Cerita Tentang Kita


Diketik kala jam istirahat kantor Gedung Talavera Office Park, di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan

Ketika perkataan tak lagi melakukan pembenaran fakta alias “tabayyun”, rasanya sakit sekali menerima perlakuan yang tak mengenakan. Tak sedikit orang menghujat tanpa melihat itu akan menyakitkan atau tidak. Jalan yang ingin ku tuju terkadang berbelok dengan yang ingin aku tuju, tak sedikit aral yang harus aku terima dan hadapi. Aku ingin segera melepas masa lajangku, agar aku bisa hidup dengan penuh ibadah bersama orang terkasih, agar tak ada lagi hujatan negatif terhadapku, agar tak ada lagi bisik-bisik yang mengganggu telingaku. Aku belajar memperbaiki diri, akan tetapi tak sedikit orang melihat itu benar. Aku menabung agar secepatnya bisa mencapai pintu yang di ridhoi. Aku butuh semangat, bukan celaan yang memojokkan.

tak sedikitpun aku berani untuk memegang tangan pria, hanya saja omongan demi omongan tak mengenakan di telinga membuatku terganggu, aku terkesan buruk dimata mereka.

setiap berbicara dengannya, itupun aku sertakan keluargaku, dan memang kebanyakan dirumah dalam berdiskusi, tapi kenapa jadi negatif. ingin segera aku menyudahinya. menjalani kehidupan yang damai dengannya segera. kasihan dia, diperolok dengan nada mengejek, padahal dia begitu baik dan santun, dia pria tersantun yang pernah aku temui. dia begitu menghargai perempuan.

7 hari mengenalnya, pasca lebaran aku diajak bersilaturahmi ke rumahnya. dikenalkan dengan orang tuanya, neneknya, adik-adiknya, bahkan sepupunya. ada kesungguhan ketika memperkenalkanku di keluarganya. wanita manapun akan senang jika diperlakukan seperti itu.  Aku kehabisan akal untuk menjelaskan pada semua orang yang bertanya mengapa aku nyaman dengannya, bibirku kelu saat semua kalimat yang sudah kusiapkan, namun tiba-tiba gugup dan tak dapat berbicara apa-apa, karena yang ku tau, dia ada dan aku ingin ia yang menjadi bagian hidupku. Semoga Allah melindungi dia selalu.

aku beruntung bisa mengenalnya, aku berdo’a… dalam keadaan apapun aku dapat tersenyum dan menghiburnya, sebagaimana dia selalu menghiburku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s