Kisah Nyata : Air Mata Kesedihan dan Penyesalan


images (11)Aku tidak ingin kalian menulis kepedihan ini dengan judul ‘Setetes Air Mata Penyesalan’. Akan tetapi, tulislah dengan judul ‘Air Mata Kesedihan dan Penyesalan’. Air mata yang mengucur selama bertahun-tahun. Air mata yang mengalir karena berbagai macam kepedihan yang aku rasakan. Penghinaan dan pandangan sinis disebabkan dosa yang pernah aku lakukan terhadap diriku dan keluargaku. Dan sebelum yang pertama dan kedua adalah dosa terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhanku.

Aku seorang gadis yang tidak berhak dikasihani atau disayangi. Sungguh, aku telah berbuat buruk kepada ibuku dan saudara-saudaraku. Aku telah membuat pandangan mata mereka selalu tertunduk ke bawah. Mereka tidak kuasa mengangkatnya karena rasa malu.

Semua itu karena diriku. Aku telah mengkhianati kepercayaan yang mereka berikan[1] gara-gara telepon terkutuk. Manusia tidak punya hati yang telah mengecohkanku dengan ucapannya yang bermadu. Dia mempermainkan perasaanku, sehingga aku berjalan bersamanya di atas jalan yang buruk.

Sedikit demi sedikit dia berhasil menggiringku kepada hubungan yang paling rendah. Akibat dari cinta palsu yang telah membutakan kedua mataku dari kebenaran. Akhirnya aku pun kehilangan sesuatu yang paling dibanggakan oleh para gadis, dan dibanggakan oleh orang tuanya ketika mereka menyerahkannya anak gadisnya kepada pemuda yang datang ke rumah dengan jalan halal.

Aku telah menyia-nyiakan kehormatanku bersama manusia yang tidak memiliki kehormatan. Seorang manusia yang telah menjual hatinya dan kemanusiaan setelah merampas segala sesuatu dariku, lalu membuatku menderita dan merana sendiri. Padahal sebelumnya dia telah mengenyam kenikamatan sesaat bersamaku. Dia mencampakkan diriku dalam penderitaan panjang, setelah mengetahui kehamilanku. Pada waktu itu tidak seorang pun yang mengetahui nasib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ketika aku mencoba mencarinya, dia selalu menghindar dariku. Itu sangat lain dengan sikapnya sebelumnya, sebelum ia mengambil kehormatanku.

Sungguh, aku merasa hidup di dalam siksa. Neraka selama empat bulan. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui penderitaan batin yang aku alami akibat kemaksiatanku kepada Tuhanku dengan melakukan dosa itu.

Kehamilan telah membuat jiwaku memikul beban berat. Aku berpikir bagaimana diriku kembali ke keluarga dengan aib yang sekarang bergerak-gerak di dalam perutku. Ayahku orang yang lemah. Dia menderita dan bersusah payah dalam hidupnya demi kami, anak-anaknya. Gajinya hampir-hampir tidak mencukupi. Ibuku adalah wanita yang baik. dia menyediakan segala sesuatu untukku supaya aku bisa menyelesaikan belajarku dan aku bisa meraih derajat yang mulia.

Aku telah memupuskan harapan ibu. Aku telah berdosa besar kepadanya. Dosa yang sulit untuk diampuni, sampai kini aku masih menelan rasa pahit dosa itu.

Akhirnya hati pemuda biadab itu melunak, setelah aku terus memburunya, dia bersedia berbicara lewat telepon. Manakala dia mengetahui aku hamil, dia menawarkan bantuan untuk menggugurkan janin yang bergerak di dalam perutku. Aku hampir gila. Ia tidak berpikir untuk datang menikahiku, untuk memperbaiki apa yang telah ia rusak.[2] Ia memberi dua pilihan yang sama-sama pahit: membiarkanku menanggung sendiriku, atau menggugurkan kehamilan agar selamat dari aib dan rasa malu.

Hari-hari berlalu dan dia tidak datang untuk melamarku. Aku memutuskan untuk melaporkannya ke kepolisian tentang apa yang telah diperbuatnya kepadaku. Dua bulan sesudah aku melapor, polisi berhasil menemukannya setelah mencarinya di segala tempat. Hal itu karena dia telah memberiku nama palsu[3]. Akhirnya polisi berhasil menangkapnya. Ternyata dia pria berkeluarga dengan empat orang anak. Dia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Ketika aku mengetahui dia itu pria beristri, aku pun mengetahui betapa dungunya diriku yang mengekor kepadanya seperti wanita buta. Akan tetapi, apa gunanya itu semua setelah aku terbenam di jurang penderitaan yang paling dalam?

Dia masih mengira kalau diriku masih seperti dulu, yang bisa dibutakan oleh bualannya. Dia mengutus seorang wanita untuk membawa pesan. Jika aku mengingkari di depan hakim bahwa dia telah merenggut kehormatanku, maka dia akan menikahiku setelah keluar dari penjara. Aku menolak tawaran murahan ini.

Aku menulis cerita ini setelah aku keluar dari penjara polisi menuju penjara yang lebih besar, yaitu rumahku. Aku terkurung di dalamnya. Tidak seorang pun mau berbicara dan melihatku. Penyebabnya adalah kenistaan yang aku timpakan kepada keluargaku. Aku telah menghancurkan kemuliaannya dan menodai nama baiknya.

Ayahku menjadi seperti bayangan, yang berjalan tertatih-tatih dan hampir terjatuh karena beban yang berat. Ibuku menjadi kurus kering. Mulutnya meracau. Dia mengurung diri di dalam rumah, karena takut dengan ucapan dan pandangan orang.”

Gadis ini menutup suratnya,

“Dari pengasingnya yang menyedihkan ini aku menulis keadaanku yang getir kepada kalian. Aku menangis siang-malam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. Doakanlah diriku agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dan meringankan penderitaanku.”[4] Adakah pelajaran sesudah pelajaran ini? Adakah tangisan sesudah tangisan ini? Kecuali orang yang ditulis takdirnya menderita. Naudzubillah.

Hikmah : Wahai gadis muslimah! Mengapa engkau kehilangan kontrol diri, hanya karena mendengar bisikan hina dan pujian palsu dari pemuda yang melihat dirimu sebatas onggokan daging yang indah tanpa jiwa? Wahai wanita Islam, sebuah fitnah besar telah dirancang demi mengubah dirimu, bermain-main dengan tubuh dan kehormatanmu. Berlindunglah kepada Tuhanmu! Karena tidak ada yang dapat menyelamatkanmu kecuali Allah Ta’ala.

Kisah nyata ini adalah fakta besar. Betapa gadis-gadis muslimah di negeri-negeri Islam yang memegang tradisi tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan syar’i bisa terenggut kesuciannya oleh para pemuda yang hatinya keras, gelap dan busuk. Jika demikian, betapa mudahnya merampas kesucian gadis-gadis muslimah yang dengan sukarela, bahkan sebagian dengan dukungan orang tua, keluar rumah bersama pemuda pujaannya untuk bermalam minggu, nonton, belanja ke mall dan lain-lain.

 

========

  1. Kepercayaan mutlak yang diberikan oleh sebagian orang tua kepada anak-anaknya merupakan salah satu faktor penting yang membuat mereka menyelewengan dan terjerembab di dalam kubangan keburukan dan kerusakan.
  2. Tidak boleh berakad nikah dengan wanita hamil hingga dia melahirkan. Jika wanita itu adalah pezina, maka tidak boleh menikahi wanita pezina hingga dia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang benar. Begitu pula tidak boleh menikahkan wanita dengan laki-laki pezina hingga dia bertaubat nasuha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.” ( An-Nur: 3)
  3. Lihatlah betapa gadis ini hidup diatas hayalan.
  4. Wahmul Hub, hlm 24-27

 

Sumber: Khalid Abu Shalih (Waspadalah Putriku, Serigala Mengintaimu!)

– See more at: http://www.syahida.com/2015/06/19/3248/kisah-nyata-air-mata-kesedihan-dan-penyesalan/#sthash.zcZ4te8O.dpuf

 

Advertisements

20 Kiat Menaklukkan Hati Suami


Desy SetiyaniWahai  para istri, Anda harus tahu ridha suami adalah kunci kebahagiaan Anda di dunia dan akhirat. Seorang istri yang tidur sedangkan suaminya tidak ridha akan mendapatkan laknat dari malaikat hingga pagi tiba, seperti dijelaskan oleh Allah. Jika seorang suami mempunyai kewajiban memberikan kebahagiaan kepada Anda, dan untuk mencapai hal itu dia harus berupaya, bersusah payah, dan membanting tulang, maka Anda juga mempunyai kewajiban yang harus Anda kerjakan, kewajiban yang paling utama adalah membahagiakan suami, membuatnya ridha, meringankan beban penderitaannya, memaafkan kesalahannya, dan memberikan dukungan padanya.

Saya telah merumuskan 20 kiat untuk meraih hati suami Anda. Dengan 20 kiat ini, Anda dapat memberi pengertian pada suami dirinya adalah orang yang Anda cintai, orang yang Anda butuhkan, dan Anda beri kepercayaan untuk nahkodai perahu kehidupan menuju pulau ketentraman. 20 kiat tersebut adalah:

1. Ungkapkan kata-kata yang menunjukkan kepercayaan Anda pada suami, seperti: “Engkau adalah milikku”, “Aku tertarik dengan jalan pikiranmu”, “Ketika bersamanya aku selalu merasa aman”, dan lain sebagainya.

2. Kenakan pakaian yang disukai, berhiaslah, pakailah parfum, dan jangan sampai suami mencium aroma kurang sedap dari tubuh Anda.

3. Sambut kepulangan suami Anda dari tempat kerjanya dengan ceria. Jangan menyambut kedatangan suami dengan menceritakan semua permasalahan yang Anda temui seharian.

Berikan senyuman Anda pada suami yang seharian bekerja dan pulang untuk mendapatkan ketenangan jasmani dan ruhani. Seorang penyair bersenandung,

Sehari tak berjumpa denganmu terasa lama

Meski setahun kita bersama terasa singkat

4. Hormatilah suami Anda di depan keluarganya atau di depan orang lain.

5. Ucapkan terima kasih pada suami Anda atas segala yang telah dia lakukan untuk membahagiakan Anda. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tidak sudi melihat istri yang tidak berterima kasih kepada suaminya. Padahal sebenarnya dia sangat membutuhkan sang suami.” (HR. An-Nasa’i)

6.  Jika suami menghadapi masalah keuangan, jangan membebaninya dengan banyak permintaan. Bantulah dia ketika menghadapi masalah berat.

7.  Jangan menolak ketika suami mengajak tidur. Buat dirinya merasa Anda bahagia ketika bersama dengannya.

8. Hormatilah keluarga suami Anda, khususnya ibu mertua, dan sebutlah kebaikan-kebaikan mereka.

9. Nyatakan perasaan bangga Anda, pada suami di depan keluarga dan teman-temannya. Mintalah pendapat suami di depan mereka dan pujilah pendapatnya.

10. Akuilah maskulinitas suami dan ingatlah kata hikmah yang mengatakan, “Jadilah abdi suamimu, dia kan menjadi abdimu.”

11. Bila suami marah, lekaslah memohon keridhaannya.

12. Jangan pernah meragukan perkataannya.

13. Jangan sampai Anda membandingkan suami Anda dengan orang lain, meskipun hanya bergurau.

14. Jika Anda menginginkan sesuatu dari suami, carilah waktu dan tempat yang tepat.

15. Katakan pada suami dialah orang yang pertama dan terakhir dalam hidup Anda.

16. Tanamkan kewibawaan suami pada diri anak-anak. Sampaikan pada mereka ia adalah roda kehidupan keluarga.

17. Bersikap hemat. Karena suami menyukai istri yang pandai mengatur belanja keluarga tanpa bersikap boros.

18. Jika Allah memberikan karunia ilmu, harta, dan kepandaian kepada Anda, jangan merasa lebih dari suami, penuhi kehidupan suami dengan rasa cinta, penghargaan dan ketulusan.

19. Selalu bersikap jujur, karena suami tidak mencintai istri pembohong.

20. Jangan memotong perkataannya dan diamlah ketika dia menginginkan Anda diam.

-Senyuman lebih murah daripada tarif listrik dan tentu lebih bersinar-

Rehat

Bersikaplah manja dan berhiaslah. Jangan Anda mengira setelah akad nikah, suami telah menjadi milik Anda, sehingga Anda tidak perlu lagi berdandan dan menunjukkan kecantikan Anda. Mungkin suami merasa telah memiliki Anda dan tidak menuntut banyak hal dari Anda. Meski demikian, anda tetap harus tampil menarik di hadapan suami.

Jadilah peragawati di depannya, godalah dengan busana dan parfum Anda. Bahkan dengan surat cinta jika perlu. Gunakan celak mata demi suami Anda, kuasailah gerak-gerik manja dan menggemaskan. Ketahuilah, dalam semua itu terdapat pahala karena berdandan demi sang suami adalah sedekah. Jangan sekali-kali Anda ragu untuk menggoda suami Anda. Simaklah ungkapan seorang istri yang menggoda suaminya;

Kuucapkan selamat pagi

Pada suamiku di sore hari

Dia menganggapku bergurau

Kukatakan pada suamiku

Karena cerahnya wajahmu

Sore nampak seperti pagi

Istri lainnya menggoda suaminya saat melepas kepergian suami untuk bekerja dengan kalimat, “Bayangan wajahmu ada di mataku, namamu selalu kusebut dan langkahmu ada di hatiku. Engkau tak akan hilang dariku”.

-Hati seorang istri ibarat mutiara yang membutuhkan penyelam ulung untuk meraihnya.-

Pencerahan!

Seorang wanita bertanya kepada ‘Aisyah tentang cara bersolek. Sambil berseloroh, ‘Aisyah menjawab, “Jika engkau punya suami, dan engkau mampu mencukil kedua bola matamu dan meletakkannya di tempat yang lebih indah, maka lakukanlah.” [Syahida.com]

 Sumber : Kitab Teruntuk Sepasang Kekasih, Karim Asy-Sadzili 

– See more at: http://www.syahida.com/2015/03/10/2611/20-kiat-menaklukkan-hati-suami-anda/#sthash.D9UCZ4qQ.dpuf

BAGI PARA SUAMI DAN PARA ISTRI BACA HINGGA TUNTAS!!!! KALAU BERANI


Tari dan Heri“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.

Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.

Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja.

Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas.

Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.

Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.

Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.

Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah.

Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.

Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur….

“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.

“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.

Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu.

Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

Dalam batin, dia bergumam,
“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku, di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu?
Dengan alasan apa aku perlu marah padamu?
Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata.

Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla.

Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”

Tanpa terasa air mata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.

Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.

***

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.

Aminah, istri Amin, terperanjat
“Astaghfirullaah, sudah jam dua?”

Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.

Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.

“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.

Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku.
Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah azza wa jalla serta membahagiakanku.

“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah azza wa jalla yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah azza wa jalla. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota’ayun waj’alna lil muttaqina imamma [disingkat oleh WhatsApp]
Di copas dari grup WA Mu’amalah Syar’iyyah dengan sedikit perubahan

Apa Hukum Mempercantik Diri di Bulan Ramadhan ?


Eramuslim – Hukum menggunakan kosmetik kecantikan untuk mengundang ketertarikan kaum pria pada bulan Ramadhan masih menjadi perdebatan nyata dikalangan ulama hingga saat ini, dari yang menyatakan bahwa hal tersebut akan membatalkan puasa sampai ada sebagian lainnya berpendapat hanya akan mengurangi pahala puasa.

Akan tetapi apakah hukum sebenarnya menggunakan menggunakan kosmetik kecantikan pada bulan Ramadhan untuk menarik perhatian?

Dr. Shawki Abdel-Latif, Wakil pertama Menteri Wakaf Mesir, menyatakan bahwa penggunaan kosmetik kecantikan oleh kalangan perempuan di bulan puasa tidak membatalkan puasa mereka, akan tetapi akan mengurangi pahala puasa.

Dr. Shawki melanjutkan, “Puasa dalam arti sebenarnya adalah menahan nafsu perut dan syahwat selain menahan rasa amarah. Tidak akan membatalkan puasa mereka yang tidak memasukan sesuatu ke dalam mulut ataupun lubang kemaluan (Qubul dan Dubur).”

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang agung, hendaklah setiap Muslimah menjauhkan diri dari hal-hal kecil yang dapat menimbulkan syahwat di kala puasa, dan berfokus hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah semata,” ujar Dr. Shawki. (Dostor/Ram)

Cara Menghibur Suami


“.. Agar kamu merasa tentram kepadanya.” (Ar-Ruum: 21).

Di dalam ayat di atas, terkandung isyarat bahwa wanita harus menjadi pelabuhan ketentraman, kedamaian dan rasa aman bagi kaum laki-laki. Ini merupakan tugas fitrah bagi wanita dalam kehidupan yang dipenuhi oleh berbagai kesulitan.

Ummul Mukminin, Khadijah ra. adalah teladan nomor satu dalam masalah ini. Pada saat Rasulullah saw. mengalami ketegangan, ia meringankan beban perasaan beliau. Dia menyejukkan hati dan menghibur beliau seraya berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinamu, karena sungguh engkau telah menyambung silaturrahmi, menanggung orang yang kesulitan, menutup keperluan orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” Ali ra. pun turut menyumbangkan nasehat kepada pasangan suami istri, “Hiburlah hati dari waktu ke waktu yang lain, sebab jika hati itu dibuat menjadi benci, maka ia akan menjadi buta.”

Sesungguhnya inilah yang diinginkan oleh suami mana pun; yaitu mendapatkan ketenangan dan penghibur hati dari istrinya, sehingga mendapatkan dalam keluarganya ‘rumahku surgaku‘. Syaikh Abdul Halim Hamid mengatakan, bahwa sesungguhnya Allah menjadikan istri sebagai tempat berteduh, agar suami tenang dan tenteram di haribaannya. Cinta yang ditunjukkan kepada suami dengan hati nan lembut penuh kasih sayang akan segera melenyapkan segala perasaan kusut, penat dan letih, setelah bergulat dengan gelombang kehidupan yang keras. Setiap orang memang ingin mempunyai teman yang bersedia mendengar dan berbagi rasa dengannya. Terma-suk suami kita. Wajarlah jika suami menghendaki keluarga adalah tempat untuk menghibur hatinya, melegakan hatinya. Demikian itu akan didapat jika seorang wanita shalihah memahami hal tersebut. “Sebaliknya, adalah sangat dicela istri-istri yang tidak pandai menghibur suami. Rasulullah saw. bersabda, “Siapapun wanita yang cemberut di hadapan suaminya, maka ia akan dimurkai Allah sampai ia dapat menimbulkan senyuman suaminya dan meminta ridhanya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Siapapun wanita yang durhaka di hadapan suaminya, melainkan ia akan bangkit dari kuburnya dengan mukanya yang berubah menjadi hitam.”

Contoh Kisah Istri dalam Menghibur Suami

Ketika putra Abu Thalhah ra. wafat, maka berkata Ummu Sulaim rah.a kepada keluarganya: “Jangan kalian memberitahu Abu Thalhah tentang anaknya, hingga aku sendiri yang menceritakannya.” Datanglah Abu Thalhah pada saat berbuka puasa. Lalu ia berbuka. Kemudian Ummu Sulaim berdandan dengan sangat cantik, yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Tertariklah Abu Thalhah dan terjadilah hubungan suami istri pada malam itu. Ketika istrinya merasa bahwa Abu Thalhah telah puas, ia berkata, “Wahai Abu Thalhah, apa pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan barang kepada kaum yang lain, ketika kaum tersebut ingin meminta barangnya kembali, adakah yang dipinjami berhak menghalangi?” Jawab Abu Thalhah ra., ‘Tidak.” Ummu Sulaim ra. berkata, “Maka mohonlah pahala dari Allah untuk anakmu.” Maka marahlah Abu Thalhah seraya berkata, “Apakah engkau membiarkanku, sehingga aku sudah kotor (junub) baru engkau kabarkan tentang anakku?” Abu Thalhah segera menghadap Nabi saw. memberitahukan apa yang telah terjadi. Nabi saw. bersabda, “Semoga Allah memberkati malam kalian berdua.” Maka hamillah Ummu Sulaim. Kemudian ia melahirkan bayinya. Ketika pagi tiba, bayi itu dibawa oleh Ummu Sulaim kepada Nabi saw. dan Abu Thalhah menitipinya beberapa buah kurma. Lalu Nabi saw. mengambil kurma itu dan mengunyahnya, setelah itu kunyahan kurma dari mulut beliau dimasukkan ke dalam mulut bayi dengan dioleskan ke seluruh rongganya lantas memberinya nama Abdullah.” (Muttafaqun Alaih)

Fatimah binti Abdul Malik, istri khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada suatu saat ia masuk ke dalam kamarnya dan mendapati suaminya sedang duduk di atas tikar shalatnya sambil menangis. Ia bertanya kepada suaminya, “Mengapa engkau menangis seperti ini?” Jawabnya, “Oh malangnya wahai Fatimah, aku diberi tugas mengurus umat seperti ini. Yang senantiasa menjadi pikiranku adalah nasib si miskin yang kelaparan, orang yang merintih kesakitan, orang yang terasing di negeri ini, orang tawanan, orang tua renta, janda yang sendirian, orang yang mempunyai tanggungan keluarga yang besar dengan penghasilan yang kecil dan orang yang senasib dengan mereka di seluruh pelosok negeri ini, baik di Timur maupun di Barat, Utara maupun Selatan. Aku tahu bahwa Allah akan meminta pertanggung-jawaban dariku pada hari Kiamat, sedangkan pembela.mereka yang menjadi lawanku kelak adalah Rasulullah saw.. Aku betul-betul merasa takut tidak dapat mengemukakan jawaban di hadapannya, itulah sebabnya aku menangis…..” Pada saat itulah Fatimah .menghibur suaminya dengan penuh kasih sayang, walaupun sang suami banyak menghabiskan waktunya untuk menunaikan kepentingan agama dan umat dibandingkan untuk mengurus dirinya sendiri.

Etika mengingatkan suami

Rasulullah saw. bersabda, “Rahmat Allah ke atas wanita yang bangun malam dan shalat, lalu membangunkan suaminya dan ikut shalat. Apabila suaminya enggan, maka ia percikkan air di mukanya.” (Ahmad, Abu Dawud) .

Allah berfirman, Dan orang-orang beriman, lelaki dan wanita, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah serta Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (At-Taubah : 71) .

Urusan saling mengingatkan adalah tugas seluruh muslimin dan muslimat, siapapun mereka, lebih-lebih pasangan suami istri. Syaikh Abdul Halim Hamid menulis bahwa salah satu kerja sama yang sangat penting yang dianjurkan oleh Islam kepada suami-istri muslim adalah kerja sama dalam jihad fi sabilillah, dakwah dan tabligh. Seorang istri juga ikut memberikan masukan agama kepada suaminya. Sebagaimana Hafsah rha. yang memberikan masukan kepada ayahnya, Amirul Mukminin Umar ra. tentang beberapa lama batas kesabaran seorang wanita ketika ditinggal oleh suaminya untuk berjihad di jalan Allah. Kita sudah mengetahui ceritanya. Juga salah satu bentuk kerja sama yang indah adalah bila seorang istri dapat mengingatkan kembali bahwa pertolongan dan dukungan Allah selalu bersamanya.

Juga sebagaimana dalam perjanjian Hudaibiyah, Ummu Salamah ra. ikut memberikan pendapatnya kepada suaminya yaitu Rasulullah saw. demi kemaslahatan kaum muslimin. Sebaliknya, jangan menjadi seperti istri Abu Lahab la’natullah alaiha yang ikut memberikan usulan-usulan kepada suaminya dalam memusuhi Islam. Semoga Allah swt. merahmati pasangan yang senantiasa bekerja sama saling mengingatkan dalam urusan agama.

Jika usul istrinya baik dan diamalkan oleh suami, maka pahala kebaikan tersebut akan mengalir kepadanya. Sebaliknya, jika usul tersebut buruk untuk agama dan diamalkan oleh suami, maka dosanya pun akan ditanggung berdua.

Beliau juga mensifati istri para sahabat ra., yaitu dengan ungkapan: Mereka selalu mendorong suaminya untuk keluar di jalan Allah menyambut seruan jihad. Sang istri melepaskannya sambil memohon kepada Allah swt. agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid, sekalipun pada waktu malam pengantin, malam milik mereka berdua, yang paling indah, sebagaimana kisah Hanzhalah bin Abi Amir ra., sang syuhada yang dimandikan oleh para malaikat, karena ia berangkat ke medan pertempuran dalam keadaan junub.

Mereka, para istri sahabat, selalu mengangkat moral suami dan menyirnakan kekhawatiran dirinya dan anak-anaknya dengan menyebut sebuah ayat: “Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman.” “Allah adalah Pelindungku, Pelindungmu, dan Pelindung anak-anak kita dan kita tidak memiliki kekuasaan atas urusan kita. Allah telah menjaga saat-saat kepergianmu lebih ketat daripada saat-saat engkau ada. Maka bertawakallah kepada Allah. Jangan sibukkan benakmu memikirkan rezeki. Aku melihatmu sebagai tukang makan dan bukan sebagai Pemberi rezeki. Maka bila si tukang makan tiada, sang Pemberi rezeki akan tetap hidup.”

Jika suami keluar dari rumahnya, maka istrinya atau anak perempuannya berkata kepadanya, “Hati-hatilah terhadap usaha yang haram. Sesungguhnya kami sabar terhadap lapar dan kesulitan dan kami tidak sabar terhadap neraka.”

Suami istri adalah da’i Allah swt., keduanya bertanggung jawab atas kehidupan agama dalam sebuah rumah tangga khususnya dan umumnya di seluruh alam ini. Wanita shalihah senantiasa siap memperingatkan suami apabila ia lalai menafkahi istri dan keluarganya dengan nafkah agama, karena memberi nafkah agama kepada keluarga pun adalah kewajiban seorang kepala keluarga. Jika istri membiarkan kejelekan berkeliaran dalam rumah tangganya, maka berarti telah membiarkan penyakit menular dan berbahaya bertebaran di dalam rumah tangganya.

Suatu ketika Nabi saw. bertanya kepada Ali ra., “Bagaimanakah engkau mendapati pasanganmu?” Ali ra. menjawab, “Aku mendapati Fatimah sebagai pendorong yang terbaik dalam menyembah Allah.” Nabi saw. pun bertanya kepada Fatimah ra. tentang Ali, ia menjawab, “Dia adalah suami yang terbaik.

Dalam kitab Shifatush Shajwah, dinukilkan bahwa Abu Ja’far As-Sa’ih berkata, “Ada berita yang sampai kepada kami, bahwa ada seorang wanita yang selalu rajin mengerjakan shalat-shalat sunnah, berkata kepada suaminya, “Celaka engkau! Bangunlah, sampai kapan engkau tidur saja? sampai kapan engkau dalam keadaan lalai? Aku akan bersumpah demi engkau. Janganlah mencari penghasilan kecuali dengan cara yang halal. Dan aku akan bersumpah demi engkau, janganlah masuk neraka hanya karena diriku. Berbuat baiklah kepada ibumu, sambunglah silaturahmi, janganlah memutuskan tali persaudaraan dengan mereka, sehingga Allah akan memutuskan dengan dirimu.”

WALLAHU’ALAM http://moonerarea.blogspot.com