciannya, bahkan Rasulullah sendiri yang menikahkannya. Menjadi istri yang tidak dimadu suaminya saat poligami menjadi hal yang lumrah di kalangan kaumnya. Dikaruniai dua orang putra yang akan menjadi pemimpin para pemuda di surga kelak. Dan di surga nanti beliau akan menjadi salah satu pemimpin para wanita. Subhanallah.. Wallahua’lam bishshowab.

Untuk cerita lebih lengkapnya tentang Fatimah dan tiga wanita surga lain, silakan baca “Perempuan-perempuan Surga Kisah empat Wanita Teladan Asiyah, Maryam, Khadijah dan Fatimah”, karangan Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi.

Berteladan dari kisah Aisyah radhiyallahu anha


MediaMuslim.Info – Ibunya orang beriman, isteri nabi Muhammad sekaligus putri dari as-sidiq adalah sosok yang pantas diteladani oleh seluruh mu’minah di sepanjang zaman. Ia adalah wanita pemilik kemuliaan yang tak tertandingi Aisyah -lah manusia yang paling berilmu tentang al quran, karena kehidupannya yang selalu bersanding dengan pembawa risalah islam, dan beliau menyaksikan Al quran yang turun di rumah beliau. Paling berilmu, karena paham bagaimana wujud penjabaran Al quran dalam kehidupan sehari-hari, dipraktikkan dalam perkataan, perbuatan, budi pekerti, akhlaq dan adab oleh rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau pula wanita yang paling berilmu tentang hadits, fikih, pengobatan, syair dan hikmah. Sehingga sangat wajar ketika abu bardah mengatakan : “apabila ada sebuah permasalahan yang tidak diketahui di zaman sahabat , maka kami bertanya kepada aisyah, dan kami memperoleh ilmu dari beliau”.

Seorang sahabat yang lain mengatakan “saya tidak mengetahui ada orang yang lebih berilmu tentang al quran, faraidh(ilmu waris) , halal dan haram, syair, sejarah dan nasab kecuali aisyah”.

Di kesempatan yang lain kita akan dapatkan bagaimana wujud konkrit tarbiyah di atas manhaj nabawi pada diri aisyah. Umar bin khatab ketika menjelang wafat , berkata kepada abdullah (anaknya). “Pergilah kepada Aisyah, sampaikan salamku padanya, dan mintakan ijin agar aku diperbolehkan dimakamkan di rumahnya bersama Rasulullah dan Abu Bakar. Maka Abdullah pun mendatangi aisyah dan menyampaikan pesan ayahnya.Aisyah mengatakan “baik dan ini adalah sebuah kemuliaan” dan melanjutkan dengan berkata “wahai anakku, sampaikan salamku kepada Umar , dan katakan padanya jangan tinggalkan umat Muhammad tanpa pimpinan, pilihlah khalifah bagi umat dan jangan tinggalkan umat dalam keadaan sia-sia setelahmu, karena aku takut terjadi fitnah atas umat ini.”

Wahai wanita mukminah, saksikanlah bagaimana keagungan perjalanan mereka yang ditarbiyah dalam rumah-tangga nabi. Perhatikan bagaimanakah nasehat dan pandangan aisyah untuk mengangkat khalifah setelah Umar, karena khawatir terjadinya fitnah. Seakan aisyah menyaksikan hal-hal yang akan berlangsung di masa mendatang, padahal tidaklah ia tahu tentang hal yang ghaib, namun ini adalah firasat seorang mukmin yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Beliau tak hanya sebatas melihat tentang dekatnya kematian umar dan tentang masalah di mana Umar akan dimakamkan, namun beliau melihat bagaimana kehidupan umat Islam setelah Umar meninggal. Dari sini terlihat keluasan pandangan, jauhnya pemikiran ke depan dan sekaligus perhatian yang sangat besar tentang urusan umat Islam. Inilah yang semestinya diteladani oleh wanita mukminah di zaman ini.

Sosok seorang Aisyah rhadiyallahu anha, memberikan ibrah yang berharga bagi para mukminah. Kedalaman ilmu, kecerdasan dan perhatiannya terhadap umat adalah warisan yang berharga yang terus bisa diwarisi sampai hari ini. Terbukti dengan kedudukan beliau yang tercakup dalam tujuh orang di kalangan shabat yang banyak menghafal fatwa-fatwa dari para sahabat.

Panji Islam di sepanjang sejarah akan selalu tegak dengan para penyandangnya. Dan Aisyah adalah salah satu penegak panji Islam di awal terbitnya cahaya Islam. Sebuah bukti bahwa wanita pun memiliki peran yang sangat besar dalam memperjuangkan Islam. Tidak hanya untuk membuang waktu untuk berbagai pekerjaan yang sia-sia, sebagaimana yang dilakukan oleh mayoritas muslimah di zaman ini.

Panji Islam memang akan tetap tegak dengan para pejuangnya sepanjang masa. Namun apakah kita para wanita mukminah menjadi bagian dari penyandang dan penegak risalah atau tidak, maka jawabnya ada pada diri kita.