Cerita Tentang Kita


Diketik kala jam istirahat kantor Gedung Talavera Office Park, di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan

Ketika perkataan tak lagi melakukan pembenaran fakta alias “tabayyun”, rasanya sakit sekali menerima perlakuan yang tak mengenakan. Tak sedikit orang menghujat tanpa melihat itu akan menyakitkan atau tidak. Jalan yang ingin ku tuju terkadang berbelok dengan yang ingin aku tuju, tak sedikit aral yang harus aku terima dan hadapi. Aku ingin segera melepas masa lajangku, agar aku bisa hidup dengan penuh ibadah bersama orang terkasih, agar tak ada lagi hujatan negatif terhadapku, agar tak ada lagi bisik-bisik yang mengganggu telingaku. Aku belajar memperbaiki diri, akan tetapi tak sedikit orang melihat itu benar. Aku menabung agar secepatnya bisa mencapai pintu yang di ridhoi. Aku butuh semangat, bukan celaan yang memojokkan.

tak sedikitpun aku berani untuk memegang tangan pria, hanya saja omongan demi omongan tak mengenakan di telinga membuatku terganggu, aku terkesan buruk dimata mereka.

setiap berbicara dengannya, itupun aku sertakan keluargaku, dan memang kebanyakan dirumah dalam berdiskusi, tapi kenapa jadi negatif. ingin segera aku menyudahinya. menjalani kehidupan yang damai dengannya segera. kasihan dia, diperolok dengan nada mengejek, padahal dia begitu baik dan santun, dia pria tersantun yang pernah aku temui. dia begitu menghargai perempuan.

7 hari mengenalnya, pasca lebaran aku diajak bersilaturahmi ke rumahnya. dikenalkan dengan orang tuanya, neneknya, adik-adiknya, bahkan sepupunya. ada kesungguhan ketika memperkenalkanku di keluarganya. wanita manapun akan senang jika diperlakukan seperti itu.  Aku kehabisan akal untuk menjelaskan pada semua orang yang bertanya mengapa aku nyaman dengannya, bibirku kelu saat semua kalimat yang sudah kusiapkan, namun tiba-tiba gugup dan tak dapat berbicara apa-apa, karena yang ku tau, dia ada dan aku ingin ia yang menjadi bagian hidupku. Semoga Allah melindungi dia selalu.

aku beruntung bisa mengenalnya, aku berdo’a… dalam keadaan apapun aku dapat tersenyum dan menghiburnya, sebagaimana dia selalu menghiburku.

Permaisuri Hati Fahrie


Gambar

Mata Fahrie menatap buliran-buliran rintik hujan dibalik kaca jendela ruang bersalin tempat istrinya Farida dirawat setelah baru saja melahirkan 2 jam yang lalu. Samar-samar dia teringat sesuatu. Dia berusaha keras mengingat potongan-potongan memori yang dialami sepanjang perjalanan hidupnya.

Memori itu mulai tersusun dalam benak pikirannya. Mulai dia mengenal kekasihn
ya sebelum dengan Farida, hampir empat tahun dia merajut kisah asmara bersamanya, tinggal satu langkah lagi mereka memasuki jenjang pernikahan. Tapi sayang mereka tidak berjodoh, tak tahu apa sebabnya kekasih Fahrie meninggalkanya begitu saja dan menikah dengan lelaki lain.

Sejak itu Fahrie patah hati, dia mulai mengenal dunia yang lain sebagai pelampiasannya. Hidupnya berubah sangat drastis, dan sebagai pelampiasan atas kekesalan pada nasibnya, dia suka mempermainkan hati wanita yang dia kehendaki. Beberapa wanita bertekuk lutut terhadap rayuannya.

Dan setelah dia mendapatkannya, lalu dia tinggalkan begitu saja. Saat itu hidupnya kacau dari satu wanita ke wanita yang lainya, dan rata-rata mereka cantik secara fisiknya.

Hingga suatu hari dia menemukan titik balik jalan kearah yang benar setelah berjumpa dengan seseorang yang bisa menuntun jalan hidupnya, dia seorang mantan preman yang telah tobat dan menjadi seorang ustad. Kisah hidupnya lebih parah dari Fahrie, kemudian mereka berteman dan sejak itu Fahrie mulai belajar sedikit demi sedikit tentang agama darinya.

Alhamdulillah Fahrie diberi petunjuk sama Allah melalui dia, Ustad Zulkarnain namanya. Kemudia Fahrie bertemu dengan teman kecilnya yaitu Farida. Mereka saling mengenal karena mereka bertetangga. Dan juga sejak kecil mereka sering main bersama.

Fahrie jatuh cinta padanya ketika Farida umur 25 tahun dan Fahrie umur 30 tahun, dan gayung pun bersambut, Farida juga mencintainya. Tak terbayang oleh mereka kalau mereka berjodoh dan menjadi kekasih hati terajut oleh untaian tali pernikahan.

Jujur Fahrie mengakui Farida tidak terlalu cantik, juga bukan keturunan orang berpangkat, bangsawan atau pun ningrat. Dia tidak perduli, raga yang terbalut kain-kain penutup aurat dan jiwa yang terpaut akherat itu yang dia inginkan, terlebih terpoles ilmu syar’i. Maka tekadnya pun bulat untuk meminang Farida saat itu.

Maka keinginan Fahrie, ia sampaikan pada kedua orang tuanya. Sempat kedua orang tua Fahrie tidak merestui hubungan mereka. Faktor klise yang mendasarinya. Karena orang tua Fahrie tergolong orang berada, sedangkan orang tua Farida orang biasa saja.

Fahrie tak patah semangat dia tetap berusaha memberi pengertian kepada kedua orang tuanya. Dan akhirnya hati kedua orang tua Fahrie pun luluh, karena kesederhanaan yang dimiliki Farida.

Hari bahagia yang ditunggu-tunggu pun datang, pernikahan sederhana digelar di rumah Farida. Terbitlah kebahagian yang mereka tunggu menyelimuti sanubari. Telah tiba saatnya biduk rumah tangga yang harus berlayar di samudra kehidupan terhempas sudah karang-karang penantian yang bertengger di taman hati mereka.

Dan malam yang penuh kebahagian, masih terbayang dipelupuk mata Fahrie, ketika dia menatap wajah Farida, matanya fokus memandang bola mata bening milik Farida dan sang pemilik pun membalasnya dengan senyuman. Beberapa detik mereka merasakan getaran yang sama yang berkecamuk didalam hati. Dan buliran-buliran air mata haru pun jatuh membasahi kedua pipi mereka.

Semenjak menikah hingga saat ini mereka memutuskan untuk hidup mandiri, dan memulai biduk rumah tangganya dari nol. Dengan restu orang tua, dan berbekal ketrampilan Fahrie sebagai seorang penulis, maka mereka memulai perjalanan rumah tangganya dengan kalimat Hamdalah, mereka hidup di kontrakan rumah yang ukurannya tidak terlalu besar, cuma ada ruang tamu, kamar tidur dengan sebuah ranjang usang dan beralaskan kasur tipis, disetiap detik perjalanan hidup mereka, dinikmati dengan penuh kebahagiaan

Walaupun penghasilan suaminya tergolong paspasan bahkan antara pemasukan dan pengeluaran tidak seimbang, mereka pun harus hidup hemat, mengikis keinginan karena tidak sanggup menggapainya. Benar-benar tak pernah melihat kristas bening yang menetes dari pelupuk mata Farida karena hal itu.

Dia wanita sederhana yang pintar, tak banyak bicara, kesederhanaan dan kedewasaan yang diperagakan justru mengusik hati Fahrie, tak bisa dia pungkiri dan tutupi, dia mencintai Farida. Tak terasa tetes bening air mata bak kristas menetes membasahi kedua pipinya. Diusapnya air mata itu dengan kedua tangannya.

“Abi… dimana anak kita?”
Tersentak Fahrie mendengarnya, dia tahu kalau seharian tadi Farida tidak makan karena kesakitan sejak kemarin dan ketika dia tawarkan sepotong roti Farida tidak mau karena rasa sakit yang diderita menyebabkan hilang nafsu makannya. Tapi ketika terbangun dari rasa letih, bukan rasa lapar yang didahulukannya, tapi buah hati yang ia tanyakan.

Bayi yang menjadi permata hati mereka lahir dengan selamat dan nampak sehat, membuat rasa lapar dan dahaganya hilang seketika. Dengan begitu perhatiannya, Fahrie menyuguhkan segelas air putih, dia berharap agar kemesraan yang terjalin dan barangkali letih yang diderita istrinya akan segera terkikis.

Sepotong roti yang Fahrie tawarkan tadi kepada istrinya telah habis ia makan, karena Farida tak nafsu makan tadi. Saat ini hari sudah malam, tidak ada toko atau warung yang menjual makan . Segelas air putih pun dia teguk perlahan tanpa ada keluhan atau tuntutan.

Setelah minum satu gelas air putih, Farida lemas tertidur, wajahnya pucat pasi. Fahrie terlihat sangat bingung, dibangunkan tubuh istrinya yang tidak berdaya, tetap saja tak terbangun, maka dia pun mulai panik, dipanggilnya bidan dan suster yang ada di rumah sakit itu, maka kepanikanpun terjadi di ruang kamar Farida, dia mengalami pendarahan setelah habis melahirkan, HBnya turun dan sangat rendah. Jika tak tertolong maka nyawanya terancam.

Kondisi Farida semakin parah, sudah 2 hari dia dalam kondisi tak sadarkan diri. Transfusi darah sudah dilakukan, dokter pun sudah berusaha menolongnya, tapi hasilnya belum maksimal. Kiranya Allah masih menguji umatnya, kini tubuhnya terbaring lemas tak berdaya, Fahrie sedikit pun tak beranjak duduk disamping tempat tidurnya, dia genggam tangan Farida dan berkata.”Dinda, satu pinta yang aku mohon kepada Allah disetiap sujud dan tarikan nafasku, ku mohon janganlah kau tinggalkan aku.”

Kembali air mata bening bak kristas jatuh di kedua pipinya dengan penuh kesedihan. Tak terasa air mata itu jatuh menelusuri lembah hidungnya kemudian tetesan terakhirnya jatuh di kening istrinya Farida.

Satu keajaiban walaupun Farida dalam kondisi koma hatinya bisa merasakan kesedihan yang sedang dialami suaminya Fahrie, kedua mata yang terpejam sejak 2 hari yang lalu kini mengeluarkan air mata yang bening penuh kesedihan. Fahrie melihat perubahan membaik pada kondisi Farida, dia senang.

“Dinda, bangunlah. Anak kita masih membutuhkan kita, mari kita merajut hari bersama. Kita masih punya cita cita, membuat permadani cinta bersama, untuk mewujudkan impian kita.”
Air mata haru Farida semakin deras meleleh di kedua pipinya, mendengar ucapan suaminya. Mulutnya terkunci rapat oleh kondisi kesehatannya, tapi hatinya tetap berbicara merasakan kesedihan yang ada.

Sudah satu minggu Fahrida terbaring lemas tak berdaya. Kemajuan akan perkembangan kesehatannya pun sangat lambat, dia hanya bisa menangis bila diajak bicara dan tangannya sedikit bergerak, tapi kesadarannya belum juga pulih. Disetiap sujud Fahrie, dikeheningan malam dia panjatkan doa-doa kepada Allah, untuk kesembuhan Farida istrinya.

Kondisi kesehatan Fahrie mulai melemah. Berat badannya sempat turun beberapa kilogram, dan saat ini dia sedang terserang virus influenza. Ada satu yang membuatnya tetap semangat yaitu perkembangan kesehatan bayinya, anaknya lahir dengan selamat dan sehat.

Tepat dihari yang kesepuluh, bak sejuknya tanah yang gersang yang kembali subur setelah dentuman hujan, bak cerahnya bunga mawar yang mulai merekah kelopak-kelopaknya, bak syaduhnya kicauan burung menyambut datangnya mentari pagi, begitulah kuncup bahagia dihati Fahrie.

Di pagi yang cerah, kiranya Allah telah mengabulkan doa-doa Fahrie yang selama ini dia panjatkan. Dia melihat senyum manis di wajah Farida, senyum manis itu datang kembali, Farida mulai siuman, setelah sepuluh hari tidak sadar.

Dan kini air mata bahagia mereka tumpahkan bersama, sujud syukur Fahrie persembahkan atas nama Allah yang telah memberinya kebahagian, yaitu anugrah yang terindah dalam hidupnya adalah istri dan anaknya, dalam hati dia menganggumi istrinya, engkaulah permaisuri hatiku.

Penulis: Salami Ami Malang: 24- Oktober- 2012

Cerpen Karangan: Salami Ami

Wanita Populer di Sepanjang Zaman : Siti Fatimah, Siti Khadijah, Siti Aisyah


Siti Khadijah RA

Siti Fatimah RA, namanya sering dicantumkan dalam undangan pernikahan bersama denagn Sayidina Ali RA….siapa sih yang gak kenal…..beliau adalah anak pemimpin ummat Islam, No 1 nya Ummat Islam yaitu Baginda Muhammad SAW. Coba lihat, seperti apa profilnya… berbeda dengan anak anak pejabat masa kini yang hidup dengan bergelimang harta, Siti Fatimah hidup miskin dan tidak pernah mengeluh atau bersusah hati denagn kemiskinannya itu…..memasak sendiri, mengambil air sendiri, tubuhnya yang mungil tidak menjadi halangan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga yang dilakukannya setiap hari…..

Sejak kecil Siti Fatimah sudah mendapat banyak didikan dan pengajaran dari Rasulullah. Beliau dibesarkan oleh kedua ayah ibunya dengan penuh kasih sayang ditengah tengah zaman jahiliyyah yang sulit utuk menerima keberadaan kaum hawa. Didikan yang tepat dari kedua bapak ibunya menjadikan beliau tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat, gigih dan tahan banting…. bayangkan, ketika baginda Rasulullah memulai perjalanan dakwah, otomatis keluarganya ikut mendapat cacian dan celaan dari seluruh kaum Quraisy, tapi beliau tetap sabar bahkan berusaha untuk membantu Baginda Rasulullah ketika sedang dihina.Ketika ibunya wafat, beliaulah yang menggantikan tugas ibunya menyediakan berbagai kebutuhan Ayahnya. Waktu itu rasulullah belum beristri lagi dan kakak kaka perempuannya semua sudah menikah.

Coba lihat juga siapa suaminya: Sayidina Ali adalah sahabat Rasulullah, orang pilihan, suka sekali berperang dan Allah dan Rasul menjadi tujuan hidupnya…..Hal ini membuat Siti Fatimah ini melalui hari hari setelah pernikahannya dengan kemiskinan, ditinggal suami , tidak ada makanan, kerjaan berat menumpuk…. dan itu semua dilakukannya tanpa rasa sedih dan murung….Mukanya tetap ceria, rajin bersedekah dan membantu orang lain tana pamrih…..hal yang dapat mengganggunya hanyalah jika ada orang yang menghina Allah dan Rasul saja….. Subhanallah….

Siti Khadijah binti Khuwailid… sudah tentu banyak sekali yang suka dan berangan angan ingin seperti Siti Khadijah RA ini… Beliau kaya, dari keturunan bangsawan, pandai, mandiri dan cantik. Semua bangsawan Quraisy antri ingin menikahinya, walaupun pada waktu itu usia beliau sudah mencapai 40 tahun…. (masih ok loh.)…tapi semua ditolaknya, ia memilih menikah denagn Pemuda berusia 20 tahun, Muhammad Al Amin, yang menjadi partner bisnisnya….Tapi cerita belum berakhir di sini… pernikahannya denagn Rasulullah SAW dilalui dengan sangat indah dan mereka dikaruniai 6 orang anak….

Sepintas mungkin banyak yang berfikir hidupnya sangat nyaman…. coba fikirkan kembali….. setelah menjadi wanita terpandang dan kaya raya, hidupnya menjadi miskin, banyak kaum quraisy yang menghinanya karena dituduh menyebarluaskan ajaran sesat….hari harinya yang dulu dilewati denagn kekayaan dan keegahan berubah menjadi kemiskinan dan kehinaan…. tapi beliau tetap sabar dan keyakinannya tidak berubah terhadap Allah dan Rasulnya.

Berat, sungguh berat hidup yang dilewatinya…. menjelang hari kematiannya beliau ikut bersama Rasulullah bermukim di kampung Bani Muthallib yang diboikot oelh penduduk Mekkah selama kurang lebih 3 tahun…hari hari tanpa makanan bahkan terpaksa makan rumput kering dilalui oleh seluruh pengikut Rasulullah, termasuk oleh Siti Khadijah. Di saman ini nampaknya tidak ada orang biasa yang mampu mengulang kembali kisah perjalanan hidup Siti Khadijah, gak ada yang sanggup….

Siti Aisyah RA… banyak juga nih yang pingin sepeeti beliau…istri muda, paling disayang oleh Rasulullah….coba lihat dulu dong…. seperti apa riwayat hidupnya….. umur 9 tahun sudah dijodohkan oleh bapaknya (dijodohkan? sekecil itu? …… waaaaw. yang lain mungkin masih main congklak.. tepatnya Siti Aisyah waktu itu memang masih suka main boneka…)… jodohnya pun bukan orang sembarangan… seorang pemimpin, usia kurang lebih 40 tahun yang menjadi sahabat dari ayahnya….(nikah sama temannya bapak saya???? haaaah…??)tapi ternyata beliau sangat berbahagia… tentu saja, jodohnya adalah manusia terbaik di muka bumi ini….tapi seperti apa jalan hidupnya… silahkan dilihat….

Beliau memang wanita yang cantik, pandai dan anak dari Sahabat Rasulullah….tapi Rasulullah istrinya banyak, semuanya hebat hebat….ada yang berasal dari anak raja, atau bekas istri raja, dan hampir semuanya masih disukai oleh kaum pria, bahkan yang paling tampan sekalipun di kalangan orang Arab….. Semua istri Rasulullah sangat mencintai baginda Rasulullah dan berharap menjadi yang paling dicintai oleh Rasulullah… jadi kalau kita bayangkan dengan fikiran kita sendiri, persaingannya sungguh ketat… apalagi kita tahu hidup ersama baginda Rasulullah bukanlah mudah, tidak seperti raja lain, hidup Rasulullah sangat sederhana, bahkan cenderung miskin papa…. istri istrinya bukan seperti permaisuri di zzaman jahiliyah dulu yang biusa denan enaknya main perintah, angkat alis dan angkat telunjuk dengan gaya hidup yang sangat mewah… rumah sederhana, makan sangat sederhana kadang tak ada…..semua istri Baginda rela menjalani gaya hidup seperti itu untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Allah dan Rasulnya….nah, tidak gampang kan menjadi seorang Siti Aisyah….?? 🙂

Surat Sayang Dari ALLAH SWT


Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun
hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur
kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin .

Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan
diri untuk pergi bekerja .
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU
tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk ………

Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama
lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU
Melihat engkau menggeerakkan kakimu. AKU berfikir
engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari
ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.

AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU
menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua
kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.

Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk
berbicara kepadaKU, itulah sebabnya mengapa engkau tidak
menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut
namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU
berikan, tetapi engkau tidak melakukannya …….
masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan
berbicara kepadaKU, meskipun saat engkau pulang
kerumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV,
engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya,
tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg
ditampilkan. Kembali AKU menanti dengan sabar saat
engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU ………

Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKU, kau sebut. Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.

AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar
terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap
hari AKU menantikan sepatah kata, do’a, pikiran atau syukur dari hatimu.

Keesokan harinya …… engkau bangun kembali dan
kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari
ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU
……..Tapi yang KU tunggu …….. tak kunjung tiba …… tak juga kau menyapaKU.

Subuh …….. Dzuhur ……. Ashyar .
Magrib ……… Isya dan Subuh kembali, kau masih mengacuhkan AKU …..
tak ada sepatah kata, tak ada seucap do’a, dan tak
ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU .

Apa salahKU padamu …… wahai UmmatKU?????
Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU berikan,
harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan, anak-anak yang
KUrahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat
kepadaKU .!!!!!!!

Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapa KU, memohon
perlindungan KU, bersujud menghadap KU …… Yang
selalu menyertaimu setiap saat .

Note: apakah kita memiliki cukup waktu untuk
mengirimkan surat ini kepada orang2
yang kita sayangi???
Untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun
yang kita terima hingga saat ini, datangnya hanya dari ALLAH semata

SUBHANALLAH !! Jasad KH.Abdullah 26 Tahun Dikubur Tetap UTUH !!! inilah Keajaiban ALLAH !!


KH.Abdullah (paling kiri) saat menuntut ilmu di Mekkah

Sebuah kejadian menggemparkan pada bulan Augustus 2009 sebagai pengingat buat kita semuanya— Tangerang Banten. Jasad seorang alim yang telah meninggal dan dikubur selama 26 tahun diketahui jasadnya masih utuh, Hal ini diketahui setelah proses penggalian pemindahan makam karena adanya pelebaran jalan.

TANGERANG – Keluarga dan anak KH Abdullah Mu’min di Jalan Garuda Pintu Air, RT 03/02 Kelurahan Jurumudi Baru, Kecamatan Benda, Kota Tangerang tidak habis pikir melihat jasad ayahnya masih terbaring utuh meski sudah terkubur selama 26 tahun.

“Saya tidak bisa berkata apa-apa saat itu dan hanya memuji kekuasaan Allah,” kata Ahmad Fathi, putra kelima almarhum KH Abdullah Mu’min.

Ahmad lalu menceritakan kejadian tersebut. Saat itu dirinya bersama warga sekitar harus memindahkan jenazah ayahnya yang telah meninggal sejak 1983. jenazahnya dikubur di Musholla An Najat, pinggir kali.

Pemindahan jenazah dilakukan karena lokasi tersebut terkena proyek pelebaran jalan yang akan mengarah ke Bandara Soekarno-Hatta. “Ayah lahir pada 1919 dan saat meninggal 1983, memang sengaja dikubur di mushola itu sesuai permintaanya sebelum meninggal,” ujar Ahmad ditemui okezone di pemakaman baru ayahnya yang tidak jauh dari mushola.

Menurutnya, saat diangkat dari liang lahat, tidak ada perubahan dari wajah ayahnya. Bahkan kain kafan yang membalutnya, yang terkena lumpur dan papannya juga masih utuh, tidak rusak.

Tidak hanya dirinya saja yang terkejut, warga sekitar juga merasakan hal yang sama. Bahkan ada warga yang meminta papan itu namun pihak keluarga melarangnya karena takut disalahgunakan. Terlebih masyarakat Indonesia sangat terbiasa dengan hal klenik.

“Tidak ada firasat atau apapun soal kejadian ini. Dan apa yang terjadi ini merupakan kekuasaan Allah dan kami tidak ingin membesar-besarkan kejadian ini,” ujarnya.

—080—

Menurut informasi, beliau semasa hidupnya membuka sekolah pengajian secara gratis. Menurut para ulama setempat Ini adalah hal yang istimewa, karena yang meninggal dengan kondisi seperti itu biasanya hanya terjadi pada orang-orang tertentu sebagai ahli syurga / mati Syahid.

Namun ahli forensik mengatakan bahwa hal ini mungkin saja terjadi kepada siapapun atas dasar faktor kimia, obat-obatan atau hal-hal lain yang dikonsumsi semasa hidupnya hingga menyebabkan pengawetan secara tidak disengaja.

Semoga ada hikmah yg bs kita ambil dari peristiwa ini.

Jasadnya tidak dimakan tanah, berita ini di siarkan pada trans tv dan detik tv semoga dapat jadi pelajaran bagi kita semua. Ustad ini selama 26 tahun meninggal tapi jasadnya tidak dimakan tanah, saksikan kesaksian orang2 yang hidup dimasanya, beliau mengajar ngaji tanpa minta bayaran.. semoga kita mau belajar dari semua ini.. dan bersegera untuk bertaubat memurnikan hati dan penyembahan kita semua.. amiiiieeeeeeen..

Subhanallaaaaaaaaaaaaah..

Youtube KEAJAIBAN JENAZAH USTAD YG AWET BERTAHUN-TAHUN..